
Alinda masih memikirkan siapa sosok manusia yang telah berbudi luhur mengirim makanan padanya. Tentu saja hal ini harus ia pikirkan sampai bertemu jawabannya. Makanan dan minuman itu belum ia sentuh sama sekali. Ia sungguh takut. Bukan takut dengan kesehatan atau kekhawatiran mengenai adanya racun di dalam makanan itu. Bukan! Alinda sama sekali tidak menaruh curiga atau suudzon pada orang yang telah mengirim makanan itu padanya. Ia hanya takut dan khawatir akan kehalalan makanan-makanan itu. Dari mana dan bagaimana caranya, ia sungguh tidak tahu.
"Orang yang kenal denganku di kampung ini hanya Bibi dan Paman," gumam Alinda seraya mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada dagunya.
Ya! Memang tak ada lagi orang yang kenal dekat dengannya selain paman dan bibinya. Para tetangga pun hanya sekadar kenal nama dan wujud, tidak jauh dan tidak lebih. Namun, jangan lupakan dua orang yang beberapa jam lalu mengetahui namanya. Ya, orang itu adalah Maher Sanjaya dan Zahrani.
"Oh tidak! Apa mungkin yang mengirim bingkisan itu...." Alinda sontak teringat pada Maher yang selalu antusias untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.
Drrrtt... Drrrtt... Drrrt...
Getar di ponsel membuat Alinda mengalihkan perhatian. Ia pun gegas menoleh pada benda pipih di sampingnya. Lalu dengan cepat pula menggeser icon kunci di layar ponselnya. Terlihat kini di beranda ponselnya, ada pesan whatsapp masuk dari nomor baru yang tidak dikenal. Sebentar! Setelah Alinda mengamati dengan jeli nomor yang tertera di beranda ponselnya itu, seketika dahinya mengerut. Itu adalah nomor yang beberapa saat lalu meneleponnya. Lantas, nomor siapakah itu?
"Nomor ini lagi. Ada apa sebenarnya? Siapa orang ini," gumam Alinda seraya membuka pesan itu.
[Hai, Ukhti. Bagaimana kabarmu malam ini? Semoga kaki ukhti lekas membaik, ya. Oh ya, tolong dinikmati ya makanan yang sudah aku kirim. Itu khusus dan spesial untuk ukhti. Semoga ukhti senang dan cepat sembuh, ya.]
Deg!
Seketika jantung Alinda berdetak kencang dan begitu syok saat membaca pesan dari nomor baru itu. Manik matanya membulat penuh dan wajahnya kini mulai tegang. Hanya sekali membaca saja, Alinda sudah dapat menebak jika orang yang menelepon dan mengirim pesan padanya itu tak lain dan tak bukan adalah Maher Sanjaya.
__ADS_1
"Astaghfirullah! Dari mana lelaki ini tahu nomorku?" ucap Alinda dengan perasaan tegang dan herannya.
Tentu saja Alinda sangat terkejut dan tak mengerti mengapa tiba-tiba Maher bisa mendapatkan nomor teleponnya. Padahal, ia sama sekali tidak mengobral nomor teleponnya itu. Lagi pula, antara dirinya dengan Maher hanya sebatas bertemu tanpa sengaja. Bukan teman ataupun saudara.
Panik dan tegang mulai menyerang wanita cantik pemilik mata indah itu. Jika Maher sudah berani menghubunginya seperti ini, maka itu artinya lelaki tampan putra juragan kaya itu akan terus mendekati bahkan mengganggunya. Alinda kini terus bertanya, apa sebenarnya tujuan Maher terus mengganggu dirinya.
[Kenapa tidak dibalas, ukhti? Sudah dimakan belum buahnya? Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan bilang sama Aa Maher, ya!]
Lagi-lagi Alinda dibuat kaget dan tegang saat Maher kembali mengirim pesan padanya. Kali ini lelaki tampan itu terang-terangan menyebutkan namanya. Hal yang membuat Alinda heran adalah, bagaimana Maher bisa tahu nomor teleponnya? Wanita cantik itu tentu tidak sadar jika tadi siang, diam-diam Maher merogoh tas miliknya lalu meraih ponsel di dalamnya.
"Ya Allah! Orang ini benar-benar membuatku pusing. Apa sebenarnya yang membuat dirinya sampai sejauh ini peduli padaku. Oh tidak! Aku tidak boleh kege'eran. Lelaki itu peduli atau hanya ingin menggangguku saja? Ah, entahlah!"
"Sebaiknya aku abaikan saja chat darinya. Mengenai makanan di kulkas, alhamdulilah itu sudah jelas sekarang. Mudah-mudahan dia mendapatkannya dengan cara halal," ucap Alinda seraya meletakkan ponselnya kembali.
Belum sampai satu menit, ponselnya kembali berdering. Itu artinya ada telepon masuk. Kembali, Alinda meraih benda pipih itu.
"Astaghfirullahaladzim. Kenapa malah kembali menelepon, sih!" desis Alinda sebal.
Alinda hanya memandangi layar ponselnya dan membiarkan Maher menunggu jawaban darinya. Tidak ada gunanya meladeni lelaki yang bukan siapa-siapa baginya. Lelaki yang akhir-akhir ini sering mengganggunya hingga detik ini pun masih mengganggu dirinya.
__ADS_1
Di sudut lain, Maher tampak menatap sebal pada layar ponselnya. Sejak tadi ia menunggu jawaban dari sosok wanita yang sedang ditelepon olehnya. Chat darinya pun dari tadi tidak dibalas-balas. Padahal, ia ingin sekali berkomunikasi dengan wanita berniqab itu.
"Argh! Kenapa tidak dijawab sih teleponnya!" gerutu Maher sebal.
Awalnya, Maher mengira jika Alinda akan membalas pesan dan menjawab telepon darinya. Namun, ternyata ia diabaikan oleh wanita pemilik mata indah itu. Bukan Maher namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Lelaki tampan itu adalah sosok manusia yang selalu semangat dan bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Tidak ada kata menyerah. Akan kutelepon lagi!" ucap Maher yang kemudian menelepon nomor yang ia beri nama 'Ukhti Cantik'.
Namun, sepertinya Alinda telah mematikan data seluler di ponselnya. Sebab, Maher hanya mendapatkan tulisan memanggil di layar ponselnya. Maka itu artinya Alinda sedang tidak aktif.
"Sialan! Dia malah menonaktifkan teleponnya!" desis Maher yang tampak semakin kesal.
Sementara itu di tempat lain, seorang lelaki tampan tampak sedang merenung di dalam kamar sembari menatap langit-langit kamar. Lelaki itu adalah Ustadz Destaqi, sejak tadi ia diselimuti oleh rasa bimbang dan bingungnya. Sang Umi terus mendesaknya untuk menghubungi Khanidah. Orang tuanya itu menginginkan dirinya untuk segera membicarakan perihal pernikahan antara dirinya dengan Khanidah. Namun, jauh dalam lubuk hatinya, ia sungguh masih ragu untuk melangkah lebih jauh lagi.
"Khanidah, aku tidak tahu apakah kamu sedia atau tidak menikah denganku. Aku hanya takut, pernikahan kita nanti tidak sesuai dengan apa yang diharapkan," gumam Ustadz Destaqi dengan tatapan beratnya.
Sebagai seorang putra sulung, Ustadz Destaqi tidak ingin memberikan contoh yang tidak baik pada adik-adiknya. Ia selalu menunjukkan bahwa seorang anak harus patuh dan berbakti pada kedua orang tua. Hal itupun yang membuatnya menyetujui perjodohan antara dirinya dengan Khanidah.
"Memang benar, soal cinta dan perasaan itu tidak perlu dipikirkan. Allah pasti akan memberi jalan bagi dua insan yang sudah halal. Aku sendiri sungguh ikhlas dan pasrah jika memang harus menikah dengan Khanidah. Toh, Khanidah bukan wanita yang buruk," ucap Ustadz Destaqi dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG...