
Billy memasuki studionya dengan buru-buru. Dia kesiangan gara-gara mengurusi kawan sok kerennya, Mike, dan juga sahabat super narsisnya, Marcel. Begitu sampai di studionya, Billy hanya bisa melongo. Eric maupun Lisa tidak terlihat batang hidungnya
Billy melihat jam ditangannya yang hampir menunjukkan pukul 13: 20 siang. Dirinya yang terlambat, atau para modelnya yang tidak datang
"Kemana mereka sesiang ini belum terlihat" gumam Billy yang meraih ponselnya. Dirinya menghubungi Eric, tetapi tidak dijawab. Berapa kalipun dirinya mencoba menghubungi sahabatnya itu, tetap saja tidak terjawab. Billy mendesis kesal
"Sebenarnya apa yang sedang dilakukan pria ini sih?" ujarnya kesal yang kemudian mencoba menghubungi nomor Lisa via video call dan tersambung...
πππ
Didalam kamar yang menjadi saksi suatu kejadian telah terjadi, terlihat dua insan yang tertidur dalam satu selimut. Keduanya kelelahan setelah olahraga pagi
Eric merasa terganggu dengan suara ponsel diatas nakas. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka Eric meraihnya dan melihat siapa yang menghubunginya
"Billy" bacanya sambil memencet tombol terima, dan terpampanglah didepannya wajah Billy yang terlihat kesal
"Ada apa?" tanya Eric dengan suaranya yang serak, keadaan pria itu berantakan. Billy mengerutkan keningnya bingung
'Kenapa Eric yang menjawab ponsel Lisa?' tanya batinnya bingung
"Sedang apa kamu?" tanya Billy balik. Eric menjadi bingung
"Ini sudah sangat kesiangan dan kamu masih bertanya ada apa?" lanjut Billy dengan kening yang berkerut curiga. Melihat Eric yang telanjang dada dengan penampilan berantakan, belum lagi ponsel Lisa yang dijawab oleh oleh pria itu
"Jam berapa sekarang?" tanya Eric masih belum sadar dengan keadaannya
"Ric, coba gerakkan ponselnya sedikit lebih ke kiri" suruh Billy mengabaikan pertanyaan Eric dan lebih penasaran pada hal lainnya. Eric mengerutkan keningnya bingung, tapi tetap melakukan apa yang disuruh Billy.
Mata Billy membulat sempurna begitu ponsel yang dipegang Eric bergerak lebih ke kiri. Billy melihat dengan jelas Lisa yang tertidur nyaman dalam pelukan Eric dengan penampilan sama berantakannya dengan sahabatnya itu
"Apa yang kau lakukan? Kau tidur dengan nona Lisa?" tanya Billy tak percaya. Mendengar itu, Eric baru tersadar saat melihat Lisa yang tertidur nyaman sambil memeluk posesif tubuh tak berkainnya. Eric menghembuskan nafasnya pelan, bagaimana dia tidak sadar akan Lisa disampingnya. Apakah senyaman itu dirinya dengan gadis angkuh yang baru saja dikupasnya?
Dengan cepat Eric memutuskan sambungan ponselnya yang membuat Billy diseberang berteriak kesal pada sahabatnya itu yang mematikan panggilannya secara sepihak
"Apa-apaan pria ini! Awas kau ya!" ancam Billy pada ponselnya yang sambungannya telah terputus, lalu perlahan sebuah senyuman tersungging di bibirnya
__ADS_1
"Dia kalah juga ternyata." gumamnya pelan dan melangkah kearah kameranya. Memperhatikan foto Eric dan Lisa dilayar kameranya
πππ
Eric memejamkan matanya kesal setelah mematikan ponselnya. Apa yang telah dilakukannya? Dia memperkosa gadis yang sedang tertidur di pelukannya sekarang. Tidak...wanita ini yang menggodanya, bukan dia yang serius ingin merusaknya. Batinnya mencerna berbagai kemungkinan dan melirik pada Lisa yang perlahan mulai bergerak-gerak dan membuka mata lentiknya.
Untuk beberapa saat mata Lisa berkedip-kedip begitu membuka matanya, dia juga menatap bingung pada Eric yang juga memperhatikannya. Ekspresinya terlihat kebingungan, lalu sedetik kemudian, Lisa spontan bergerak menjauh hingga ringisan kesakitan keluar dari bibirnya. Selang******nya sakit, dan itu akibat perbuatan pria tampan miskin itu
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Eric sedikit khawatir saat melihat gadis itu meringis mesakitan sembari menyentuh pinggangnya
"Apanya yang tidak apa-apa! Apa yang telah kau lakukan padaku?" tanya Lisa dengan wajah galaknya. Gadis sombong itu jelas tahu apa yang sudah terjadi, tapi rasa gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui kesalahannya sendiri. Mendengar pertanyaan itu, Eric menyentuh tengkuknya dengan lesu
'Bagaimana menjelaskannya?' batinnya bertanya
"Ya! Kau bisa lihat sendiri, kan? Pakaian yang berserakan di lantai, kita tidak berpakaian, darah di tempat tidur dan juga keadaan kita berdua yang berantakan" jawab Eric tanpa mau repot-repot menjelaskan panjang lebar. Sebutkan saja intinya, karena Lisa sudah jelas tahu maksudnya tanpa perlu dijelaskan panjang kali lebar
"Brengsek, kau memperkosa diriku!" tuding Lisa sambil menarik selimut menutupi dadanya, tidak peduli karena sikapnya itu hampir memperlihatkan seluruh tubuh Eric. Dengan sigap Eric juga menarik selimut itu, menahannya agar tidak sepenuhnya ditarik oleh Lisa
"Salah dirimu sendiri. Aku sudah menyuruhmu untuk mengganti pakaian yang pantas, dan apa yang kau lakukan? Lihat akibatnya, kan?"
"Tetap saja kamu yang salah." Lisa tidak mau kalah, semakin keras menarik selimut yang ditahan Eric. Pria itu masih berusahan mempertahankan selimut itu sebagian untuk menutupi organ vitalnya, walau.kini tubuh atletisnya terpampang jelas dihadapan Lisa. Eric menghembuskan nafas lelahnya
"Kamu pikir segampang itu untuk melepaskan diri. Kamu harus tanggung jawab! Kamu harus menikahiku," ujat Lisa keras. Eric mengerutkan keningnya. Dari awal dirinya memang tidak ada niat untuk lari dari tanggung jawab. Tapi, yang membuatnya bingung, gadis itu bahkan dengan santainya meminta pertanggung jawabannya. Apa gadis itu tidak masalah menikah dengan pria miskin seperti dirinya
"Oke...aku akan menikahimu, tapi apa kamu mau menikah dengan pria miskin sepertiku?" tanya Eric. Lisa mendelik kearah Eric
"Apa aku punya pilihan? Aku tidak mau mengandung diluar nikah" ujar Lisa semakin gencar menarik selimut itu. Apalagi kini kekesalan menggerogoti hatinya saat pria itu mengeluarkan pertanyaan yang sangat tidak disukainya itu. Lisa semakin keras menarik selimut itu
Eric juga ikutan kesal oleh ulah gadis itu yang semakin menarik selimutnya. Eric yang juga terlanjur kesal dengan segenap tenaganya menarik selimut itu. Hingga dalam sekali hentakan selimut beserta tubuh telanjang gadisnya berhambur kedalam pelukannya. Lisa yang tersentak, memandang polos wajah Eric dibawahnya
"Jangan main-main dengan selimutnya!" ujar Eric pelan dan dalam. Lisa dengan keras memukul dada bidang itu, tidak peduli kalau kini tubuh polosnya dapat dilihat dengan jelas oleh Eric
"Dasar bajingan sialan..." umpat Lisa kesal. Eric menangkap tangan itu hingga terhenti memukulinya
"Berhenti bergerak Lisa! Kalau kamu tidak ingin apa yang terjadi tadi pagi terulang kembali"
__ADS_1
"Kamu pikir aku peduli! Aku akan terus memukulmu sampai aku puas. Dasar bajingan tampan sialan" ujar nya tanpa sadar. Masih sempat-sempatnya gadis itu menyelipkan kata pujian dalam kalimat umpatannya. Eric mengulum senyum mendengarnya dan dengan cepat membalikkan tubuhnya berbalik menindih tubuh polos Lisa yang terlihat kesal, apalagi tangannya yang masih menjegal kuat tangan gadis itu
.
.
.
Pict 4 sekawan
Eric mananta ( Si miskin rupawan) Tenang, diam-diam menghanyutkan
Billy Anderson( si playboy menawan) julider sejati yang ternistakan
Marcel Raveno( Si Hyper tampan) Bodo amat yang penting istri mana
Mike, Michael ananda ( Si bajingan jantan) penyesalan yang sangat terlambat
Pict couple this novel
Eric
Lisa
__ADS_1
Yang gak sesuai bayangan visualnya boleh diganti
Kritik dan sarannyaππ