
Alinda masih saja menggeleng. Ia merasa jika memang dirinya baik-baik saja. Memang di bagian pergelangan kakinya itu sedikit terasa linu, tapi itu tidak masalah bagi dirinya yang terlalu kuat menahan sakit. Jangankan menahan sakit di bagian luar, menahan sakit di bagian dalam saja ia sangat kuat.
"Tidak, Teh. Saya benar-benar merasa baik-baik saja. Nanti akan saya beri obat herbal saja agar Allah beri kesembuhan," tolak Alinda dengan intonasi yang lembut.
Zahrani tampak menatap heran pada wanita muslimah pemakai baju syar'i dan kain penutup wajah bernama niqab itu. Padahal ia jelas melihat jika wanita itu begitu kesakitan saat pertama kali ia bantu untuk bangun berdiri. Tapi sekarang, ia malah bersikeras mengatakan baik-baik saja.
"Teteh serius? Saya cuma khawatir saja dengan kaki Teteh. Takutnya ada luka di bagian dalam. Takutnya urat atau tulang yang kena, itu kan bahaya, Teh." Zahrani kembali membujuk Alinda.
"Benar. Sudah mendingan sekarang kita ke puskesmas saja," timpal Maher.
"Tidak usah repot-repot. Saya benar-benar baik-baik saja," ucap Alinda seraya berusaha bangun dari tempatnya.
Zahrani tampak menatap heran dan kasihan pada Alinda. Ia pun bergegas membantu Alinda untuk bangun dari tempatnya. "Ayo saya bantu."
Alinda tersenyum. Ia sangat kagum pada kebaikan dan kehangatan wanita yang baru ia temui di hari itu. "Terima kasih, Teh." Bicara sambil menatap hangat. Kini ia sudah berdiri walau kakinya ia tahan agar tidak menapak dengan pas di tanah.
"Benar tidak apa-apa? Itu kakinya pasti sakit soalnya tadi masuk ke lubang, ukhti," ucap Maher yang tampak khawatir.
Alinda menggeleng, "In Syaa Allah tidak apa-apa. Kalau begitu saya mau melanjutkan perjalanan saya," jawabnya yang kemudian merapikan sedikit hijabnya yang berantakan.
"Memangnya Teteh mau ke mana? Oh ya, kita belum kenalan Teh. Kenalin, nama saya Zahrani," ucap Zahrani yang mengajak Alinda kenalan. Ia sendiri sangat penasaran pada wanita pemakai niqab itu.
Alinda tersenyum di balik niqabnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Yang jelas, ia tidak akan mengatakan ke mana ia akan pergi karena takut akan terus dibuntuti oleh Maher.
"Ke mana pun saya pergi, In Syaa Allah selalu ada Allah dalam hati saya." Alinda menjawab dengan suara yang lembut. "Alhamdulillah, dari tadi saya sudah mendengar siapa nama Teteh. Hehehe. Kalau saya...." Ia mendekatkan wajahnya pada Zahrani.
Zahrani tersenyum dan mengerti jika Alinda tidak ingin menyebutkan namanya di hadapan Maher. "Siapa nama Teteh? Silakan bisik-bisik saja."
__ADS_1
Maher tampak mengernyitkan alisnya dan benar-benar heran pada sosok wanita berniqab yang memiliki mata indah itu. Namun, sejak tadi ia begitu merasa sejuk dan tenang saat mendengar gadis itu bicara. Ia memandang gadis berniqab itu sebagai wanita yang terjaga.
"Luar biasa ini cewek. Masak ditanya mau ke mana kok jawabnya kayak gitu. Terus dia gak mau nyebutin namanya di hadapanku lagi. Ck, benar-benar gadis yang langka dan semakin bikin penasaran," celoteh Maher dalam hati.
Alinda sendiri sudah membisiki Zahrani. Ia tak ingin menyebutkan namanya di hadapan lelaki yang ia anggap orang nakal dan jahat karena dari kemarin membuntutinya terus. Khawatir hal itu akan membuat Maher semakin menjadi-jadi.
"Maa Syaa Allah, nama yang sangat indah, Teh," seru Zahrani yang berhasil membuat Maher penasaran dan tertarik ingin tahu siapa nama gadis berniqab itu.
"Siapa namanya, Rani?" tanya Maher penasaran.
Zahrani mendelikan matanya. "Zahra malas beritahu A Maher!"
"Kenapa? Beritahu aku dong, Rani!" paksa Maher.
Zahrani menggeleng, "Laa! Zahra tidak mau. A Maher mah manggil nama Zahra saja salah!" selorohnya kesal.
Zahrani menggeleng, "Zahra! Bukan Rani!" ujarnya penuh penegasan.
Maher memencengkan bibirnya dan memutar bola matanya santai. "Hei, aku panggil kamu Rani ya karena namamu itu Zahrani. Memang salah ya aku panggil kamu Rani? Kalau aku panggil kau Markonah, itu baru kau boleh marah dan tak terima. Sudah jelas namamu Rani! Astaga." Ia tampak menekan setiap ucapannya.
Zahrani menelan ludahnya kasar. Benar juga, namanya memang Zahrani, dan Maher memanggilnya Rani karena diambil dari ujung kata yaitu Rani. Ini tidak salah sih, tapi tetap saja membuat Zahrani tidak terima dan tidak suka dipanggil Rani. Sebab, tidak ada yang memanggilnya dengan panggilan Rani. Semua orang memanggilnya Neng Zahra atau terkadang Neng Ara.
"Itu ngasal! Sudah jelas Zahra ini panggilan hangatnya ya Zahra, bukan Rani! A Maher ini pelanggaran sudah mengganti nama orang sembarangan!" protes Zahrani yang tampak menekan setiap ucapannya.
Maher memutar bola matanya malas. "Ih, cerewet amat sih, Rani! Mau panggil Rani, Rano, atau Rana, itu urusan aku!"
Zahrani menatap kesal dan membusungkan dadanya. Sementara Alinda kini sudah hendak melangkahkan kakinya meninggalkan dua orang yang sedang berdebat itu. Namun, ternyata kakinya begitu terasa sakit ketika digerakkan. Hal itu membuat dirinya hampir saja kembali terjatuh.
__ADS_1
"Allah!" Alinda tampak menyeimbangkan dirinya agar tidak tumbang.
Sontak saja Maher yang berdiri di hadapan Zahrani langsung menangkap tubuh gadis berniqab itu. "Hei, are you oke?" Ia menatap cemas.
Alinda tampak terbelalak kaget dan langsung menepis tangan Maher dari tubuhnya. "Anda tidak berhak menyentuh saya."
"Maaf, aku tidak sengaja. Kulihat tadi kau hendak terjatuh," ucap Maher dengan tatapan cemasnya.
Alinda memalingkan wajahnya dan mengatur napasnya agar kembali normal. Kakinya kini semakin terasa sakit. Sepertinya ia memang akan sulit berjalan sendiri.
"Sepertinya kaki Teteh memang harus diobati, Teh. Ayo Zahra antar ke tukang urut. Tenang saja, tukang urutnya ambu-ambu, kok." Kembali Zahrani mengajak Alinda ke tukang urut.
"Ya, benar sekali. Kakimu itu tidak baik-baik saja, ukhti. Jangan dibiarkan seperti itu karena akan bahaya," timpal Maher.
Alinda menatap cemas pada kakinya. Ia sendiri kini merasa takut terjadi apa-apa pada kakinya itu jika memang tidak segera ditangani. Namun, ia sungguh tak ingin merepotkan Zahrani dan juga Maher.
"Sudah jangan banyak berpikir. Aku akan antar ukhti ke rumah Ambu Sarinah," ucap Maher penuh paksaan, "Rani, sini kupinjam motormu untuk mengantarkan ukhti ini ke rumah Ambu Sarinah," lanjutnya bicara pada Zahrani.
"Jangan kege'eran! Memang si Tetehnya mau tah diantar sama A Maher?" sindir Zahrani.
"Pasti maulah," jawab Maher penuh percaya diri, "ukhti, mau kan diantar pakai motor oleh Aa Maher yang tampan ini?" tanyanya pada Alinda.
Alinda terdiam sejenak dan menatap tajam pada Maher. Bola matanya yang hitam dan bulunya yang lentik serta lebat itu membuat Maher terpesona. Ia sendiri tidak tahu jika Maher begitu mengagumi dua mata indah miliknya.
"Tidak. Terima kasih," tolak Alinda tanpa basa-basi.
BERSAMBUNG....
__ADS_1