Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 39


__ADS_3

Abah Haji Muhajir tampak manggut-manggut tanda mengerti. Lelaki tua itu mendengarkan dengan serius keluhan putra sulungnya ini. Sejak awal terjadinya perjodohan yang disepakati oleh sang istri dengan istri sahabatnya itu, Abah Haji Muhajir memang sedikit tidak setuju dan menganggap semua itu terlalu cepat. Ia sendiri menginginkan putranya untuk tetap serius mengepakkan sayapnya di dunia barunya sebagai seorang putra sulung yang akan menjadi penerus pemimpin pondok pesantren miliknya itu.


"Sebelumnya, Abah ingin tahu, dari mana kamu tahu bahwa Khanidah tidak menginginkan perjodohan di antara kalian berdua?" tanya Abah Haji Muhajir dengan serius.


Untuk sesaat Ustadz Destaqi menarik napasnya dalam lalu membuangnya perlahan. "Dari sikap dan ekspresi wajah wanita itu, Abah."


Abah Haji Muhajir mengangguk paham. Ia pun menyunggingkan senyuman kecilnya. "Sebaiknya jangan suudzon dulu, Nak. Tapi, jika kamu selalu gelisah dengan hal ini, alangkah lebih baik bicarakan hal ini dengan Khanidah, Nak. Tanyakan saja apa yang sebenarnya wanita itu rasakan saat menerima perjodohan di antara kalian berdua. Abah sendiri memang tidak memaksakan perjodohan ini. Jika Allah memang menakdirkan kalian berdua menjadi pasangan suami istri, maka itu artinya Allah pasti akan memberikan jalan yang mulus menuju ikatan yang halal."


"Iya, Abah. Taqi sendiri tidak masalah dengan perjodohan ini. Umi pernah bilang, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya saat dua insan sering bertemu dan berbagi peluh. Tapi, melihat sikap Khanidah, membuat Taqi menjadi ragu. Jika saja Khanidah tidak menampakkan penolakannya di hadapan Taqi, mungkin keraguan dan kegelisahan itu tidak akan Taqi rasakan, Abah. Ya ... walaupun wanita itu sebenarnya memang menolak dan keberatan," ucap Ustadz Destaqi seraya menundukkan wajahnya dalam.


"Sudah tidak usah berkecil hati, Nak. Serahkan semuanya pada Allah. Urusan jodoh, sudah menjadi rahasia Allah. Kalaupun kalian berdua nantinya benar-benar berjodoh, itu artinya kalian harus menjalankan rumah tangga dengan baik dan sesuai tuntunan agama islam. Didiklah istrimu menuju surga. Jadilah pemimpin yang baik dan anti menyakiti," tutur Abah Haji Muhajir panjang lebar menasihati putra sulungnya itu.


Ustadz Destaqi manggut-manggut tanda mengerti. Dadanya terasa lega setelah ia menceritakan kegundahan hatinya. Tidak sia-sia mengadu pada sang Abah. Sebab, lelaki tua itu selalu memberikan solusi dan jalan terbaik.


"In syaa Allah, Abah. Taqi akan ingat pesan dan nasihat Abah. Menjadi suami itu bukanlah hal yang mudah. Tanggung jawabnya sungguh berat dan harus benar-benar menjadi pemimpin yang baik," balas Ustadz muda yang tampan itu.


Abah Haji Muhajir mengangguk lantas tersenyum. "Itulah sebabnya seorang lelaki harus banyak belajar dan membenahi diri. Sebelum menikah, seorang lelaki harus benar-benar siap dan mengumpulkan segala keberanian."


Ustadz Destaqi mengangguk paham. "Kalau begitu, lain kali Taqi akan bicara dengan Khanidah. Taqi akan bertanya mengenai perjodohan ini. Setidaknya Taqi mendapatkan jawaban agar tidak terus-terusan gelisah dan ragu seperti ini."

__ADS_1


"Ya, Nak. Kalian berdua pun harus musyawarah," balas Abah Haji Muhajir.


"Iya, Bah. Alhamdulillah, akhirnya Taqi benar-benar lega karena sudah mendapatkan solusi dari Abah. Terima kasih ya, Bah," ucap Ustadz Destaqi seraya tersenyum penuh kebahagiaan.


Abah Haji Muhajir mengangguk disertai senyuman hangatnya. "Alhamdulillah. Sama-sama, Nak. Itulah gunanya orang tua. Ya sudah, lebih baik sekarang siap-siap ngajar ngaji." Ia pun bergegas beranjak dari duduknya.


"Iya, Bah," jawab Ustadz Destaqi yang juga bangkit dari duduknya.


Setelah dirasa cukup, Abah Haji Muhajir pun bergegas keluar meninggalkan putranya. Sementara sang putra kini sedang siap-siap hendak mengajar ngaji. Sudah beberapa hari ini ia mengajar para santri tanpa bantuan sang Abah. Hal itu tentunya membuat Ustadz muda itu sedikit kewalahan karena belum terbiasa.


***


"Sepertinya aku harus membelikan oleh-oleh untuk Alinda. Tapi ... oleh-oleh apa, ya?" gumam Maher saat ia sudah keluar dari area gedung dan kini mengendarai kuda besinya di jalan raya yang tak luput dari kata macet. Namanya juga ibu kota, mustahil jika tidak macet.


Lelaki tampan itu pun sambil mengendarai sepeda motornya terus memikirkan oleh-oleh yang akan ia bawa untuk wanita berniqab yang telah membuatnya tertarik. Kali ini Maher ingin memberikan suatu barang yang indah dan manis. Namun, sampai saat ini lelaki tampan itu masih bingung dengan barang yang akan ia bawakan untuk Alinda. Sungguh tidak mungkin bukan jika ia membawakan patung Pancoran atau monumen Nasional. Yang ada, seluruh penduduk kota Jakarta akan membakar tubuhnya hidup-hidup.


"Aha! Sepertinya membawa bucket bunga mawar warna pink akan manis juga," ucap Maher saat manik matanya melihat sebuah toko bunga di pinggir jalan.


Tanpa pikir panjang, Maher pun bergegas menepikan sepeda motornya di depan toko bunga itu. Wanita memang identik dengan keindahan bunga. Jadi, Maher merasa jika sebuah bucket bunga mawar yang indah dan harum akan membuat Alinda senang dan berbunga-bunga.

__ADS_1


"Mbak, saya ingin bucket bunga mawar yang indah dan unik, ya. Kalau bisa, dengan gaya yang baru dan berbeda," ucap Maher pada seorang karyawan di toko bunga itu.


"Baik, Kak. Akan segera kami buatkan pesanan Anda," balas si karyawan.


Maher mengangguk. Akhirnya ia pun memilih duduk di kursi tunggu sambil mengedarkan pandangannya pada bunga-bunga yang begitu indah. "Aku melihat bunga ini, seperti melihat dirimu, Alinda." Ia bicara dalam hati. Senyumnya mengembang dengan sendirinya.


"Permisi, Kak. Bunga mawarnya mau warna apa? Apakah mau satu warna atau mau random? Dan, mau diberi nama atau tidak?" tanya si karyawan tadi.


"Emh, bunganya warna pink saja. Kalau namanya ... sepertinya boleh," jawab Maher.


"Baik. Silakan dicatat di sini, Kak," ucap si karyawan itu seraya memberikan secarik kertas serta penanya pada Maher.


Maher mengangguk. Ia pun segera meraih kertas dan pena itu. Sebelum menulis, bibirnya melengkung indah dan otaknya berputar mencari kata-kata indah untuk disematkan di bucket bunga itu. Setelah beberapa menit berpikir, ia pun sudah menemukan kata-kata yang cocok. Tak buang waktu lagi ia pun memberikan secarik kertas itu pada si karyawan.


"Pasti akan manis sekali," gumam Maher seraya menyandarkan kepalanya pada kepala kursi.


Sambil menunggu pesanan bunganya yang baru akan dibuat, Maher pun merogoh saku jaketnya lalu meraih sebuah benda pipih bernama handphone. Banyak chat masuk ke dalam ponselnya itu. Sejak tadi ia memang tidak memeriksa ponselnya. Mamah dan papahnya tak luput mengirim chat serta menelepon beberapa kali. Ia sendiri memang sengaja memasang mode senyap agar tidak terganggu oleh pesan dan telepon yang masuk.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2