Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
31


__ADS_3

Suasana menjadi sunyi setelah pesta resepsi berakhir, seluruh sahabat gila Eric telah kembali ke habitatnya masing-masing. Begitu juga dengan anggota keluarga pria itu yang juga pamit kembali ke rumah sederhana mereka meninggalkan sepasang pengantin baru itu untuk menghabiskan malam bersama


Lisa menatap pada Eric yang masuk ke kamar pengantin mereka dengan fokus pria itu pada tab di tangannya, hadiah yang diberikan Marcel sungguhlah luar biasa karena mampu membuat Eric menghiraukan sang istri yang sudah bersiap untuk acara mereka malam ini


"Serius sekali! Apa ada hal indah didalam sana hingga kamu tidak mengalihkan tatapanmu?" ujar Lisa menatap kesal pada sang suami yang terlalu fokus pada tab-nya


"Tidak, aku_" Eric terdiam saat mengalihkan pandangannya pada sang istri yang terduduk diatas ranjang dengan penampilan yang err... menggoda, namun tidak dengan mimik wajah yang ditampilkan oleh Lisa saat ini. Eric tau kalau wanita yang telah jadi istrinya itu sedang marah, mungkin masih kesal akan bahasannya tentang Hanna tadi


"Lisa, pakaianmu..?" Eric berucap ragu saat matanya dapat dengan jelas melihat lekuk tubuh sang istri. Eric akan bersyukur jika sang istri telanjang saja karena itu tidak akan terlalu menyiksa baginya, namun penampilan Lisa sekarang jelas-jelas untuk menggoda dan pakaian itu hanya membuat Eric semakin penasaran akan bayang dibaliknya


Lisa memandang pada tubuhnya lalu kembali menatap sang suami


"Ada apa dengan pakaianku?" tanya Lisa saat merasa tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Dia memakai sebuah lingerie tipis berwarna merah cerah yang transparan yang hanya terhubung dengan seutas tali sebagai penyangga dan pakaian dibaliknya jelas akan membuat Eric menggila. Lisa hanya memakai sebuah ****** ***** model tali spagetti dengan bra renda rendah yang membuat bongkahan bakpau bermata pink itu sangat menggoda minta disentuh


Eric menggeleng seraya matanya yang masih tertuju pada sang istri. Dia jelas tidak akan menyia-nyiakan kesempatan malam ini bukan? Apalagi ini merupakan malam pernikahan mereka berdua


"Tidak ada, hanya saja kamu terlihat sangat cantik malam ini" puji Eric pada sang istri yang mengerutkan keningnya bingung. Sejak kapan Eric pandai menggunakan kata rayuan seperti itu?


"Aku memang selalu cantik" jawab Lisa penuh dengan kepercayaan diri yang besar. Eric terkekeh pelan lalu meletakkan tab di tangannya dan mendekat kearah sang istri


"Jadi, apa ini penyambutan untukku?"

__ADS_1


"Tentu saja bukan! Buat apa aku menyambutmu yang jelas-jelas menyukai wanita lain. Siapa namanya tadi... Hanna, ya! Itu namanya" tuding Lisa sengaja mengolok sang suami perihal model wanita bernama Hanna


"Hanna cantik, aku akui itu. Tapi tidak bisa dibandingkan dengan istriku yang sangatlah cantik" ujar Eric yang merasa geli dengan kata-katanya sendiri. Pelajaran yang diberikan Marcel dan Billy cukup berguna untuknya meluluhkan sang istri, pelajaran cara merayu istri saat sedang marah


"Tapi tetap saja kamu mengatakan kalau wanita itu cantik."


Lisa yang masih bersikeras dengan kalimat sang suami mendadak terdiam saat Eric kini menunduk didepannya yang terduduk diatas ranjang


'Keluarkan rayuan terbaikmu dan sentuh dia perlahan, maka dapat dipastikan, tidak ada wanita yang tidak akan luluh sekalipun dia wanita yang keras kepala, karena pasalnya wanita adalah makhluk yang lemah pada godaan dan rayuan' petuah Billy yang terus terngiang-ngiang ditelinga Eric


"Percayalah! Hanya kamu satu-satunya wanita didunia ini yang akan berada disampingku, tidak akan pernah ada wanita lainnya" ujar Eric pelan dengan nada sensual dengan tangan yang bergerak perlahan menyentuh kaki jenjang sang istri yang terekspos


"Apa bedanya aku sama Marcel dan Mike sekarang?" batin Eric bertanya saat kini wajahnya ikut bergerak menyusuri kaki Lisa dengan hidung mancungnya


Dulu dia masihlah mampu untuk menahan diri tapi sekarang ceritanya cukup berbeda, Lisa telah resmi menjadi istrinya dan dia bebas untuk melakukan pikiran liar apapun yang terbayang di kepalanya


Lisa yang menerima perlakuan mengundang itu hanya mampu menahan bibirnya agar tidak mengeluarkan suara laknat bernama *******


Pelan namun pasti Eric mulai merangkak pada sang istri yang kini sudah terbaring diatas ranjang setelah perlakuan sang suami terakhir kali.


"Kamu cantik" gumam Eric sekali lagi memuji sang istri saat wajahnya kini bertepatan dengan wajah Lisa dibawahnya hingga akhirnya moment itu menciptakan sebuah ciuman panjang antara pengantin baru itu

__ADS_1


Saling mencecap dan menikmati rasa masing-masing, keduanya dibuat mabuk dalam asmara berselubung hasra, lalu dimanakah rasa cemburu itu sekarang? Menghilang untuk sementara


Lisa melenguh pelan dalam siksaan kenikmatan yang terjadi, mimpi liarnya dulu menjadi kenyataan. Eric-nya menatap dirinya dengan penuh cinta dan kata-kata dirinya cantik sembari menyentuh tubuhnya dengan penuh perasaan. Inilah yang diam-diam dia inginkan, rasa dikasihi dan disayangi oleh orang yang dia inginkan


" Eeumm Eriic..sshh" desahnya menggelinjang saat tangan kasar Eric berada di dadanya dan sebelah lagi membelai pinggangnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Eric sudah meloloskan setiap kain yang menutup tubuhnya yang kini berhamburan didalam kamar yang mereka huni. Inilah yang pernah Lisa bilang jika pertahanan Eric berhasil dibobol, maka pria itu akan menjadi pria yang dominan menguasai dalam permainan


"Pastikan tenagamu kuat untuk semalaman ini, Lisa." Eric berucap sembari menggigit pelan daun telinga sang istri, dia dibuat gila malam ini dengan nuansa percintaan yang terjadi


Eric bahkan harus memeriksa diri setelah ini, mencari tahu apa penyebab dia berubah menjadi lebih mesum sekarang ini. Sepertinya Eric lupa pada berapa tingkat kemesuman para sahabatnya hingga dia sebagai yang paling normal pun akan terseret arusnya dan jadilah dia yang sekarang, sifat liar yang terpendam. Maka dari itu pilihan teman sangatlah berpengaruh dalam sikap dan tindakan


Mendengar kata-kata sang suami, Lisa yang sudah terbang melayang mendadak tersadar. Bicara tentang tenaga dirinya jelas tidak ingin kalah bahkan jika itu Eric sekalipun


Lisa mendorong pelan dada Eric dan membalikkan tubuhnya saat Eric belum menyadari apa yang akan dilakukan sang istri hingga posisi keduanya berbalik. Eric yang semula diatas berbalik menjadi dibawah Lisa saat ini


"Sekarang, biar aku yang ambil alih permainannya dan kita lihat siapa yang akan kalah." Eric hanya bisa melongo mendengarnya. Dia lupa kalau istri lain daripada yang lain


Lisa langsung meraup bibir Eric sebagai permulaan dan mendominasi percintaan mereka setelahnya. Erangan, de sahan dan lenguhan terdengar memenuhi kamar mereka hingga keduanya berakhir dalam sebuah pelepasan dari kenikmatan yang dikejar


"Kamu kalah, Lisa." Eric menarik selimut menutupi tubuh sang istri yang sudah terkapar kelelahan. Dari situ sudah terlihat jelas siapa pemenang dari percintaan hebat mereka


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2