
Maher tersenyum samar sambil memandang wajahnya di pantulan cermin. Kejadian hari ini benar-benar membuat dirinya puas karena bisa berlama-lama dengan sosok wanita bercadar yang kini sudah ia ketahui nama dan juga alamat rumahnya. Tentu saja ia semakin bersorak dan semangat untuk terus mendekati Alinda. Apa lagi saat ini ia sudah memiliki nomor telepon Alinda. Sepertinya sesaat lagi ia akan meluncurkan aksinya.
Ini gila dan aneh. Sebelumnya, ia tak pernah mengalami hal gila seperti ini. Di mana saat ini ia begitu terngiang dan terkesan pada sosok wanita bercadar yang berhasil menarik perhatiannya. Ke mana pun wanita pemilik mata indah itu pergi, rasanya ia ingin selalu mengikuti wanita itu. Apakah ini benar-benar cinta? Atau hanya kekaguman semata? Entahlah. Maher sendiri masih bingung dengan sikapnya pada Alinda.
"Ternyata dia tinggal di rumah itu. Ini hal yang bagus. Aku sudah bisa menemui dirinya di rumah kecil itu," ucap Maher dengan tatapan puasnya.
Ya, walaupun Bi Herni adalah orang yang bekerja di kebun milik kedua orang tuanya, tapi ia sungguh tidak tahu tentang hal itu. Bahkan, ia pun tak tahu jika rumah yang ditempati oleh Alinda adalah rumahnya Bi Herni. Maher memang jarang sekali berbaur dengan masyarakat di sana. Kalaupun kenal, ya kenal saja. Jarang ia kenal sampai tahu ke rumah-rumahnya. Sebab, ia lebih sering berdiam diri di rumah atau tinggal di Jakarta.
"Sepertinya aku mesti mengirim sesuatu untuknya," ucap Maher kemudian. Ia pun bergegas keluar kamarnya. Mencari orang yang bisa ia perintah agar membeli sesuatu untuk Alinda.
Sementara itu di tempat lain, Alinda saat ini sedang duduk diam di kamarnya. Denyut di kakinya masih sedikit terasa. Namun, ia tetap berusaha untuk menahan sakit itu. Bi Herni pun selalu perhatian padanya.
"Minyak goreng teh sekarang mahal, Aa. Makanya Neng teh sekarang jarang bikin makanan yang digoreng-goreng. Dengar-dengar mah, telur, bawang merah bawang putih, dan cabe juga pada naik semua. Untung saja kita mah suka kecepretan dari kebunnya juragan Sanjaya. Jadi, tidak begitu sulit memikirkan bumbu-bumbu dan sayuran." Terdengar suara Bi Herni yang sedang berbincang dengan Mang Agus di ruang tamu depan kamar Alinda.
Alinda tampak mendengarkan setiap obrolan yang dibahas oleh Bibi dan Pamannya di sana. Bi Herni mengeluhkan harga minyak goreng yang tiba-tiba naik dan sempat langka. Perbincangan malam itu terdengar memilukan di telinga Alinda. Ia benar-benar merasa kasihan pada Bi Herni dan Mang Agus yang selalu mengeluhkan tentang keuangan.
"Sepertinya aku memang harus mencari pekerjaan untuk membantu Bi Herni dan Mang Agus. Aku juga tidak malu terus-terusan merepotkan mereka berdua," gumam Alinda.
Hidup di desa memang gampang-gampang susah. Gampangnya, walau tidak ada uang, tetap bisa makan enak. Hanya makan ikan asin, sambal dan lalapan pun sudah nikmat bagi orang-orang desa seperti Bi Herni dan Mang Agus. Namun, susahnya itu ketika sedang banyak pengeluaran tapi pemasukan tidak ada. Begitulah suka duka hidup di desa.
__ADS_1
Alinda yang merasa menumpang di rumah Bibi dan Pamannya, bersepakat untuk mencari sebuah pekerjaan yang halal. Apa pun itu, akan ia kerjakan demi membantu Paman dan Bibinya. Namun, sampai saat ini pun ia belum tahu pekerjaan apa yang akan ia lakukan. Sementara di desa tidak ada lowongan pekerjaan seperti di kota-kota.
"Tapi ... pekerjaan apa yang bisa aku lakukan?" gumam Alinda lagi.
Tok tok tok!
"Assalamu'alaikum, Neng Alin. Sudah tidur, belum?" Terdengar suara Bi Herni memanggil.
"Waalaikumsalam, belum, Bi. Masuk saja, Bi," jawab Alinda.
Bi Herni pun masuk. Terlihat di tangannya membawa bingkisan yang entah apa itu isinya. Ia pun duduk di samping keponakannya itu.
"Jujur? Maksud Bibi ... jujur soal apa?" tanya Alinda keheranan. Perasaannya mulai tidak enak. Ia takut Bibinya tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Bi Herni menatap serius pada Alinda yang terlihat keheranan. "Jujur sama Bibi, ya. Neng sudah punya kekasih di kampung ini?"
Deg!
Sontak saja Alinda membulatkan kedua bola matanya penuh dan menatap kaget pada Bibinya itu. Tentu saja ia tak mengerti mengapa Bibinya bisa sampai bertanya seperti itu padanya. Tunggu dulu! Apakah ada yang memfitnahnya? Atau mungkinkah ada seseorang yang tidak suka padanya lalu berkata yang tidak-tidak agar bibi dan pamannya membenci dirinya? Entahlah.
__ADS_1
"Ke–kekasih?" Alinda menatap tak mengerti pada Bibinya itu. "Kenapa Bibi bertanya seperti itu?"
Bi Herni membuang napasnya berat dan menoleh ke arah pintu. Di sana, sudah ada Mang Agus yang berdiri di ambang pintu. Sepertinya, ia pun penasaran dan ingin mendengar jawaban dari lisan Alinda.
"Jawab saja, Neng. Kami hanya ingin tahu," desak Mang Agus menyosor.
Alinda semakin dibuat bingung oleh Bibi dan Pamannya itu. Namun, tentu saja ia akan menjawab sejujur-jujurnya. "Alin tidak punya yang namanya kekasih di sini dan di mana pun!" Ia menjawab dengan tegas dan penuh tekanan.
Bi Herni dan Mang Agus tampak saling beradu pandang. Mereka berdua seperti sedang berinteraksi tanpa suara dan hanya melalui bathin. Sementara Alinda hanya diam setelah menjawab dengan jujur. Ia tak ingin memikirkan terlalu dalam apa yang ditanyakan oleh Bibinya itu. Kalaupun ada yang memfitnahnya, ia sungguh siap membuktikan bahwa dirinya tidak punya kekasih di desa itu.
"Neng, sekali lagi jawab yang jujur, ya. Bibi sama Mamang tidak akan marah, Neng. Kami sungguh sangat memaklumi jika benar Neng Alin sudah punya kekasih di sini. Sekarang kan Neng Alin teh sudah gadis atuh ya. Jadi ... kami sangat memaklumi itu," ucap Bi Herni yang kembali mendesak keponakannya.
Alinda mengerutkan dahinya dan menatap penuh tanda tanya. Sebenarnya apa yang membuat Bibinya begitu kekeuh menanyakan hal ini padanya? Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Begitu pikir Alinda.
"Astaghfirullahaladzim. Bibi kenapa bicara seperti itu? Sungguh, Bi! Alin tidak berbohong. Alin tidak punya kekasih di sini. Bibi tahu sendiri kan gimana Alin setiap harinya? Alin tidak punya siapa-siapa di sini selain Bibi sama Mamang! Teman pun baru punya satu dan baru bertemu tadi yaitu Zahrani," ujar Alinda yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Serius, Neng? Neng nggak sedang menyembunyikan apa pun dari kami, 'kan?" Kembali, Bi Herni mendesak.
Alinda menghempaskan napasnya kasar. "Serius, Bi! Lagi pula, Alin tidak pernah kepikiran yang namanya pacaran. Sebaiknya Bibi istighfar. Karena Bibi sudah bersikap seperti mendukung Alin untuk memiliki seorang kekasih. Padahal kan, dalam Islam itu tidak ada yang namanya pacaran. Pacaran itu hukumnya haram, Bi! Dosa!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...