Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 34


__ADS_3

Alinda tersenyum tipis saat sang Bibi menjawab dengan kode. Ya, ia sudah paham jika yang datang tadi adalah pengirim makanan yang setiap hari Alinda dapatkan. Walau setiap hari lelaki itu datang ke rumah Bi Herni, tetapi Alinda tak pernah menemui lelaki itu. Tentu saja ia sengaja menutup diri dan membiarkan Bu Herni yang menerima bingkisan itu.


"Alhamdulillah, dapat makanan lagi. Yang di kulkas saja masih penuh. Sekarang dapat lagi," ucap Bi Herni seraya membuka beberapa kantung plastik di hadapannya.


"Makanan dari mana, Bi? Banyak sekali," tanya Zahrani yang tampak heran.


"Dari—" Belum sampai Bi Herni menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Alinda menutup mulut Bibinya dengan tangan.


"Sssttt!" Alinda memberi kode agar Bi Herni tidak mengatakan apa pun pada Zahrani.


"Kenapa, Teh?" Zahrani tampak heran melihat sikap Alinda yang tiba-tiba terlihat gugup.


"Emh, tidak apa-apa, Zahra. Anu, lebih baik sekarang ini dimakan, ya. Tuh ada camilan sama minuman juga," ucap Alinda.


Bi Herni menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan memutar bola matanya. Padahal, ia hanya akan menjawab dari hamba Allah. Lagi pula, sampai saat ini pun dirinya tidak tahu siapa sosok manusia yang mengirim bingkisan pada keponakannya itu.


"Maa syaa Allah, terima kasih, Teh," ucap Zahrani.


"Iya, sama-sama," balas Alinda.


"Oh ya, gimana kaki Teh Alinda sekarang? Sudah membaik?" tanya Zahrani.


"Alhamdulillah sudah, Zahra. Setiap hari saya oleskan minyak dari Mak urut itu," jawab Alinda seraya membuka tutup botol minuman dingin dengan rasa teh madu.


"Bibi ke belakang sebentar ya," sela Bi Herni.


"Iya, Bi," jawab Alinda dan Zahrani secara bersamaan.


Alinda meneguk minuman dingin di tangannya. Kini, ia sudah tak ragu lagi untuk menikmati makanan yang Maher kirim untuknya. Untuk apa menolak rezeki dan membiarkan makanan membusuk tak termakan? Lebih baik nikmati dan syukuri atas apa yang telah diberi.

__ADS_1


"Untung saja waktu itu Teh Alin mau diurut sama Mak Armah. Coba kalau tidak, wallahu a'lam, ya." Zahrani kembali bicara setelah beberapa saat hening.


Alinda tersenyum. "Iya. Untung saja Zahra memaksa saya."


"Kalau tidak dipaksa, akan bahaya, Teh. Dan untungnya si Aa Maher pun bersedia bertanggung jawab," timpal Zahrani.


Alinda diam saat Zahrani membahas Maher. Sejujurnya, ia tak ingin membahas lelaki yang sudah membuat kakinya keseleo. Apa lagi saat ini mereka sedang berada di rumah Bi Herni. Khawatir Bibinya Alinda itu akan mendengar dan kaget. Bukan hanya kaget, mungkin akan marah pada Alinda yang tidak jujur sejak awal.


"Ssstt, mohon maaf, Zahra. Sebaiknya jangan bahas itu lagi, ya," ucap Alinda penuh penekanan.


Zahrani tampak melongo heran dan tak mengerti. Dilihat dari raut wajah Alinda, wanita bermata indah itu tampak tegang dan gugup. Tentu saja hal ini menggiring rasa penasaran Zahrani.


"Oh, iya Teh. Maaf," balas Zahrani, "aneh! Kenapa tiba-tiba wajahnya tegang? Apa Bi Herni belum tahu soal ini?" lanjutnya dalam hati.


Alinda sesekali menoleh ke belakang. Ia sungguh takut Bibinya itu akan mendengar pembicaraannya dengan Zahrani. Namun, sepertinya aman. Bi Herni tampak masih berkutat di dapur dan terlihat tidak mendengar apa yang barusan Zahrani ucapkan.


"Kalau gitu, Zahra teh pamit jalan lagi ya,Teh. Habis ini mau antarkan undangan lagi ke daerah Cibadak," ucap Zahrani seraya bangkit dari duduknya.


"Jauh sih, Teh. Dua jam lebih lah kalau pakai motor. Ini juga mau diantar sama Aa," jawab Zahrani.


"Oh, gitu. Ya sudah atuh, hati-hati ya, Zahra," ucap Alinda.


Zahrani mengangguk mengiyakan. Setelah ia pamit pada Alinda dan Bi Herni, muslimah cantik putri bungsu Abah Haji Muhajir itu pun lekas berlalu menunggangi kuda besinya. Ia akan diantar oleh Arafat yang tak lain adalah kakaknya sendiri.


Sementara Alinda kembali ke kamarnya. Begitu masuk, ia langsung melepas khimarnya lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Setiap hari ia lakukan seperti ini. Memang sedikit jenuh dan bosan. Namun, apa daya? Ia yang tak memiliki kegiatan khusus seperti bekerja atau pun yang lainnya, hanya bisa pasrah dan mengurung diri di rumah. Mungkin, esok hari ia akan kembali mengunjungi gubug yang entah masih bersih atau sudah kembali kumuh.


Di tempat lain, Ustadz Destaqi kini sedang mengantarkan undangan ke rumah calon mertuanya. Ia diantar oleh seorang santri putra. Sebenarnya ia sedikit malas melangkah ke rumah besar milik Pak Haji Anwar itu. Bukan karena ia benci atau marah. Akan tetapi, ia hanya malas jika harus membahas soal pernikahan. Ia tahu, mengapa Uminya menyuruh dirinya untuk mengantarkan undangan itu ke rumah Pak Haji Anwar, tentu saja agar dirinya bisa lebih dekat dengan keluarga itu.


"Jadi, haulnya satu minggu lagi ya, Taqi?" ucap Bu Hajah Anwar.

__ADS_1


Ustadz Destaqi mengangguk. "Iya, Bu Hajah."


"In syaa Allah kami pasti datang. Karena, alhamdulilah setiap tahun kami selalu hadir di acara haul almarhum Abah Musthofa," ucap Pak Haji Anwar.


"Mesti, dong. Khanidah juga pasti ikut. Bunda pasti akan mengajaknya," timpal Bu Hajah Anwar.


Ustadz Destaqi hanya manggut-manggut dan tersenyum tipis. Sejak tadi ia memang tidak melihat keberadaan Khanidah. Ia sendiri tak berani menanyakan keberadaan wanita cantik itu.


"Assalamu'alaikum," ucap seorang wanita yang tak lain adalah Khanidah.


"Waalaikumsalam." Ustadz Destaqi, Pak Haji Anwar serta istrinya menyahuti secara bersamaan.


Khanidah melirikkan matanya pada sosok lelaki yang duduk di hadapan Ayahnya. Tentu saja ia tidak tahu jika Ustadz Destaqi sedang berkunjung ke rumahnya. Ia sendiri baru saja pulang dari menghadiri kajian rutin di sebuah majelis.


"Kebetulan sekali kamu datang, Neng," ucap Bu Hajah Anwar.


Khanidah menyalami tangan kedua orang tuanya. Setelah itu, ia pun melirik lagi pada sosok lelaki yang tak lain adalah calon suaminya. Begitu ia sadar siapa lelaki itu, sontak saja manik matanya membulat penuh. Ia begitu terkejut dengan keberadaan Ustadz Destaqi.


"Ustadz Destaqi," gumam Khanidah dalam hati.


"Duduk, Neng. Untung saja Aa Taqi belum pulang," ucap Pak Haji Anwar seraya tersenyum simpul.


"Kalau jodoh mah pasti seperti ini, Yah," timpal Bu Hajah Anwar.


Khanidah dan Ustadz Destaqi hanya terdiam dan saling menunduk. Keduanya bahkan tidak menampakkan ekspresi atau isyarat apa pun. Seperti tidak terjalin ikatan dan rencana apa pun di antara keduanya.


"Aamiin. Pasti putri Ayah senang saat tiba di rumah, ada sosok calon pangeran yang akan menjadi teman hidupnya," goda Pak Haji Anwar.


Khanidah tampak melebarkan matanya. Jujur saja, ia tidak merasakan apa pun selain tegang dan malu. Ya, ia tak berani bicara apa pun di hadapan Ustadz Destaqi yang begitu berkharisma.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2