Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
23


__ADS_3

Eric meraih selimut dan membaluti tubuh telanjang Lisa dengan tenang. Lisa yang terkejut segera membuka matanya


"Hei! Apa yang kau lakukan?" tanya gadis itu makin terkejut saat Eric dengan santai mengangkat tubuhnya ala bridal


"Membawamu ke kamar mandi! Bukankah aku harus bertanggung jawab" kata Eric mulai melangkahkan kakinya, sedangkan Lisa sudah dengan spontan memeluk tengkuk prianya kalau tidak ingin tubuhnya terjatuh


Lisa memandang wajah tampan Eric dari jarak sedekat ini. Gadis itu menelan salivanya, pria ini sempurna, hanya takdirnya yang tidak sempurna. Andai Eric terlahir sebagai orang kaya, pasti pria itu akan menjelma bag pangeran dunia dongeng, terlebih kelebihan pria itu diatas rata-rata


Lisa tidak pernah melihat Eric dekat dengan wanita manapun dan itu sudah cukup membuktikan kalau pria itu bukan pemain wanita atau dengan kata lain Playboy. Pria itu juga bukan pemalas karena hampir setiap hari Lisa melihat pria itu bekerja keras, dan Eric juga bukan seorang pemeras. Setidaknya pria itu tidak pernah mencoba untuk meraih keuntungan dari hartanya dan Lisa dapat dengan jelas melihatnya


"Kamu tampan" ujar Lisa tanpa sadar dan tersenyum. Gadis itu seakan tak pernah menyesal telah memberikan kehormatannya pada pria itu. Eric mengerutkan dahinya. Sejak kapan gadis sombong ini itu mulai blak-blakan seperti itu


"Kamu juga cantik, tapi akan lebih cantik jita sudah mandi," ujar Eric datar. Lisa berubah menjadi cemberut seketika dan semakin erat memeluk tengkuk Eric sebagai pelampiasan rasa kesalnya akan jawaban pria itu


"Kamu harus menikahiku besok juga! Berani sekali kamu meniduriku, dua kali! Kamu itu masih budakku tahu."


" Ya.. ya. Aku akan menikahimu kapanpun kamu mau" Eric mengalah sambil terus melangkah membawa gadisnya ke kamar mandi. Lisa tersenyum senang mendengarnya


Gadis itu dengan spontan memeluk Eric erat dan membenamkan wajahnya dilekukan leher prianya dan dengan sangat sengaja mengecup pelan leher itu, membuat Eric mendesis


"Hentikan, atau kamu akan benar-benar tidak bisa berjalan selama seminggu ini!" ujar Eric dengan sedikit mengancam. Gadis itu jelas-jelas Sedang menggodanya


" Kamu pikir aku peduli! Bilang saja kalau kamu tidak tahan, kan?" tantang Lisa sambil membelai pelan tengkuk prianya dengan pandangan menggoda ke arah Eric. Dengan segera Eric menurunkan Lisa begitu mereka sampai di kamar mandi

__ADS_1


"Antarkan aku sampai shower, aku masih kesulitan berjalan" ujar Lisa kesal saat melihat Eric yang langsung ingin pergi begitu menurunkannya, dan sekarang gadis licik itu malah mempergunakan modus rasa sakit tubuhnya


Eric menghembuskan nafas lelahnya dan kembali mengangkat Gadis itu menuju shower. Lisa tersenyum menggoda, entah kenapa mempermainkan nafsu pria tampan didepannya jadi kegiatan yang menyenangkan baginya. Begitu sampai, Eric dengan segera menurunkan Lisa dan hendak keluar dari ruang itu dengan segera, sebelum dirinya kembali hilang kendali akibat tingkah menjurus gadis itu


Lisa yang menangkap gelagat Eric yang akan segera pergi, menangkap lengan pria itu


"Apa lagi?" tanya Eric jengah


"Bantu sabunin aku" jawab Lisa


What!! Eric memandang gadis itu sekejap! Apa pendengarannya sedang bermasalah atau memang gadis itu yang ingin membuat masalah kembali


"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan, Lisa?" Eric mencoba untuk meluruskan pendengarannya yang mungkin salah tangkap. Gadis itu mengangguk polos dan begitu yakin


"Iya..bantu sabunin aku" mata Eric mengerjap untuk beberapa kali. Harus dia apakan enaknya gadis didepannya ini? Haruskah dia lahap saja sampai habis dan tak bersisa.


"Tidak! Mandi saja sendiri" tolak Eric akhirnya yang mencoba menyingkirkan tangan Lisa di lengannya


Wajah yang semula menatap polos langsung berubah kesal dengan jawaban Eric. Tangan Lisa bergerak menekan keran shower hingga air itu turun menimpa keduanya dan gadis itu kembali meraih tangan Eric saat pria itu masih terkejut dengan air shower yang menyala tiba-tiba


Gerakan gadis itu begitu mulus menarik tubuh Eric mendekat kearahnya, lalu menyatukan bibir keduanya dalam sebuah ciuman. Lisa sepenuhnya mengabaikan selimut yang membaluti tubuhnya yang kini telah melorot jatuh kelantai, dan tubuh keduanya yang mulai basah terkena air shower yang menyala


"Sial!" batin Eric kembali menjerit saat godaan itu lagi-lagi mengujinya. Apa sebenarnya yang coba dilakukan Lisa, Eric bisa saja memenuhi keinginan gadis itu andai Lisa tidak mengeluh sakit tadi

__ADS_1


Lisa memejamkan matanya sembari mencium lembut bibir prianya, tangannya juga sudah kembali menggantung indah di tengkuk sang pria saat tiba-tiba dirinya merasakan pergerakan dari tangan Eric yang membingkai pinggang polosnya lalu terus naik keatas pada dua gundukan aset berharganya dan berakhir pada celah lehernya, sebelum pria itu mengambil alih ciumannya


"Pinggangmu baik-baik saja sekarang?" bisik Eric lebih seperti pernyataan. Lisa berani menggodanya seperti ini dan itu berarti bukankah dia sudah siap. Lisa yang mendapat pertanyaan itu hanya terdiam tidak menjawab


Eric yang tidak mendapat respon jawaban dari gadis itu tersenyum tipis. Wajahnya kini sudah berganti posisi berada di ceruk leher gadis itu, mengecupnya lembut sambil terus turun kebahunya, serta tangan yang tidak lagi diam di tempat. Menjangkau apapun yang bisa disentuhnya disetiap titik tubuh Lisa


Percayalah, godaan terbesar bagi seorang pria ada tiga, yaitu harta, tahta, dan wanita. Eric mampu bertahan pada dua hal pertama, namun tidak dengan wanita. Pertahanannya runtuh hanya dengan sedikit godaan yang dilancarkan gadis sombong didepannya


Saat Lisa sudah berada di awan dengan setiap sentuhan yang Eric lakukan, gadis itu tiba-tiba terkesiap saat tubuhnya dibalik oleh Eric hingga dirinya menghadap dinding kamar mandi. Sempat tebersit dalam pikirannya


'Apa pria itu akan bermain belakang sekarang?'


Tapi pikiran Lisa jelas berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sekarang. Eric menggapai sabun dan menyabuni punggung gadis itu dengan wajah datarnya. Bohong, jika dirinya tidak ingin mengulangi tindakannya pada Lisa. Namun, setidaknya pikirannya masih waras saat ini dan dia bukanlah sejatinya pria brengsek, walau jagoannya dibawah sana menggeliat tidak mau mengerti akan keadaannya


Lisa terdiam, menikmati saat tangan kasar Eric mengusap punggungnya. Haruskah dia bilang kalau dirinya kini tidak ada rasa malu lagi? Dirinya telanjang bulat didepan pria ini dan dalam keadaan basah tersiram air shower yang terus-menerus turun


Suasana sepi melingkupi keduanya, hanya suara gemericik air yang terdengar. Gerakan tangan Eric bergerak lincah menyabuni setiap lekuk tubuh gadis angkuh itu, tidak peduli akan keintiman yang sedang terjadi. Ingatkan dia untuk bisa menahan diri dan berhati-hati dengan gadis penggoda. Setidaknya Lisa jauh lebih tenang sekarang, atau mungkin gadis itu malu sekarang? Eric tidak memperdulikannya. Dia menyelesaikan tugasnya menyabuni gadis itu lalu menyiraminya hingga bersih dari setiap bekas bilasan busa sabun


Pria itu mematikan shower dan meraih handuk membaluti tubuh Lisa yang jelas dipenuhi tompel mahakaryanya, dan gadis itu masih juga ingin bermain api untuk menggodanya. Ada yang salah dengan otaknya


.


.

__ADS_1


.


Maaf telat😁


__ADS_2