
Alinda masih gusar dengan keberadaan Maher di luar. Jelas saja dia bingung dengan apa yang harus dilakukan. Sejauh ini, Maher bukanlah siapa-siapa baginya. Andai saja Maher adalah saudara atau bahkan sepupunya, pasti Alinda akan langsung ke luar untuk menemui Maher. Lantas, apa yang harus gadis muslimah itu lakukan sekarang? Di satu sisi, hatinya tidak tenang karena keberadaan Maher. Namun, di sisi lain dia sungguh ingin mengusir lelaki putra tunggal juragan itu dari sana.
"Teh Alin, kenapa malah bengong? Itu Aa Maher nungguin," tegur Zahrani yang telah berhasil membuyarkan lamunan Alinda.
Sontak saja Alinda mengerjap sejenak. "Ya salam. Adalah sebuah ide? Atau ... apakah kamu punya ilmu menghilang?" Ia menatap serius serta panik pada Zahrani.
Mendengar ucapan Alinda, membuat Zahrani tertawa terbahak-bahak. Meskipun dia adalah seorang putri kiyai besar, tapi ternyata karakternya sangat familiar dan setengah bar-bar. "Hahahaha!"
"Lho, kenapa malah ketawa?" Alinda menatap heran.
"Teh Alin ini ada-ada saja. Memangnya Zahra seorang penyihir? Hehe," kekeh Zahrani.
Alinda menggaruk pelipisnya yang tidak terasa gatal. "Zahra, sebenarnya saya takut."
"Teh Alin takut apa?" tanya Zahrani, "soal Aa Maher, biar Zahra yang hadapin," lanjutnya.
"Kamu serius?" tanya Alinda.
Tok tok tok!
Kembali terdengar ketukan pintu. Hal itu semakin membuat Alinda panik. Dia bahkan takut Maher nekat masuk.
"Allahu Akbar! Dia benar-benar tidak sabaran!" Zahrani menggerutu sebal. "Ayo, Teh! Sepertinya Teh Alin harus hadapin lelaki menyebalkan itu." Tangannya dengan cepat meraih tangan Alinda lalu menariknya paksa.
Alinda kaget dengan apa yang Zahrani lakukan, tapi dia sungguh tidak dapat berbuat apa-apa. Hingga saat ini dirinya pun sudah berada di hadapan Maher. Untung saja tadi dia sudah menyempatkan diri memakai penutup wajahnya.
Maher tersenyum sumringah saat melihat sang wanita pujaan. Seperti seekor lebah menemukan bunga mekar di taman. Begitulah kira-kira yang tejadi pada Maher saat ini.
"Subhanallah. Akhirnya—" Belum sampai Maher menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja Zahrani menyelanya.
__ADS_1
"Jangan banyak cingcong! Teh Alin nggak bisa lama-lama berdiri di sini. Katakan ada perlu apa?" kata Zahrani dengan sebuah tatapan tajam. Dia sudah seperti seorang pengawal bayaran.
"Heh, kenapa kamu yang sibuk? Aku ke sini bukan mau ngomong sama kamu, Rani! Aku mau ngomong sama Ukhti Alin!" ujar Maher setengah kesal. Zahrani menjadi pengganggu baginya.
"Apa yang Zahra katakan memang benar. Saya nggak bisa lama-lama berdiri di sini. Dan lagi pula, saya tidak bersedia menerima tamu tak diundang. Apalagi yang tidak membawa faedah," timpal Alinda yang kini membuka suara.
Bukan tidak tahu ilmu tentang menghormati tamu. Namun, Alinda merasa jika Maher bukanlah tamu yang tepat. Kedatangan Maher pasti tidak akan membawa manfaat.
Maher tidak bisa bicara aneh-aneh pada sosok wanita seperti Alinda. Dia cukup mengerti. "Baiklah. Maaf karena aku sudah mengganggu. Tapi ... aku datang ke sini hanya ingin memastikan bahwa Ukhti Alinda baik-baik saja. Oh ya, Ukhti masih ingat 'kan siapa aku? Emh, iya benar. Ini Aa Maher!"
Alinda mengerutkan kening. Sungguh tidak ada gunanya dia berada di hadapan Maher. Sementara Zahrani tampak tersenyum sinis dan meledek.
"Tidak ingat pun tidak akan menjadi masalah," sindir Zahrani.
"Diam kamu! Aku cuma mau dengar suara Ukhti Alinda," omel Maher.
"Oh gitu ya! Tapi sayang sekali Ukhti Alinda sangat malas mengeluarkan suaranya untuk Aa Maher," balas Zahrani, "hei, Aa Maher! Sekarang kamu boleh ngomong sesuka hatimu padaku. Tentang ucapan Aa Maher tadi ... aku pegang dan simpan dalam otakku. Hingga sampai saat nanti Aa Maher pasti akan menelan ludah sendiri!"
"Jangan sangkut pautkan akhlak dan sikapku dengan gelar orang tuaku! Meskipun aku terlahir dari kedua orang tua yang alim, tapi Aa Maher harus tahu bahwa seorang ayah tidak dapat mewariskan keimanannya pada sang anak. Baik atau buruknya aku, sungguh hanya Allah Yang Tahu! Jangan sekali-kali menyinggung dan menyangkut pautkan sikapku dengan kealiman abahku!" Kali ini Zahrani bicara dengan suara yang sedikit naik. Dia benar-benar kesal pada pria di hadapannya.
Alinda setengah kaget melihat kemarahan Zahrani. "Sabar, Zahra. Jangan buang-buang tenaga hanya untuk berdebat." Ia pun mengelus lembut punggung Zahrani.
Zahrani membuang napasnya kasar. "Astaghfirullah."
Sementara itu, Maher tampak salah tingkah dan merasa tidak nyaman. Ia pun akhirnya memilih untuk meminta maaf pada Zahrani. "Maaf kalau aku salah bicara."
Zahrani hanya diam dan menanggapi. Dia masih kesal dan tak terima dengan ucapan Maher. Kendati demikian, diam-diam Zahrani sudah memaafkan dalam hati.
"Ya sudah kalau gitu lebih baik sekarang kamu tinggalkan tempat ini. Sudah aku katakan, tidak ada manfaatnya," ucap Alinda yang terpaksa mengusir Maher.
__ADS_1
Maher mengacak rambutnya frustasi. "Kenapa Ukhti blokir nomor Aa Maher?"
Alinda membuang napas pelan. "Karena tidak ada kebaikan dalam komunikasi yang Aa Maher lakukan."
"Aa Maher?" Maher menatap binar mendengar ucapan Alinda.
Zahrani menoleh dan menatap kaget sekaligus heran pada Alinda. "Teh Alin..."
Sontak saja Alinda menutup mulutnya dan mulai panik. Bisa-bisanya dia memanggil Maher begitu manisnya. "Astaghfirullah. Itu sebuah kebetulan."
"Hahaha! Aku senang sekali mendengarnya. Coba ulangi lagi!" pinta Maher.
Alinda menggeleng cepat. "Jangan bahas ini lagi. Baiklah, saya akan segera masuk."
"Eh tunggu-tunggu!" Dengan cepat Maher mencegah.
Alinda membuang napasnya kasar. Dalam hati sungguh mengutuki kecerobohannya. "Ya salam, kenapa lisanku keseleo begini."
"Ukhti, ini ada hadiah dari Aa Maher. Semoga Ukhti suka ya," ucap Maher seraya memberikan buket bunga yang indah.
Alinda menatap biasa saja. Sejujurnya ia kagum pada bunga itu. Namun, tentu saja tidak baik baginya jika menampilkan reaksi yang berlebihan.
"Terima kasih. Saya terima. Semoga tidak ada niat buruk di balik semua ini," ucap Alinda.
"Jangan suudzon, Ukhti. Aa Maher hanya senang memberikan hadiah untuk Ukhti," balas Maher.
"Hadiah untuk Zahra, mana?" Zahra menatap penuh selidik pada Maher.
Maher memutar bola matanya malas. "Tidak masuk ke dalam list hatiku!" Ia bicara sembari menatap sinis pada Zahra.
__ADS_1
"Sombong!" cicit Zahrani sebal.
Bersambung...