Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
BAB 13


__ADS_3

TRINNGG...!!!


Suara nyaring benda jatuh itu seketika langsung menyadarkan dua insan yang sedang larut dalam cumbuan mereka. Keduanya langsung menjatuhkan pandangan kearah sumber suara. Berdiri disana seorang pembantu yang tampak gemetar ketakutan


"Ma-maaf non. Bibi tidak sengaja" cicit si pelayan rumah Lisa dengan ketakutan, takut mendapat kemarahan dari nonanya


Eric sedikit menyunggingkan senyumnya sembari memegang belakang kepalanya, menatap malu pada si Bibi pelayan. Untunglah Bibi itu memecahkan vas bunganya. Kalau tidak, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia sudah kehilangan kendali tadi, dan hampir saja memperkosa gadis didepannya yang menunduk


Sedangkan Lisa yang seakan baru sadar dari alam bawah sadarnya, sedikit tersentak. Dirinya tadi merasakan pikirannya mendadak blank dan penampilannya sudah tidak karuan. Ia berantakan kini, bahkan sudah hampir setengah telanjang


Lisa memandang wajah Eric. Namun, sejurus kemudian dirinya menunduk dan melangkah pergi dari hadapan Eric yang hanya memandangnya datar. Sepenuhnya mengabaikan pembantu yang entah menolongnya atau mengganggunya


Selepas kepergian Lisa. Eric tersenyum kearah si bibi yang masih terlihat ketakutan, walau Lisa tidak mengatakan apapun


"Tidak apa-apa, Bi. Jangan ketakutan seperti itu. Saya malah ingin berterima kasih pada bibi karena telah menolong saya yang mungkin akan kehilangan kendali, dan melakukan tindakan asusila. Terima kasih, Bi" ujar Eric tersenyum tulus. Si Bibi tampak terharu dengan ucapan Eric


"I-iya tuan... tapi Bibi tetap ingin minta maaf karena sudah mengganggu. Mungkin besok non Lisa akan marah besar sama bibi"


"Bibi tenang saja, itu tidak akan terjadi. Sebaiknya sekarang Bibi pergi tidur." mendengar itu si bibi pamit undur diri meninggalkan Eric yang tersenyum menyentuh bibirnya


"Manis..." gumamnya pelan dan melangkah pergi ke kamarnya. Sedangkan Lisa langsung menjadi berang begitu sampai di kamarnya


"Dasar pria kurang ajar! Bajingan sialan... berani-beraninya dia..." Lisa tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia kesal dan entah apa yang menjadi penyebabnya


Lisa menatap dirinya di cermin besar yang terdapat didalam kamarnya. Menampakkan penampilannya yang tidak baik-baik saja. Belum lagi tanda merah sialan yang kembali tercetak di leher jenjangnya


"Aku akan membunuhmu, pria miskin sialan!" teriaknya sembari menyentuh lehernya pelan. Namun, Lisa harus mengakui, kalau dirinya juga terbuai dalam sensasi yang dirasakan tubuhnya


Sedang dibalik dinding kamar Lisa, Eric tersenyum mendengar teriakan keras penuh kekesalan gadis itu


"Membunuhku! Coba saja kalau bisa," gumam Eric pelan

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi-pagi sekali Lisa sudah melangkahkan kakinya memasuki rumah paman dan sepupu terkasihnya. Sudah lama sekali dirinya tidak mendengar kabar dari sepupunya tersebut. Namun, kabar yang diberitahu oleh pamannya tadi pagi cukup mengejutkan, dan langsung membuatnya mengambil langkah menuju rumah sepupunya. Lisa bahkan sepenuhnya mengabaikan Eric yang hanya memandangnya bingung ketika dirinya pergi dengan terburu-buru


"Katakan, apa maksudnya kamu akan menikah minggu ini?" tanya Lisa langsung pada sang sepupu begitu melihatnya. Jangankan sapaan, gadis itu lebih mementingkan rasa penasarannya akan calon suami dari sepupunya, Vika amanda


"Iya, kau benar. Jadi, apa yang ingin kau dengar dariku?" kata Vika setelah menghembuskan nafasnya pelan akan pertanyaan Lisa begitu bertemu dengannya


"Semuanya... tapi sebelumnya, aku ingin tahu, siapa yang akan jadi calon suamimu. Bukan Markus kan?"


"Bukan," jawab Vika lesu dengan nada ragu. Lisa mendesah lega, dia tidak akan rela sepupu terkasihnya harus menikah dengan Markus disaat dirinya tahu se-brengsek apa Markus itu. Pernah kecewa dengan tiga pria berkelakuan ampas, membuat Lisa sangat tidak setuju jika Vika harus memenuhi sumpahnya menikah dengan pria sampah seperti Markus


"Lalu siapa?" rasa penasaran Lisa semakin bertambah akan sosok pria yang akan dinikahi sepupunya


"Namanya Marcel. Pria yang dulu merenggut ciuman pertamaku."


"Apa! Ja-jadi, pria itu yang menjadi calon suamimu. Tapi, bagaimana bisa kamu menikah dengannya? Bukankah kamu sudah bersumpah tidak akan menikah dengan pria lain, selain Markus."


"Terpaksa... kenapa?" Lisa semakin penasaran menatap fokus pada wajah sepupunya itu


"Karena aku saat ini... sedang... mengandung... anak pria itu," jawab Vika dengan nada keraguan yang menyelimuti, dan Lisa menyadari itu


"Apa!" Lisa cukup terkejut dengan jawaban itu. Dia mengenal sosok Marcel sebagai teman dari budak tampannya, Eric. Tapi, tidak pernah disangkanya, sepupunya hamil dengan pria itu. Apakah dunia sesempit itu? Atau akankah kelak dia juga bisa mengandung anak dari Eric...Lisa menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran liar yang kembali menjalar di dalam otaknya, dan semakin parah setelah kejadian dirinya bermimpi erotis malam itu


"Kamu hamil!" sekali lagi Lisa memastikan pendengarannya tapi masih dengan nada besar yang keluar dari bibirnya. Sontak Vika langsung menutup mulutnya agar terdiam


"Jangan keraa-keras, nanti papa dengar. Papa tidak tahu kalau aku hamil. Jadi, tolong tenanglah, Lisa" ujar sepupunya itu sedikit panik akan reaksinya


"Tapi, bagaimana bisa? Kapan kalian melakukannya?" tanya Lisa lagi sesaat setelah melepas tangan Vika di mulutnya


Tampak sepupunya itu menghembuskan nafasnya pelan dan mulai menceritakan kronologis kejadiannya pada dirinya yang mendengarkannya dengan baik

__ADS_1


"Begitulah kejadiannya." tutup Vika lesu, sedang Lisa tidak dapat menghentikan akan rasa kagumnya. Dia sudah berbinar-binar mendengar cerita sepupunya itu


"Pasti sangat menyenangkan ya?" tanyanya pada Vika yang hanya melongo mendengar pertanyaannya


"Menyenangkan! Kamu gila, Lis. Aku bahkan tidak bisa berjalan selama seminggu karena kebrutalan pria itu" jawab Vika kesal, sedangkan dirinya semakin tertarik untuk mengetahuinya


"Kalau kamu bisa seperti itu. Pasti pria itu sangat perkasa," ucap Lisa semakin dibuat tertarik


"Iya. Marcel memang cukup perkasa, tapi..."


"Ah... kenapa kamu selalu lebih unggul dariku. Dulu kamu yang lebih dulu merasakan bagaimana rasanya berciuman dan sekarang kamu juga sudah merasakan bagaimana rasanya bercin..." perkataan Lisa dengan cepat dipotong oleh Vika


"Semuanya tidak seindah seperti bayanganmu, Lisa"


"Tetap saja aku iri. Aku juga ingin merasakannya, tapi sampai sekarang aku masih belum mengerti dengan hidupku," tutur Lisa saat ingatannya teringat pada kejadian dirinya dengan Eric


"Ingin merasakannya? Sepertinya otakmu sedang bermasalah, Lis" kata Vika menatap tak percaya pada Lisa. Mata tajam Vika dapat dengan jelas menangkap sesuatu yang lain pada leher Lisa


"Apa ini?" tanya Vika sembari menyentuh kulit leher Lisa. Sontak gadis sombong itu menutupi lehernya dan wajahnya berubah memerah


"I-ini, bukan apa-apa kok." Lisa mencoba mengelak. Sedang Vika sudah memicingkan matanya curiga


"Bukan apa-apa katamu! Aku tidak sebodoh itu Lisa. Aku tahu itu apa... aku bahkan mendapat tanda itu hampir di seluruh tubuhku," ujar Vika, sedang Lisa wajahnya semakin memerah


"Baiklah, aku mengaku. Ini memang kissmark" akui Lisa akhirnya. Vika mengangkat alisnya tanda tidak lagi terkejut. Tanda itu sudah sangat jelas terlihat di leher Lisa


.


.


.

__ADS_1


Update karena ada yang minta😁... Sejujurnya saya sudah tidak terlalu peduli dengan novel saya ini... Tetapi karena tidak ingin mengecewakan, saya berjanji akan menamatkan novel ini walau akan sedikit lama✌🏻😁


__ADS_2