
Ustadz Destaqi hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Pak Haji Anwar. Ia merasa jika yang paling semangat menyatukan dirinya dengan Khanidah adalah lelaki tua di hadapannya itu. Melihat bagaimana antusiasnya sepasang suami istri itu menjodohkan putri sulung mereka dengannya, ia sedikit geli dan merasa lucu dengan apa yang terjadi.
Dari pihak Khanidah, kedua orang tuanya memang sangat ingin menjadikan Ustadz Destaqi sebagai menantu mereka. Namun, dari pihak Ustadz Destaqi sendiri, terlihat hanya sang Umi lah yang sangat ngebet dan antusias untuk menjadikan Khanidah sebagai menantunya. Abah Haji Muhajir sendiri terlihat biasa saja. Tidak terlalu menyuruh dan tidak pula melarang. Semuanya terserah sang putra tunggal yang akan memutuskan pilihan hidupnya.
"Maa syaa Allah. Memangnya, Neng Nidah habis dari mana?" tanya Ustadz Destaqi yang pada akhirnya memberanikan diri membuka suaranya. Ia ingin menghidupkan suasana setelah kehadiran Khanidah di sela-sela dirinya dengan kedua calon mertuanya.
Khanidah sedikit tersentak kaget saat Ustadz Destaqi bertanya padanya. Ia pikir, Ustadz tampan itu tidak akan bicara apa pun padanya. Ternyata dirinya sedang ditanya oleh Ustadz yang tampan dan berkarisma itu. Namun, walaupun tampan, entah mengapa Khanidah merasa biasa saja dan tidak tertarik pada ketampanan Ustadz Destaqi. Ia malah lebih terkesan pada sosok Arafat yang tak lain adalah adik kandung Ustadz Destaqi.
"Nidah, ditanya itu ya jawab atuh. Kok malah bengong," tegur Pak Haji Anwar.
"Mungkin gerogi karena ditanya oleh calon imamnya sendiri, Yah," timpal Bu Hajah Anwar yang selalu membumbui dengan godaannya.
"Eh, iya, maaf." Khanidah tampak terlonjak kaget dan terpaksa harus meninggalkan lamunannya. "Tadi teh habis hadir kajian rutin di majelis As-Shafa, Ustadz." Menjawab pertanyaan Ustadz Destaqi.
Ustadz Destaqi tampak manggut-manggut tanda mengerti. "Ustadz Ilyas bukan yang mengisi tausiahnya?"
Khanidah mengangguk. "Iya, benar sekali." Ia hanya menjawab singkat.
"Taqi teh kenal sama Ustadz Ilyas?" tanya Bu Hajah Anwar.
Ustadz Destaqi mengangguk dan tersenyum. "Sangat kenal, Bu Hajah. Beliau adik letingan saya di pondok pesantren Daarul Fatah di Jawa Tengah."
__ADS_1
"Owalah, pantas saja kenal. Ustadz Ilyas itu yang mau ngelamar Khanidah tempo hari, Taqi. Tapi, kami tidak setuju karena sifatnya yang sedikit sombong," ungkap Bu Hajah Anwar.
"Hust! Jangan dibahas, istriku. Itu sangat tidak penting sekarang," tegur Pak Haji Anwar.
Khanidah tampak menatap sebal pada Bundanya itu. Sejujurnya, ia sangat geram karena kedua orang tuanya tega menolak niat baik Ustadz Ilyas. Padahal, Khanidah sendiri sangat kagum dan bersedia jika Ustadz Ilyas akan menikahinya.
"Beliau bukan sombong, Bunda!" ucap Khanidah penuh penegasan. Terlihat ekspresi marah dan tak terima pada ucapan Bundanya itu.
Bu Hajah Anwar tampak menatap sengit pada putrinya. Lagi-lagi ia harus melihat penolakan dari putrinya tentang Ustadz Ilyas. Padahal, sudah jelas jika dirinya sangat tidak suka pada Ustadz muda yang sudah sering mengisi tausiah di acara kajian, tausiah di acara pernikahan dan sebagainya.
"Kalau bukan sombong, apa namanya? Ilmu masih cetek saja dia sudah berani mengibarkan sayapnya. Halah, sok-sok'an!" cecar Bu Hajah Anwar yang tampak menekan setiap ucapannya.
"Istighfar, Bunda! Jangan suka mencela manusia mana pun! Mengapa Bunda selalu mengatakan ilmunya masih cetek dan selalu saja menghinanya. Bukankah sebaiknya ilmu itu disampaikan dan diamalkan?" tegas Khanidah yang kini sudah tak dapat lagi menahan kesalnya. Tak peduli bagaimana tanggapan Ustadz Destaqi saat melihat sikap dan ucapannya.
Bu Hajah Anwar tampak terdiam dan menunduk tanpa kata. Ucapan putrinya benar-benar membuatnya kalah telak. Memang benar, walaupun ilmu masih sedikit, alangkah baiknya jika ilmu itu disampaikan, dimanfaatkan, diamalkan agar membawa kebaikan. Percuma saja jika memiliki ilmu setinggi gunung, akan tetapi tidak bermanfaat dan hanya dibiarkan begitu saja. Lebih baik ilmu sedikit, tapi bermanfaat dan bisa diamalkan. Ilmu akan mengalir dan memberi cahaya jika kita bisa menyampaikan pada orang lain dan mengamalkan pada diri kita sendiri.
"Astaghfirullah! Kenapa jadi berdebat begini?" ucap Pak Haji Anwar seraya menatap heran pada istri dan putri sulungnya itu.
Khanidah tampak menunduk dan mengusap wajahnya berkali-kali. Dengan pelan ia membuang napasnya agar kembali relax. Sementara Bu Hajah Anwar tampak diam dan memejamkan matanya sejenak sambil menarik napas lalu membuangnya perlahan.
"Istighfar, Khanidah. Tidak baik mengajak berdebat pada orang tua," ucap Pak Haji Anwar penuh penegasan.
__ADS_1
Khanidah tampak membuang napasnya berat. Lagi-lagi harus dirinya yang disalahkan. Padahal, Bundanya sendiri yang memulai perdebatan itu.
"Bunda juga harus istighfar dan sadar jika meladeni perdebatan itu hal yang salah," lanjut Pak Haji Anwar bicara pada istrinya.
"Bunda bukan ingin berdebat, Yah. Bunda hanya bicara yang sebenarnya," ucap Bu Hajah Anwar mengeluarkan pembelaan.
"Tetap saja, Bun. Menjelek-jelekkan orang itu hal yang salah. Walaupun sudah terlihat di pandangan mata jika orang itu salah dan buruk, tapi sebaiknya jangan pernah membicarakan aib ataupun keburukan orang lain!" ujar Khanidah yang sepertinya masih berapi-api dan memanas.
"Sudah, Neng Nidah sabar dulu, ya. Ditahan emosinya agar tidak berujung menjadi bencana. Bagaimanapun, Bu Hajah Anwar ini adalah Bundanya Neng Nidah. Beliau lah yang telah mengandung dan melahirkan Neng Nidah ke dunia yang fana ini. Walaupun menurut Neng Nidah ini hal yang biasa, tapi ... sungguh tidak tahu apa yang Bunda Neng Nidah rasakan. Sangat fatal akibatnya jika membuat Bunda Neng Nidah sakit hati," timpal Ustadz Destaqi yang pada akhirnya harus angkat suara. Jujur saja, ia paling tidak suka melihat seorang anak yang durhaka pada orang tuanya. Ya, walaupun tindakan Khanidah masih biasa dan bisa dimaklumi, tapi tetap saja ia sangat khawatir Khanidah akan sampai melukai hati Bundanya sendiri.
Khanidah tampak kembali menunduk dan membuang napasnya berat. Benar yang diucapkan Ustadz Destaqi, sebaiknya ia diam dan tahan emosi. Tidak baik juga bicara ngotot sembari mengajari orang tua sendiri. Itu sungguh hal yang tidak sopan.
"Ayah tidak suka perdebatan. Ingat!?" tegas Pak Haji Anwar.
Bu Hajah Anwar dan Khanidah tampak mengangguk mengiyakan. Ya, mereka memang selalu diingatkan oleh Pak Haji Anwar jika sebaiknya meninggalkan perdebatan walau dalam keadaan benar. Karena, diam dalam kebenaran itu lebih baik daripada berdebat guna untuk menunjukkan bahwa dia paling benar.
"Maafkan Nidah, Yah, Bun," ucap Khanidah dengan lemah.
Pak Haji Anwar dan istrinya tampak saling beradu pandang. Keduanya sama-sama mengangguk dan tersenyum. Tentu saja setelah perdebatan, harus ada perdamaian.
BERSAMBUNG...
__ADS_1