
Tak terasa waktu kini sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Gadis cantik bermata Indah yang kini berada di gubug tampak sedang duduk di atas kursi dan di hadapan meja. Sebuah buku berada di atas meja. Sebuah pena pun ada di tangan kanannya. Selepas shalat isya, Alinda tak langsung memejamkan mata. Sebab, ia bukan tipe orang yang mudah tidur sore. Ia selalu ingin menikmati malam yang dihiasi bulan dan bintang.
Sembari menunggu kantuk, Alinda kini sedang menggerakkan tangannya, membawa pena hitam itu untuk menari di atas kertas putih. Suara jangkrik dan katak terdengar bersahutan bak irama musik romantis bagi sosok wanita cantik yang senang menyendiri itu. Ia sungguh merasa tenang dan nyaman berada di sebuah gubug yang sudah diberikan izin oleh Pak RT untuk ia tempati.
"Dear diary. Aku ingin mengucapkan syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan padaku. Betapa tenang hatiku berada di tempat ini. Diary, aku berharap, suatu saat nanti akan ada hikmah di balik semua ini. Hikmah di balik nyaman dan tenangnya aku berada di gubug ini. Aku yakin, Allah memberikan suatu perkara yang sudah pasti dicampuri dengan hikmah di dalamnya. Dan hal itu pun kuyakini dengan keberadaanku di gubug ini. Aku yakin, akan ada hikmah di balik semua ini. Untuk saat ini, aku hanya meminta pada Allah agar tidak diberikan rasa sedih yang tak berkesudahan. Semoga Allah mengijabah segala doa dan permohonanku. Aamiin Yaa Mujibassailin.
Tertanda: Alinda Kencana."
Uraian kata yang berasal dari hati terukir indah di atas kertas putih bersih itu. Alinda memang senang menumpahkan isi hatinya di dalam buku diary. Ketimbang cerita pada manusia, ia lebih suka bercerita kepada diary. Sebab, manusia adalah makhluk yang tak luput dari salah dan khilaf. Hal itu tidak mengurangi kemungkinan akan adanya sebuah pengkhianatan. Sudah banyak terjadi di dunia ini seseorang yang senang mengumbar aib orang lain. Tentu saja hal itu yang sangat Alinda jaga dan hindari. Selain bercerita dan mengadu di atas kertas putih, ia pun selalu senang bercerita dan mengadu pada Sang Maha Pencipta yaitu Allah azza wa jalla.
"Ya salam, sudah jam setengah sepuluh. Sepertinya aku sudah harus istirahat. Tidak baik juga bila begadangan. Tapi sebelum tidur, aku akan baca ayat suci Al-Quran terlebih dahulu," ucap Alinda saat ia menyudahi coretan penanya pada kertas.
Wanita cantik itu pun bergegas menutup buku lalu menyimpannya lagi ke dalam tas. Setelah itu, ia pun bergegas memakai hijabnya dan langsung mengambil wudhu. Begitu selesai, ia pun bergegas duduk iftiros di atas karpet seraya menghadap sebuah mushaf Al-Qur'an yang suci dan penuh kemuliaan.
"A'udzubillahi minassyaithooni rojiim. Bismillahirrahmanirrahim." Suara merdu dan indah itu mulai mengisi dan menghangatkan seisi ruangan.
Katak dan jangkrik seakan menikmati lantunan ayat suci Al-Quran yang keluar dari lisan Alinda. Wanita cantik itu dengan hikmat dan khusyuk tanpa mengharapkan pujian dari siapapun, membaca setiap ayat yang Allah turunkan pada para Nabi dan Rosul. Kemudian dibentuk menjadi uraian kalimat berbahasa Arab di dalam sebuah mushaf Al-Qur'an yang menjadi mukjizat Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
__ADS_1
Di tempat lain, seorang lelaki tampan putra sulung kiyai besar di desa itu tampak baru saja pulang dari menghadiri acara tahlilan hari ke tujuh di rumah shohibul musibah. Ustadz muda itu yang mengisi tausiah di sana. Sementara rumah shohibul musibah itu berada di kampung sebelah. Ia kini sedang mengendarai sepeda motornya, ditemani oleh seorang santri putra.
"Berekatnya dapat berapa bungkus, Sep?" tanya Ustadz Destaqi pada Asep yang tak lain adalah santrinya sendiri.
"Dapat ... delapan bungkus yang ukuran biasa. Yang ukuran besar dapat dua, A," jawab Asep yang berusaha tidak salah menghitung berekat.
"Alhamdulillah. Itu artinya kamu dan teman-temanmu kebagian berekatnya, Sep," ucap Ustadz Destaqi.
"Hehehe. Alhamdulillah, berkah terus santri mah ya Aa," balas Asep disertai cengengesnya.
Asep mengangguk paham. "Iya, A. Asep pasti serius menimba ilmu agar bisa menjadi manusia yang dimanusiakan oleh manusia lain."
Ustadz Destaqi tersenyum kecil. "Aamiin. Itu bagus, Sep. Karena, tampan saja tidak cukup untuk dimanusiakan oleh manusia lain."
"Iya, A."
Tak terasa Ustadz Destaqi dan Asep kini sudah berada di tengah-tengah kampung. Itu artinya mereka akan melewati sebuah jalan yang tak jauh dari gubug yang Alinda tempati. Suasana malam begitu sunyi. Para lelaki yang tugas ronda pun kini tengah asyik mengobrol sembari bermain catur di pos ronda. Saat Ustadz tampan itu melintas, semua orang menyapanya dengan sopan dan penuh hormat. Ia pun menanggapi sapaan mereka semua dengan ramah dan hangat.
__ADS_1
Roda dua pada sepeda motor itu terus berputar. Membawa Ustadz Destaqi dengan menyapa jalan aspal yang sedikit basah karena tadi sempat gerimis. Sayup-sayup pendengaran sang Ustadz menangkap suara wanita membaca ayat suci Al-Quran. Namun, ia tak tahu di mana asal suara itu. Selain para santri yang mondok di pesantren milik kedua orang tuanya, Ustadz tampan itu sangat jarang sekali mendengar suara orang mengaji di tengah-tengah perkampungan itu. Namun, saat ini ia benar-benar dibuat heran sekaligus kagum dengan keindahan suara sang wanita yang sedang membaca ayat suci Al-Quran itu.
"Maa syaa Allah. Sepertinya ada kemajuan di kampung kita, Sep," ucap Ustadz Destaqi seraya menghentikan laju motornya.
"Kemajuan apa, A?" tanya Asep tak mengerti.
"Itu, ada suara orang mengaji. Kau dengar tidak? Indah sekali suaranya," ucap Ustadz Destaqi yang terus memasang indera pendengarannya dengan baik.
"Subhanallah," gumam Asep sambil menikmati suara sang wanita yang begitu merdu dan menenangkan kalbu.
"Dari mana asal suara itu ya, Sep? Anak siapa itu yang membaca Al-Quran? Pandai sekali," ucap Ustadz Destaqi yang sepertinya tertarik dengan suara sang wanita. Buktinya, ia tak lekas menancap gas motornya kembali.
"Sepertinya tidak jauh dari sini, A. Kalau dipikir-pikir, di sekitaran sini hanya Pak Somad yang punya anak gadis. Tetangganya yang lain sepertinya tak ada yang punya anak gadis, A. Mungkin memang anaknya Pak Somad yang sedang membaca Al-Quran," tebak Asep menerka-nerka.
Ustadz Destaqi mengerutkan dahinya dan tetap menajamkan indera pendengarannya. "Sepertinya suara ini bukan berasal dari rumah Pak Somad, Sep. Tapi, sudahlah tidak usah dipikirkan. Barang kali ada saudara warga sini yang sedang berkunjung." Ia pun bergegas melajukan sepeda motornya kembali.
BERSAMBUNG...
__ADS_1