
"Ada apa, Bi? Tumben sekali datang ke sini. Bibi mau menemani Alin menginap di sini?" tanya Alinda pada sang Bibi yang tiba-tiba datang.
"Bibi khawatir sama kamu, Neng. Mamang juga menyuruh Bibi buat nengokin Neng di sini," ucap Bi Herni seraya duduk di sebuah kursi.
Alinda tersenyum kecil dan ikut duduk. Namun, ia hanya duduk di atas karpet yang tergelar di lantai. "Maa syaa Allah. Tapi tidak usah khawatir, Bi. In syaa Allah, Allah akan selalu melindungi Alin. Selagi kita masih yakin atas naungan Allah dan selalu menggantungkan diri pada-Nya, maka niscaya Allah akan benar-benar menjaga kita, Bi." Ia bicara dengan lembut dan sopan. Senyuman manis dan hangatnya selalu terpancar.
Bi Herni menatap dalam wajah keponakannya itu. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa gadis cantik yang dulunya sering ia asuh itu begitu cerdas dan taat. Padahal, mereka bukanlah terlahir dari keluarga kiyai ataupun orang-orang pintar dan para ulama. Namun, kecerdasan dan sifat Alinda benar-benar seperti seorang anak yang terlahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang pandai akan ilmu agama dan penuh dengan pendidikan agama Islam. Tentu saja ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi Bi Herni yang melihat sendiri bagaimana cerdas, sholehah dan taatnya Alinda kepada Sang Maha Pencipta.
"Bi, kenapa melamun?" tegur Alinda yang berhasil membuat Bi Herni mengerjapkan matanya dan terpaksa meninggalkan lamunannya.
"Ah, enggak, Neng. Bibi hanya sedang berterima kasih dan bersyukur pada Allah atas kecerdasan dan keta'atan Neng. Bibi benar-benar tidak menyangka jika Neng akan seta'at ini pada Allah. Maa syaa Allah," ucap Bi Herni seraya menyunggingkan senyuman hangatnya.
Alinda tersenyum dan merasa malu dengan semua yang Bibinya itu ucapkan. Jujur saja, ia bukanlah tipe orang yang senang akan pujian. Baginya, sebuah pujian yang orang lain lontarkan padanya, hanya akan membuat dirinya merasa tinggi dan akan menimbulkan sifat kesombongan. Namun, ketika ada yang memujinya, ia hanya tersenyum dan beberapa kali meminta pada Allah di dalam hatinya agar tidak ada sifat sombong yang akan timbul akibat pujian yang ia terima.
"Aamiin. Semoga apa yang Bibi ucapkan merupakan doa terbaik bagi Alin. Dan, mudah-mudahan semua itu pun terjadi pada Bibi," ucap Alinda dengan lembut.
"Aamiin. Ayah sama bunda pasti bangga memiliki anak seperti Neng." Bi Herni mengusap lembut puncak kepala keponakannya itu. "Bibi pun sangat bangga." Ia berkata lagi.
Alinda menunduk dalam dan melipat bibirnya menahan sesuatu yang sepertinya akan keluar dari lisannya. Sesak di dadanya tiba-tiba terasa begitu saja saat sang Bibi membahas almarhum dan almarhumah kedua orang tuanya. Rindu, jelas ia selalu merindukan dua sosok manusia mulia yang belum sempat ia bahagiakan.
"Maaf, Neng. Bibi tidak bermaksud membuat Neng sedih," ucap Bu Herni yang menyadari perubahan sikap dan ekspresi keponakannya itu.
__ADS_1
Alinda menggeleng lalu mengangkat wajahnya. Kini, buliran bening itu berhasil meloncat dari sudut mata indahnya. "Tidak, Bi! Jangan minta maaf karena Bibi tidak salah. Lagi pula, Alin memang selalu rindu pada ayah dan bunda. Semoga Allah menempatkan keduanya di telaga yang indah."
Bi Herni menatap nanar dan kini kedua matanya pun mulai berembun. Jika sekali saja ia berkedip, maka sudah pasti tetesan air yang memiliki rasa asin itu keluar dari tempatnya. Ia begitu menyayangi keponakannya itu sebagaimana ia menyayangi kedua orang tua Alinda.
"Neng harus tetap tabah dan sabar, ya. Di sini, ada Bibi dan Mamang yang akan menggantikan peran kedua orang tua Neng. Ya ... walaupun mereka tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Tapi, setidaknya Bibi dan Mamang sudah berusaha menjadi orang tua untuk Neng," ucap Bi Herni seraya mengusap lembut air mata keponakannya itu.
"Bibi dan Mamang sudah berjasa banyak sekali pada Alin. Alin pun sangat bahagia dan bersyukur atas cinta dan kasih sayang yang Bibi dan Mamang berikan pada Alin," balas Alinda seraya menangkap kedua tangan Bibinya itu lalu menggenggamnya dengan erat.
Bi Herni tersenyum samar dan embun yang menutupi matanya kini sudah menghilang seiring mengalirnya air yang terasa asin itu. Wanita yang tak kunjung dikaruniai seorang anak itu pun memeluk hangat keponakannya. Betapa sayangnya ia pada sang keponakan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Maafkan Alin yang selalu merepotkan Bibi dan Mamang," ucap Alinda di dalam pelukan sang Bibi.
Alinda tersenyum manis dan memejamkan matanya. Hangatnya pelukan sang Bibi membuatnya teringat pada sang ibunda yang jelas sudah tak bisa lagi ia rasakan pelukan dan sentuhan tangannya. Kini, ia hanya bisa memeluk sosok wanita yang masih memiliki ikatan dengan almarhum ibundanya.
"Kalau gitu Bibi kembali ke rumah, ya. Neng benar tidak apa-apa bobo sendiri di sini? Banyak nyamuk, tidak?" ucap Bi Herni sesaat setelah mengurai pelukan dan saling mengusap air mata.
Alinda mengangguk mantap. "Iya, Bi. Tidak apa-apa kok. Kalau nyamuk mah pasti ada, namanya juga hidup di dunia. Hehehe."
"Kalau gitu nanti Bibi balik lagi buat bawakan obat nyamuk ya, Neng," ucap Bi Herni penuh perhatian.
Alinda menggeleng. "Tidak usah repot-repot, Bi. Alin enggak merasa terganggu sama nyamuk, kok. Lagi pula, kita harus saling berbagi dengan sesama makhluk Allah. Ya ... walaupun itu seekor nyamuk. Setidaknya kita bisa bersedekah darah padanya. Asalkan nyamuknya tidak membawa penyakit, saja."
__ADS_1
Lagi-lagi Bi Herni dibuat kagum oleh ucapan sang keponakan. Masih muda tapi jiwa sosialnya begitu tinggi. Bukan hanya pada manusia, Alinda bahkan berbaik hati pada makhluk Allah lainnya berupa binatang. Patut diacungi seribu jempol.
"Begitu, ya. Ya sudah, mudah-mudahan Allah selalu melindungi," ucap Bi Herni.
"Aamiin Yaa Allah," balas Alinda.
"Selimut ada 'kan?" tanya Bi Herni lagi. Wanita itu kini sudah beranjak dari duduknya.
Alinda mengangguk. "Ada, Bi. Alin bawa selimut soalnya dingin cuacanya. Kalau di kota, perlu pakai pendingin ruangan. Tapi selama Alin tinggal di desa, pendingin alami ciptaan Allah jauh lebih menyegarkan. Hehehe."
"Subhanallah. Ya sudah, kalau gitu Bibi pamit, ya. Besok pagi pulang, 'kan?" tanya Bi Herni.
"Iya, Bi, pulang," jawab Alinda.
"Ya sudah. Bibi pulang ya. Assalamu'alaikum," ucap Bi Herni berpamitan dan mengucapkan salam.
"Iya, Bi. Waalaikumsalam," jawab Alinda dengan sopan.
Bi Herni pun kini sudah berlalu meninggalkan Alinda sendirian. Bukan tidak khawatir, jutsru ia selalu tidak tenang jika Alinda sendirian di gubug itu. Bukan takut pada manusia atau binatang, akan tetapi ia takut pada makhluk Allah yang lainnya berupa jin dan setan. Karena, para penduduk di sana termasuk orang-orang yang baik dan rukun. Setiap malam akan ada tukang roda juga yang berjaga dan berkeliling kampung. Sementara hewan buas pun di desa itu tidak pernah ada.
BERSAMBUNG...
__ADS_1