Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
BAB 10


__ADS_3

Rahang Eric semakin mengeras saat kalimat Lisa terlontar. Ingin sekali rasanya Eric menyumpal mulut tidak ada aturan Lisa itu. Berani sekali gadia itu memperpanjang masalah adiknya, padahal Riani begitu menyukai gadis itu


" Aku tidak mau!" jawab Eric tegas


"Kalau begitu, bersiaplah untuk masuk penjara dan keluargamu akan tercecer karena tidak ada yang mengurusnya" kata Lisa menanggapi. Mendengar itu, Eric semakin sulit mengambil keputusan. Dia tidak ingin mengorbankan masa depan adiknya dan juga kesehatan ayahnya


" Baiklah! Aku akan melakukannya. Berapa lama?" jawab Eric berat. Lisa tersenyum senang


"Sampai kau melunasi semua biaya denda yang tersebut didalam surat" kata Lisa membuat Eric langsung menyambar surat tuntutan itu dan melihat nominal angka yang tertulis disana


"100 juta!" Eric menatap kaget pada angka yang tertoreh. Gila, ini gila! Bagaimana bisa biayanya sebesar itu? Gadis didepannya ternyata sangatlah licik. Eric kembali menatap tajam Lisa yang tersenyum penuh kemenangan


" Bagaimana?" tanya gadis itu lagi


" Kau tenang saja. Aku tidak akan menghambat pekerjaanmu. Kau bebas bekerja dan melakukan apapun saat pagi dan siang hari. Kau hanya harus menjadi budakku untuk sore dan di malam hari saja. Tenang saja, aku akan tetap membayarmu. Bagaimana? Kau setuju?" tawar Lisa menatap Eric dengan tatapan penuh minat. Dia begitu menginginkan pria itu


"Sebenarnya apa rencanamu dengan diriku? Kenapa kau terlihat begitu menginginkanku?" Eric berujar tajam. Lisa tertawa


"Menginginkanmu! Hah, kau gila. Siapa yang tertarik padamu? Aku hanya butuh seseorang yang dapat ku manfaatkan. Jadi, jangan kege-eran dulu. Kalau pun kau tidak mau, tidak apa-apa. Aku tidak rugi. Lagian, aku sudah sangat baik menawarkanmu seperti ini, menggajimu dan membebaskan sebagian waktumu untuk bekerja" jelas Lisa tersenyum congkak. Eric terdiam berpikir. Sepertinya apa yang ditawarkan gadis itu tidak sepenuhnya merugikan dirinya. Tapi, bisakah gadis itu tidak menggunakan kata 'budak' untuk memperkerjakannya. Eric akhirnya mengambil keputusannya


" Baiklah" jawabnya. Lisa tersenyum


"Oke! Kalau begitu segera bereskan barangmu dan pindah kerumahku," kata Lisa lagi membuat Eric berkerut bingung


"Pindah ke rumahmu buat apa?" tanya Eric lagi


"Tentu saja karena kau, budakku. Aku membutuhkan tenagamu saat waktu yang tidak mungkin untuk menunggumu datang. Jadi, kau tinggal di rumahku" putus Lisa kemudian. Eric melongo


"Tapi itu tidak ada dalam syaratmu!" kata Eric. Lisa tertawa mendengarnya

__ADS_1


"Kau tadi mendengar kata-kataku bukan? Kau jadi budakku saat sore dan malam saja, dan mungkin di saat-saat tertentu ketika aku membutuhkanmu. Jadi, kalau kamu tinggal di rumahku, aku lebih mudah menyuruhmu ketika aku membutuhkanmu" jelas Lisa singkat memandang penuh minat pada Eric. Dia tidak bisa berbohong kalau dia tertarik pada pria di depannya, apalagi ketika bayangan tentang mimpi erotisnya bermain di pikirannya. Lisa menjadi malu sendiri


"Oke baiklah!" jawab Eric akhirnya dan pergi dari ruangan itu.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Hari ini Eric resmi pindah ke rumah Lisa, dia bahkan berbohong pada ayahnya dan dua adik kembarnya kalau dirinya ada kerjaan tambahan yang bergaji besar. Namun, dirinya harus menetap di sana. Keluarganya merestuinya dengan harapan Eric bisa menghasilkan banyak uang untuk membiayai keperluan hidup mereka dengan lebih baik. Tanpa mereka sadari kalau Eric kini menjadi budak dari wanita sombong bernama Lisa Anita Holger


Eric memasuki rumah mewah itu dengan langkah pelan, hingga dapat dilihatnya gadis sombong itu berdiri tak jauh dari sana dan menyambutnya dengan gaya khasnya. Gaya gadis sombong nan arogan serta sedikit dominan


"Akhirnya kamu sampai juga," ujar Lisa memandang Eric dengan senyum menawannya, dan mulai menunjuki pria itu pada kamarnya.


Para pelayan di rumah itu mulai berbisik-bisik, saat melihat Nona mereka membawa seorang pria tampan untuk tinggal di sana


"Mulai sekarang, ini kamarmu." kata Lisa. Eric memandang gadis itu datar


"Lalu apa pekerjaanku?"


"Oke, baiklah! Jika kau butuh aku, panggil saja ya." kata Eric memasuki kamar itu dan menutup pintunya, sepenuhnya mengabaikan Lisa yang melongo menatap kelakuan pria itu. Siapa yang tuan dan siapa yang budak sekarang? Lisa memandang pintu kamar itu dengan kesal


"Awas kamu!" batinnya kesal


Malam itu, Lisa menyuruh Eric untuk menemaninya makan malam yang membuat pria itu berkerut bingung


"Jadi ini pekerjaanku! Menemanimu makan," ujar Eric tak percaya. Lisa tersenyum dan mengangguk


"Tentu saja! Kau harus melakukan apapun yang kusuruh selama kau di sini." kata Lisa. Eric mengangkat bahu tak peduli dan mulai mengambil piring untuk alas makannya


"Ambilkan aku itu!" tunjuk Lisa pada lauk di depan Eric

__ADS_1


"Ambilkan saja sendiri." Eric tidak peduli dan terus melahap makanannya


"Hei! Kamu itu budakku. Harusnya kamu mematuhi perintahku." kata Lisa kesal. Eric memandang wanita itu datar sebelum tangannya bergerak mengambil lauk itu


"Oke! Silakan dimakan Tuan Putri." ucap Eric malas berdebat dengan gadis itu. Lisa tersenyum senang. Seumur-umur dia belum pernah merasakan dimasukkan lauk dalam makanannya oleh orang lain. Lisa tersentuh dengan perlakuan itu, walau Eric melakukannya karena terpaksa. Dengan kata lain disuruh olehnya.


Para pelayan yang mengintip Nona mereka menahan tawa melihat dua sejoli itu. Mereka persis seperti pasangan suami istri yang sedang marahan.


Setelah semuanya selesai. Eric maupun Lisa kembali ke kamar mereka masing-masing. Eric berpikir bagaimana dia bisa lepas dari perempuan sombong itu dan membayar uang sebesar 100 juta itu


Saat dirinya tengah sibuk dengan pikirannya, telinganya menangkap suara tangisan. Eric bangun dari rebahannya dan merapatkan telinganya ke dinding kamar, hingga suara itu terdengar dari kamar sebelahnya. Dengan buru-buru Eric keluar dari kamarnya dan menuju kamar di mana suara tangisan itu berada. Dia membuka pintu kamar itu dan terkejut saat melihat Lisa tengah menangis dalam tidurnya. Eric mendekat dan dilihatnya Gadis itu menangis pilu dalam tidurnya


"Lisa!" panggil Eric pelan. Namun tidak ada tanggapan. Lisa semakin menangis


"Jangan tinggalkan aku! Aku tidak ingin sendirian! Aku kesepian." ujarnya di sela-sela tangisnya dengan mata terpejam


Dengan sigap Eric naik ke atas ranjang dan mencoba membangunkan gadis itu


"Lisa, bangunlah!" seru Eric lembut, mengelus pelan rambut gadis itu. Lisa membuka pelan matanya yang penuh dengan air mata. Dia memandang Eric dan semakin menangis keras sembari memeluk erat tubuh Erik yang kini juga memeluknya


"Jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tidak ingin sendirian!" ujarnya, entah sadar atau tidak. Gadis itu semakin erat memeluk tubuh Eric, seakan takut pria itu pergi dari sisinya. Eric yang bingung mencoba menenangkan Gadis itu


"Tenang Lisa, tenang! Aku takkan kemana-mana" ujarnya pelan sembari mengelus rambut gadis itu yang semakin menangis membenamkan wajahnya di dada bidang Eric, hingga beberapa menit kemudian wanita itu mulai tertidur kembali dalam kondisi memeluk Eric


.


.


.

__ADS_1


Kritik dan saran diharapkan๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2