Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
25


__ADS_3

Pagi sekali ketika matahari baru saja memancarkan kehangatan sinarnya, Eric sudah membawa Lisa untuk ikut dengannya. Pria itu berencana membawa Lisa bertemu dengan keluarganya


"Mau kemana kita?" tanya Lisa bingung saat Eric menariknya untuk keluar tiba-tiba


"Ketemu dengan calon mertuamu" jawab Eric santai sembari bergerak ke bagasi mencari motor yang mungkin bisa di kendarainya untuk pulang


Eric mengeluarkan sebuah motor sport yang cukup berdebu didalam gudang. Lisa menatap pria itu waspada


"Untuk apa motor itu?" tanya gadis itu bingung


"Tentu saja sebagai kendaraan kita untuk pergi ke kediamanku" jawab Eric yang terfokus membersihkan debu yang menempeli motor yang masih sangat bagus, mungkin hanya sudah lama tidak digunakan makanya motor itu penuh debu


Lisa melongo mendengar jawaban itu. Kenapa dia harus repot-repot naik motor kalau dia punya mobil yang jauh lebih nyaman untuk dipakainya


"Aku tidak mau naik motor itu. Itu motor lama peninggalan ayahku, lagipula itu sudah sangat usang, pasti banyak kuman menempel disana"


"Lalu, harus dengan apa kita pergi?"


"Kita bisa pakai mobilku" jawab Lisa enteng. Eric tersenyum, itu mungkin terlalu mudah baginya, calon istrinya adalah wanita yang sangat kaya


"Tapi aku lagi ingin mengendarai motor. Begini saja, aku akan pergi dengan motor, kamu ikutin saja aku dengan mobil di belakang" kata Eric menjelaskan sembari mencoba menghidupkan starter motornya dan menyala, motor itu memang masih bagus


Wajah Lisa langsung berubah cemberut begitu mendengar saran dari Eric. Jelas dia tidak ingin pergi terpisah dengan Eric


"Tidak mau. Kamu ikut denganku naik mobil"


"Yasudahlah kalau kamu tidak mau, kita batalkan saja acara bertemunya hari ini" putus Eric akhirnya jelas tidak ingin berdebat. Dia masih terlalu terpesona pada motor didepannya


"Tidak boleh..."


"Kenapa?"


"Kau harus menikahiku secepatnya, mana bisa ditunda lagi pertemuannya" kata Lisa cepat


"Lalu harus bagaimana? Kamu tidak mau mendengarkan saranku"


"Baiklah, baik...aku ikut denganmu naik motor"

__ADS_1


Eric tersenyum mendengar jawaban gadis itu, Lisa terkadang memang terlihat arogan dan angkuh tapi sekarang Eric barulah mengerti kalau gadis itu sangatlah polos dan haus akan kasih sayang. Lihatlah dia tidak mau kehilangan dirinya


🍀🍀🍀


Para pelayan menatap bingung kepergian Nona mereka dengan berbonceng pada motor yang dikendarai oleh Eric. Seumur-umur baru kali ini mereka melihat Nona mereka yang angkuh mau diboncengi dengan motor


"Pegangan yang Erat" peringat Eric yang menarik lengan lisa agar melingkari pinggangnya


"Aku belum pernah naik motor" cicit Lisa yang mendadak merasakan pipinya panas. Perhatian kecil Eric membuatnya senang


"Makanya aku mengajakmu naik motor, biar kamu tahu bagaimana rasanya naik motor" jelas Eric dan mulai melajukan motornya


Lisa memeluk pinggang prianya erat, ada rasa hangat mendiami hatinya dan motor melaju nyaman diatas aspal


Sebelumnya Eric sudah memberitahu ayah dan adik-adiknya bahwa dia akan pulang hari ini, dirinya bahkan minta izin libur pada Billy hanya untuk membawa Lisa menemui keluarganya


"Kamu wangi" ceplos Lisa yang membenamkan wajahnya pada punggung Eric yang fokus menyetir motornya


Eric tidak menjawab, hanya tersenyum simpul menanggapinya hingga sampailah mereka pada tempat tujuan mereka, sebuah rumah sederhana yang didalamnya ada tiga orang penghuni


Mereka turun dari motor dan Eric mengajak Lisa masuk ke dalam


"Tidak apa-apa, tidak akan ada kuman nanti didalam" Eric menggapai tangan Lisa pelan dan membawanya masuk


"Rian, kakak pulang" teriak Eric sekedar memberitahu kedatangannya pada kedua adik kembarnya


"Kakak!" seru Riana dan Riani bersamaan saat melihat Eric didepan mereka. Keduanya yang sudah dipenuhi rasa rindu yang dalam berhambur memeluk Eric untuk melepaskan rindu yang membuncah


"Bagaimana kabar kalian heum?" Eric mengelus sayang kepala kedua adik kembarnya yang memeluknya disisi kiri dan kanannya. Tangan Lisa sudah dilepasnya tadi yang membuat gadis berstatus calon istrinya itu menatap tidak suka adegan pelukan didepannya. Sekalipun kedua gadis belia yang memeluk Eric adalah adik kandung pria itu, tetap saja rasanya dia tidak suka prianya dipeluk oleh wanita lain


"Riana sangat merindukan kakak" kata Riana yang memeluk erat tubuh tegap kakaknya


"Riani juga" Riani ikut menimpali


"Iya, kakak juga merindukan kalian. Bagaimana keadaan ayah sekarang?" Eric melepas pelukan adik-adiknya dan bertanya perihal sang ayah


"Ayah sudah jauh lebih baik setelah pengobatan saat itu kak. Setidaknya sekarang kami bisa gantian menjaga ayah dan bekerja" jawab Riana

__ADS_1


"Ayo! Kakak ingin melihat keadaan ayah" ajak Eric sebelum...


EKHEEUMM...


Suara deheman itu terdengar nyaring yang berasal dari seorang gadis yang terlupakan oleh Eric


"Kakak Cantik!" seru Riana dan Riani bersamaan, sungguh keduanya begitu menyukai sosok Lisa yang mereka ketahui sebagai wanita baik hati yang memberikan gaun indahnya pada kakak mereka


"H-hai" sapa Lisa canggung, bagaimanapun juga dia pernah membenci salah satu dari dua remaja berwajah sama tersebut


Kedua remaja kembar itu langsung menghadap kiri kanan Lisa


"Kakak cantik kesini dengan kak Eric?"


"Iya" Lisa mengangguk bingung lalu menatap Eric yang membuang senyumnya. Dia sadar kalau adik kembarnya begitu menyukai Lisa


"Ajak masuk calon kakak ipar kalian, kakak mau kekamar ayah dulu" ujar Eric dan berlalu menyisakan kebingungan di wajah Riana dan Riani yang saling menatap bingung plus penasaran


"Kakak ipar?" keduanya membeo saling menatap lalu serentak menatap Lisa yang wajahnya sudah memerah malu


Kurang ajar Eric yang meninggalkannya dengan dua remaja kembar itu setelah kalimat provokasinya


"Apa maksudnya kakak ipar? Apa itu artinya kakak cantik akan menikah dengan kak Eric, lalu jadi kakak ipar kami" kata Riani antusias. Lisa hanya tersenyum canggung dan menganggguk


Kembali sepasang saudara kembar itu saling pandang dan berteriak senang setelahnya. Keduanya langsung mengajak Lisa masuk dan memperlakukan Lisa bak ratu, rasa senang dihati mereka terlalu besar dengan kenyataan itu


Diam-diam Eric mengintip dibalik celah pintu kamar ayahnya, melihat bagaimana keantusiasan dua adiknya pada Lisa, mereka tampak begitu bersemangat bercerita tentang betapa hebatnya sosok sang kakak pada Lisa, juga Lisa yang mendengarnya penuh rasa penasaran


Eric menghembuskan nafasnya dan tersenyum, lalu mendekat pada sang Ayah yang tersenyum memandang sang putra pulang menghampirinya


"Apa kakak kalian pernah dekat dengan wanita?" tanya Lisa tiba-tiba yang penasaran dengan sosok Eric setelah mendengar berbagai cerita pujian tentang Eric dari bibir remaja kembar itu


"Kakak kami memang disukai oleh banyak gadis, tapi kakak cantik tenang saja, kak Eric tidak pernah peduli dengan mereka. Kakak kami itu tidak punya waktu untuk berkencan dengan wanita, makanya kami senang kakak cantik yang akan menjadi istri kak Eric" jawab Riana tidak henti-hentinya membanggakan sosok kakak laki-lakinya


Lisa tersenyum lega, dia cukup senang mengetahui fakta itu dari orang terdekat Eric. Ternyata dekat dengan orang-orang sederhana bisa menjadi sebuah kebahagiaan yang mendalam bagi hatinya. Lisa tidak pernah tahu itu, karena selama ini dia sibuk mempertahankan arogansinya dan sibuk membungkus wajahnya dengan topeng kemunafikan


Kini dia sadar, dia bisa merasa bahagia hanya dengan sesuatu yang sederhana seperti ini, di hargai dan disayangi oleh orang lain

__ADS_1


......................


__ADS_2