Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 36


__ADS_3

Hari ini Maher akan segera berangkat ke Jakarta. Lelaki tampan itu dengan terpaksa harus menghadiri undangan di ibu kota. Padahal, ia sudah menolak dan meminta agar papah atau mamahnya saja yang menghadiri acara tersebut. Namun, ternyata sang papah dengan sang mamah tak bisa dikalahkan. Mereka tetap meminta Maher yang menghadiri acara di Jakarta.


"Kalau sudah selesai, tidak apa-apa di Jakarta saja, Nak. Kamu kan bisa pantau usaha kita yang di sana. Sekalian bisa cuci mata lihat yang bening-bening," ucap Listia pada putra tunggalnya yang sudah siap-siap hendak berangkat ke Jakarta.


Maher tersenyum sinis dan menggeleng cepat. "Tidak akan! Maher akan langsung pulang begitu acara sudah selesai!"


Listia menatap heran pada putranya yang tiba-tiba bersikap tak seperti biasanya. Entah mengapa Listia sangat merasa ada yang berbeda dan mulai aneh dengan sikap sang putra. Biasanya, putra tunggalnya itu akan senang jika ia menyuruh untuk tetap tinggal di Jakarta. Bahkan, putra tunggalnya itu jarang sekali pulang ke kampung dan memilih untuk tetap di Jakarta dengan alasan tidak betah tinggal di desa yang tidak seramai kota Jakarta.


"Kenapa begitu, Maher? Bukankah kamu sangat senang tinggal di Jakarta? Sekarang kenapa malah seperti tidak betah tinggal di ibu kota? Lagi pula, bukankah kamu sendiri yang mau punya rumah di Jakarta serta usahanya? Aneh!" cecar Listia dengan berbagai pertandingannya.


Listia sangat penasaran dan heran dengan sikap putranya itu. Sebab, sudah satu bulan ini Maher berdiam diri di kampung. Padahal, sudah saatnya lelaki tampan itu kembali ke Jakarta. Karena, di Jakarta pun Maher memiliki pekerjaan. Setiap kali ia mengingatkan putranya itu, jawaban yang keluar dari mulut Maher pasti menolak dan mengatakan jika di Jakarta ada asisten pribadinya yang mengurus semuanya.


Maher tak menggubris pertanyaan Mamahnya. Ia yang sedang siap-siap pun kini sudah selesai memakai sepatunya. Hari ini ia akan berangkat sendiri menggunakan kuda besinya. Tentu saja ia memilih menggunakan sepeda motor agar lebih cepat dan bisa dengan mudah jika ingin menyalip kendaraan lainnya.


"Maher berangkat dulu, Mah. Bilang saja Papah, kebun bagian belakang itu jangan di apa-apakan, ya. Nanti akan Maher yang ngurus," ucap Maher yang kemudian mencium tangan Mamahnya lalu beralih pada kening sang Mamah.


"Tunggu dulu, Nak!" cegah Listia.

__ADS_1


"Ada apa lagi, Mah? Ini sudah jam tujuh. Jarak dari sini ke Jakarta tidaklah dekat, Mah," ujar Maher menegaskan.


Listia mengangguk. "Ya, Mamah tahu. Tapi ... kenapa tiba-tiba kamu berubah seperti ini, Nak? Bagaimana usaha yang di Jakarta jika tiba-tiba kamu ingin mengelola kebun di bagian belakang yang baru akan ditanami itu?" Kali ini ia menatap dalam dan berharap putranya akan memberikan jawaban yang memuaskan.


Maher menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. "Mah, soal usaha di Jakarta, itu sudah Maher titipkan pada Sandi. Dia sangat profesional dan sudah pasti amanah. Mamah tenang saja, ya. Pokoknya, Maher ingin mengelola kebun yang baru itu. Jika sudah tumbuh dan panen, Maher sendiri yang akan memasarkan ke setiap penjuru Nusantara."


Listia tak dapat lagi bertanya dan menyelidiki putranya itu. Kini, ia pun membiarkan sang putra berangkat ke Jakarta mengendarai kuda besi yang besar dan gagah itu. Setelah ini, ia akan membicarakan tentang putranya dengan sang suami yang saat ini sedang memantau kebun mereka.


Sementara itu, Maher kini sudah mengendarai motornya. Sebagai seorang putra tunggal juragan kaya, Maher sangat dihormati dan disegani oleh masyarakat. Terlebih oleh orang-orang yang haus akan materi. Karena, keluarga Maher setiap satu bulan sekali akan bagi-bagi hasil kebun mereka pada semua warga. Tak terkecuali pada keluarga Abah Haji Muhajir. Walaupun keluarga Maher sering cekcok dengan Abah Haji Muhajir, tapi kalau soal sedekah, mereka tidak melewatkan kiyai besar itu.


"Aku akan melewati rumah Alinda. Sudah lama sekali aku tidak melihat wanita bermata indah itu. Teleponku tak pernah dijawab, chatku pun tak pernah dibalas," gumam Maher di dalam hati.


Dua hari ini Alinda sudah kembali melakukan rutinitas seperti biasanya. Ia yang sudah sehat, kembali mengunjungi gubug dan menghabiskan waktu di sana sampai sore hari. Bahkan, kemarin ia sempat menginap di gubug itu. Membaca Al-Quran dan mengisi malam dengan ibadah kepada Allah. Walaupun gubug itu disemati gubug angker oleh masyarakat, tapi bagi Alinda, gubug itu adalah istana untuknya mendekatkan diri kepada Allah.


"Neng, Bibi berangkat ke kebun, ya. Bibi harus buru-buru soalnya sudah telat," ucap Bi Herni pada keponakannya yang tak lain adalah Alinda.


Alinda mengangguk. "Iya, Bi. Tapi Bibi sudah sarapan atau belum?"

__ADS_1


"Sudah, tadi makan pisang goreng satu sama kopi setengah gelas, Neng." Bi Herni menjawab seraya meraih tudung kepala yang terbuat dari anyaman bambu.


"Memang jam segini sudah mulai kerjanya, Bi? Padahal, ini masih pagi. Kasihan sekali Bibi sarapannya cuma pisang goreng satu," tanya Alinda dengan tatapan sendunya.


Bi Herni mengangguk seraya tersenyum. "Tidak apa-apa, Neng. Di sana juga nanti ada teman-teman Bibi yang bawa makanan." Ia pun kini memakai sepatu boot khusus berkebun.


"Bi, di kebun masih membutuhkan karyawan, tidak?" tanya Alinda dengan ekspresi seriusnya.


Bi Herni mengerutkan dahinya dan menatap heran pada keponakannya itu. "Kenapa Neng tanyakan ini?"


"Emh, sebenarnya ... Alin ingin mencari pekerjaan. Kalau di kebun milik juragan Sanjaya itu masih ada lowongan, maka Alin bersedia kerja di sana," ungkap Alinda yang berhasil membuat Bi Herni terperanjat kaget.


"Apa?" pekik Bi Herni dengan tatapan terkejutnya.


Tentu saja Bi Herni terkejut dengan keinginan keponakannya itu. Walaupun ia hidup sederhana dan terkadang sengsara, tapi ia dengan suaminya sungguh tidak pernah terpikirkan untuk menyuruh Alinda bekerja guna membantu keuangan mereka. Bagi Bi Herni dan Mang Agus, Alinda adalah seorang anak yang dititipkan oleh Allah pada mereka. Di samping itu juga, Alinda adalah seorang yatim piatu yang jelas tidak boleh didzolimi dan harus diberikan kasih sayang yang tulus dan ikhlas.


"Tolong ya, Bi. Tanyakan pada juragan Sanjaya. Kalau ada—" Belum sampai Alinda menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Bi Herni menyelanya.

__ADS_1


"Tidak! Bibi sama Mamang tidak akan pernah membiarkan Neng bekerja apa pun! Itu hanya akan membuat kami menyesal dan merasa bersalah!" ujar Bi Herni penuh penegasan. Setelah bicara demikian, ia pun bergegas melangkahkan kakinya meninggalkan Alinda yang masih mematung di tempat.


BERSAMBUNG...


__ADS_2