Tafakur Cinta Wanita Bercadar

Tafakur Cinta Wanita Bercadar
Bab 25


__ADS_3

Di sudut lain, setelah beberapa kali dan berbagai cara dilakukan untuk membujuk Alinda, Zahrani dan Maher akhirnya berhasil meluluhkan hati wanita berniqab itu. Alinda pada akhirnya mau diajak ke tukang urut. Mengingat saat ini kondisi kakinya pun lumayan sakit, Alinda sungguh tidak ingin membuat sang paman dengan sang bibi cemas juga repot oleh dirinya. Alangkah lebih baik ia diurut dulu lalu baru pulang dengan kaki yang sudah diobati.


"Biar aku yang antar," ucap Maher.


"Tidak usah atuh, A. Zahra juga bisa bonceng si Teteh," tolak Zahrani.


"Atuh kamu susah nanti bonceng ukhti ini. Biar aku saja, lho. Ini kamu kendarai sepeda aku saja," ucap Maher tak mau kalah. Ia kini sudah turun dari sepedanya.


"Atuh nggak susah, Aa Maher. Sudah jangan banyak meminta deh. Jangan suka modus! Lagi pula, Teh Alinda juga pasti nggak bakalan mau," ujar Zahrani ngotot.


"Kata siapa? Dia pasti mau!" ucap Maher.


"Jangan kege'eran! Sudah sana bawa sepedanya. Dipikul saja tidak apa-apa," seloroh Zahrani seraya menghalangi Maher.


"Astoge. Kau ini bengal sekali, sih!" omel Maher kesal.


"Bodo. Weee!" balas Zahrani yang kemudian menjulurkan lidahnya.


"Ih, amit-amit deh!" rutuk Maher.


"Amit-amit, memangnya Zahra buruk rupa. Dasar, menyebalkan!" desis Zahrani sebal.


"Sudah, jangan bertengkar terus. Kalau kalian seperti ini terus, siapa yang akan bawa saya ke tukang urut?" tegur Alinda dengan suara yang lemah.


"Maaf, Teh. Dia yang memulai. Ya sudah, ayo naik ke motor, Teh. Biar Zahra yang antar," ucap Zahrani.


Alinda mengangguk. Dengan susah payah ia pun bergegas naik ke kuda besi milik Zahrani. Maher ingin membantu, namun Alinda sesegera mungkin menolak dan melarangnya. Ia tak ingin melakukan kontak fisik dengan lelaki itu.


"Ayo, A Maher. Itu tas punya Teh Alinda jangan lupa dipungut," ucap Zahrani.

__ADS_1


Maher memutar bola matanya malas dan berdecak sebal. "Ck, baiklah!"


Zahrani sudah mengendarai motornya. Sementara Maher kini tengah memunguti barang-barang milik wanita pemilik mata indah yang ia kagumi itu. Bukannya segera pergi menyusul Zahrani, ia malah asyik mencari sesuatu di dalam tas milik Alinda.


"Aha, ini dia ponselnya. Aku akan misscall nomorku agar nanti aku bisa hubungi dia," ucap Maher yang tampak bersorak ria.


Benar saja, ia menelepon nomornya sendiri menggunakan ponsel milik Alinda. Secara kebetulan, ponsel milik gadis berniqab itu tidak diberi kode atau pola. Sehingga hal itu memudahkan Maher untuk melakukan aksinya.


"Sebaiknya aku segera pergi menyusul mereka. Aku takut ada barangnya yang hilang. Nggak enak kan kalau nanti aku yang dituduh," ucap Maher yang kemudian bergegas pergi dari tempat itu.


Zahrani menepikan motornya di depan rumah Mak Armah si tukang urut. Dengan pelan Alinda turun dari motor milik wanita yang baru ia kenali. Suasana rumah Mak Armah terlihat sepi. Sepertinya sedang tidak kedatangan pasien.


"Assalamu'alaikum," ucap Zahrani di depan pintu. Sementara Alinda duduk di kursi kayu.


"Waalaikumsalam," sahut seorang wanita tua di dalam sana.


Maher terlihat baru saja tiba. Dengan cepat ia turun dari sepedanya. "Kasihan sekali. Sepertinya wanita ini benar-benar kesakitan." Ia bergumam dalam hati.


"Saya, Mak," jawab Alinda pelan.


"Allahu Akbar! Kok kayak ninja. Eh." Mak Armah tampak kaget saat melihat Alinda.


Alinda tersenyum simpul di balik niqabnya. Memang sudah sering ia mendapati ucapan itu. Seperti ninja lah, seperti perampok lah, seperti ******* lah. Namun, ia tidak akan pernah tersinggung atas semua ucapan yang dilontarkan padanya. Yang jelas, ia menggunakan niqab, tak lain dan tak bukan hanya ingin menutupi wajahnya dari tatapan lelaki yang bukan mahramnya.


"Mak, kalau bicara itu ya disaring dulu dong! Sudah tua kok pandai bikin orang lain sakit hati!" tegur Maher dengan tatapan tajamnya. Ia tak terima Alinda dikatai ninja.


Mak Armah menunduk dan mengangguk pelan. Ia tahu siapa Maher, si pemuda tampan putra juragan kaya di kampungnya. Siapa pun pasti akan tunduk pada keluarga Sanjaya. Kecuali satu kelurga, yaitu keluarga Abah Haji Muhajir.


"Maaf, Den. Mak sedikit kaget tadi," ucap Mak Armah dengan ekspresi ketakutan.

__ADS_1


"Jangan sama saya minta maafnya!" tegas Maher dengan sorot mata menyala-nyala.


Alinda mendongakkan wajahnya dan sekilas menatap wajah Maher yang tampak sangar. Lalu setelah itu ia menoleh pada Mak Armah si tukang urut. Terlihat jelas raut ketakutan dari wajah tua Mak Armah.


"Sudah tidak usah diperpanjang. Mak, tidak apa-apa, jangan dianggap, ya. Dan kamu," ucap Alinda dengan lembut. Namun, saat ia menatap wajah Maher, suaranya begitu dingin dan tajam.


Maher menoleh, seketika jantungnya kembali berdetak kencang saat ia menatap mata indah milik gadis berniqab itu. "Iya, ukhti?" Ia menjawab dengan lembut dan hangat.


"Cih! Bicara sama orang tua, kasar. Giliran bicara pada wanita muda, sok lembut. Dasar, cari sensasi!" cibir Zahrani dalam hati.


"Minta maaf pada Mak Armah. Gak pantas kamu bentak-bentak orang tua seperti itu! Lagi pula, aku sama sekali tidak mempermasalahkan apa yang Mak Armah ucapkan. Kamu jangan sok jadi pahlawan kesiangan," omel Alinda dengan tatapan tajamnya.


Maher tampak membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kaget pada Alinda yang dengan tegas memarahinya. Namun, apa yang Alinda ucapkan sungguh tidak membuatnya marah ataupun tak terima. Ia malah semakin tertarik pada sosok wanita pemilik mata indah itu. Begitu tegas dan berani meluruskan yang bengkok.


"Aduh, sudah tidak apa-apa, Neng. Memang Mak yang salah. Jadi, Mak yang minta maaf pada Neng. Den Maher teh nggak perlu minta maaf pada Mak," ucap Mak Armah yang buru-buru duduk di samping Alinda dan menangkap tangannya.


Maher tersenyum puas dan menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Memang bukan aku yang salah. Kamu ini, dibela kok malah menjatuhkan. Untung saja kamu itu can...." Ia tak berani melanjutkan ucapannya.


"Dasar holang haya!" cibir Zahrani seraya memutar bola matanya malas.


"Diam kamu! Lebih baik sekarang kamu pulang saja, Rani. Nanti orang tua kamu nyariin. Kamu kan anak kiyai," ucap Maher penuh penekanan.


"Idih, nggak ada hak buat Aa Maher ngusir Zahra dari sini. Ada juga Aa Maher yang pergi," seloroh Zahrani yang sedikit pun tak ada rasa takut pada putra juragan kaya di kampungnya itu.


"Enak saja kamu! Aku ke sini ada urusan. Ukhti ini aku yang tanggung jawab," tegas Maher tak mau kalah.


"Sssstt, bisa tidak kalian nggak usah ribut-ribut?" tegur Alinda seraya menutup kedua telinganya.


"Maaf, ukhti. Dia yang memulai," ucap Maher seraya menatap sinis pada Zahrani.

__ADS_1


"Ck, menyebalkan!" decak Zahrani sebal.


BERSAMBUNG...


__ADS_2