Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Kedatangan Maher Ke Gubug


__ADS_3

Maher terpaksa harus mengurungkan niatnya ke gubug angker untuk menemui Alinda. Sang Mamah benar-benar memaksanya agar turun dan cerita tentang rapat kemarin. Padahal, Maher sungguh tidak sabar ingin memberikan hadiah untuk Alinda.


"Rapatnya lancar, Mah. Pokoknya tenang saja. Hasil perkebunan kita pasti akan dipasarkan ke berbagai wilayah," ucap Maher memastikan.


Mamah Yulis mengangguk mantap seraya menatap kagum pada putranya. Sang Papah pun terlihat puas dengan cerita Maher. Ia begitu menaruh harapan besar pada putranya itu.


"Bagus, Maher. Papah harap kamu selalu pandai menjalankan bisnis kita," ucap sang juragan.


"Itu pasti, Pah. Maher harap, Papah dan Mamah akan menuruti segala keinginan Maher. Baik dari segi materi, maupun segi pilihan hati," ujar Maher penuh penegasan.


Mamah Yulis menatap penuh selidik. "Anak Mamah sedang jatuh cinta?"


Maher tersenyum tipis. "Rahasia."


"Mamah lihat ada buket di mobilmu. Wanita mana yang akan menerima buket itu?" tanya Mamah Yulis seraya menatap usil.


Maher tampak melebarkan kedua matanya. "Hah? Mamah lancang sekali."


"Kalau benar sedang jatuh cinta, cepat dapatkan wanita pilihan hatimu itu. Papah pasti akan mendukung dan merestui. Yang dia wanita baik-baik," timpal sang juragan.


Maher tersenyum penuh makna. Betapa senangnya ia karena telah mendapat dukungan dari kedua orang tuanya. Meskipun Maher belum tahu apa yang akan terjadi pada kisah cintanya, tapi Maher sangat senang karena kedua orang tuanya telah welcome pada keputusan hatinya.


Sementara itu di gubug, Alinda kini tidak sendiri. Gadis bercadar itu kedatangan tamu yang tak lain adalah Zahrani. Awalnya Zahrani merasa heran sekaligus ngeri saat tahu Alinda menempati gubug angker itu. Namun, saat Alinda mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja, akhirnya Zahrani pun memberanikan diri.


"Kenapa kamu mau menempati gubug ini, Teh Alin? Teteh tidak takut kah?" tanya Zahrani seraya sesekali mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"Ini tempat yang indah untuk tafakur dan tadabbur, Zahra," jawab Alinda singkat.


"Subhanallah. Teh Alin pasti wanita yang gemar ibadah," puji Zahrani.

__ADS_1


"Hanya Allah yang tahu, Zahra. Oh iya, kayaknya aku nanti mau hadir deh di acara haul itu," ucap Alinda.


"Itu harus, Teh. Zahra menunggumu di Pondok. Kalau bisa, datanglah lebih awal. Memangnya Teh Alin enggak mau kenalan sama umi dan abah Zahra? Mereka pasti senang bertemu denganmu," seru Zahrani penuh semangat.


Alinda tersenyum hangat. "In syaa Allah ya, Zahra. Bukan tidak mau kenal, tapi ... aku malu."


"Ih, enggak usah malu. Siapa tahu kita jadi keluarga," celetuk Zahrani.


"Assalamu'alaikum!" Terdengar suara seorang lelaki.


Sontak saja Alinda maupun Zahrani terperanjat kaget. Siapa yang datang? Tentu saja tidak ada yang tahu. Namun, saat mendengar suara sang lelaki, membuat Zahrani mengerutkan dahi dan tak mengerti.


"Wa'alaikumsalam." Alinda dengan Zahrani menyahuti. Meskipun tidak tahu siapa orangnya, tapi menjawab salam tetaplah menjadi kewajiban.


"Itu suara Aa Maher!" ucap Zahrani.


Alinda melebarkan kedua matanya. "Hah? benarkah?"


Gadis cantik putri kiyai itu kini bergegas melangkahkan kaki lalu membuka pintu. Benar saja, Maher berdiri di hadapannya saat ini. Buket bunga yang indah ada di tangan sang lelaki. Zahrani sampai keheranan karena Maher datang ke gubug itu sembari membawa buket bunga.


"Hei, Rani! Kenapa kamu yang ada di sini?" Maher menatap kaget sekaligus tak mengerti.


"Memang maunya Aa Maher, siapa?" tanya Zahrani.


Maher menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak terasa gatal. "Ukhti Alinda."


Zahrani melebarkan kedua matanya. "Ada urusan apa? Itu buket buat siapa?" Ia mulai kepo.


"Kepo amat kamu! Mana ukhti Alinda? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Maher seraya mengedarkan pandangannya ke bagian dalam gubug.

__ADS_1


Zahrani tampak menatap heran dan penuh pertanyaan. Maher adalah pria tampan yang tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis di desa itu. Kini, Zahrani merasa curiga jika Maher jatuh cinta pada Alinda.


"Ada di dalam. Tapi sepertinya beliau tidak akan senang atas kedatangan Aa Maher," ucap Zahrani seraya menatap murung.


"Sok tahu! Tolong panggilkan. Aku sangat merindukannya," pinta Maher.


Zahrani membuang napasnya kasar. "Baiklah. Tunggu di sini." Ia pun kini melangkahkan kakinya ke dalam.


Alinda sangat gusar sejak tadi. Ia benar-benar tidak tahu apa tujuan Maher datang ke sana. Namun, sedikit banyaknya, Alinda dapat mendengar pembicaraan Maher dengan Zahrani tadi.


"Teh Alin, Aa Maher ingin bertemu denganmu," ucap Zahrani.


"Astaghfirullah, untuk apa?" Alinda menatap heran.


"Dia membawa buket. Katanya rindu pada ukhti Alinda," jawab Zahrani seraya tersenyum usil.


"Ya Allah, Zahra ... saya enggak bisa temui dia." Alinda semakin resah.


"Teh Alin ... agaknya Aa Maher jatuh cinta," ucap Zahrani.


Sontak saja Alinda melebarkan kedua matanya. "Tidak mungkin. Beliau pasti hanya sedang iseng."


"Seandainya benar, apakah Teh Alin akan menerimanya?" tanya Zahrani penuh selidik.


Alinda tersenyum tipis dan menatap setengah tidak percaya pada Zahrani. "Untuk apa bahas hal yang tidak penting seperti ini, Zahra? Sudahlah, jangan punya pikiran aneh-aneh."


Zahrani tersenyum kecut. "Itu, Aa Maher sudah menunggu. Mungkin hanya ingin memberikan buket bunga itu pada Teh Alin."


Alinda terdiam. Jelas saja ia bingung harus berbuat apa. Menyuruh Zahrani untuk kembali menemui Maher, itu jelas tidak sopan. Bagaimanapun, Zahrani adalah putri seorang kiyai besar di desa itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2