
Tangannya di jegal dan tubuhnya juga ditindih tubuh besar pria itu, Lisa menatap pada pria yang juga menatapnya dalam
"Apa yang ingin kau lakukan bajingan?" Lisa mulai khawatir saat melihat tatapan penuh hasrat Eric. Dia masih kesakitan dan pria ini ingin mengulanginya lagi, yang benar saja?
"Memakanmu! Kebetulan aku belum sarapan" begitu santai jawaban itu keluar dari bibir Eric, sedang mata Lisa membulat mendengarnya
"Aku juga belum sarapan. Lepaskan aku, aku masih sangat kesakitan" kata Lisa berontak. Eric mengangkat alis acuh
"Kamu pikir aku peduli! Kamu sendiri yang memulainya, Lisa. Jadi, lakukan saja sampai akhir" kata Eric dan mulai melancarkan serangannya. Dia kembali mencium Lisa secara bertubi-tubi, membiat gadis itu gelagapan menerima serangan mendadak itu
Tangan Eric kembali bergerak nakal, menggerayangi tubuh polos Lisa dibawahnya, membuat gadis itu kembali mengumandangkan suara laknat yang ditahannya. Lisa bahkan sudah kembali lupa dengan niatnya yang ingin memberontak. Gadis itu membalas setiap perlakuan Eric dengan memdamba, tidak peduli dengan tubuhnya yang masih kesakitan, dan dengan sangat perlahan Eric kembali menyatukan tubuh mereka berdua, membuat Lisa mengerang didalam pelukan prianya.
Para pelayan diluar kamar, memandang prihatin pintu kamar nona mereka. Bagaimana tidak? Hari sudah menjelang sore, sedangkan Lisa maupun Eric belum ada yang keluar dari kamar itu, keduanya bahkan belum menyentuh makanan apapun
"Kamu harus menikahiku minggu ini juga! Berani sekali kau menyentuhku lagi. Apa sekarang kau kecanduan dengan tubuhku?" tanya Lisa berani setelah selesai dari pelepasannya. Gadis itu bahkan tidak lagi peduli dengan rasa malu dan sakit yang mendera tubuhnya, dia memeluk posesif tubuh polos Eric
"Iya! Kita menikah minggu ini, dan kenapa juga kau membalas perlakuanku" jawab Eric sekenanya. Matanya terpejam memikirkan apa yang baru saja dilakukannya. Eric merasa dirinya yang sekarang bukanlah dirinya. Sikap mereka sekarang bisa disebut terlalu santai setelah apa yang terjadi dengan keduanya
Dalam beberapa detik mereka terdiam, bahkan ponsel Lisa pun sudah dimatikan oleh Eric, supaya Billy tidak dapat lagi menghubungi ponsel Lisa. Ia bahkan tidak peduli dengan ponselnya sendiri, entah dimana ponselnya sekarang berada
__ADS_1
"Itu karena aku tidak punya pilihan lain" jawab Lisa juga sekenanya. Eric spontan membuka matanya mendengar jawaban itu dan memandang Lisa yang masih setia memeluk posesif tubuhnya. Apa yang baru saja dijawab gadis itu? Tidak punya pilihan! Yang benar saja? Lisa bahkan bisa memberontak menghantam dirinya tadi, tapi gadis itu malah melarutkan diri dalam perbuatan nistanya. Eric ingin sekali tertawa dengan tingkat gengsi seorang Lisa
"Ah sudahlah! Aku lapar, ingin makan," ujar Lisa sambil bangkit mendudukan diri dan mengikat rambutnya yang terurai dengan santai, tak peduli dengan selimut yang melorot dan menampilkan tubuh bagian atasnya tepat didepan Eric yang membulatkan matanya
'Gadis ini benar-benar berani' Eric membatin resah
Adakah yang akan percaya kalau gadis itu mengatakan dia diperkosa dengan sikap santainya seperti sekarang? Eric tidak yakin akan hal itu. Tidak ada wanita yang akan bersikap sesantai ini didepan pemerkosanya, yah! Selain Lisa anita, gadis angkuh yang gengsian
Eric akhirnya juga mendudukkan diri dan menarik selimut mencoba menutupi tubuh Lisa
"Jangan seperti ini, atau aku tidak akan membiarkanmu bebas dari ranjang seharian ini," kata Eric yang secara diam-diam menelan liurnya memandang dada Lisa yang menggantung dengan indah. Dada yang mungkin tidak akan cukup untuk dinikmatinya. Lisa memicingkan matanya memandang pria tampannya
"Dasar bajingan! Aku bilang, aku lapar. Kamu ingin lihat aku mati kelaparan," ujarnya sambil menyingkirkan selimut itu dan bergerak ingin turun dari ranjang, sepenuhnya mengabaikan ketelanjangannya.
Ia sedikit tahu tentang rasa sakit itu. Walau bagaimanapun dua sahabat brengseknya pernah membicarakan pengalaman mereka saat pertama kali menyetubuhi istri mereka masing-masing. Eric bahkan tak dapat membayangkan apa yang dua sahabatnya lakukan. Mike yang melakukannya dalam kemarahan dan pastinya kasar, serta Marcel yang dalam pengaruh obat saat itu. Eric tidak perlu menjelaskan apa yang sahabat dekatnya itu lakukan saat itu, otaknya bahkan tidak sampai pada tahap itu. Yah! Setidaknya sampai hari ini, dimana dia merasakan sendiri surga dunia itu
"Dasar maniak sialan! Kamu harus tanggung jawab. Aku tidak bisa berjalan" Lisa mendesis tajam sembari menatap nyalang pada pria tampan itu. Eric mencoba bangkit, namun segera terhenti saat melihat Lisa terus menatapnya santai
"Pejamkan matamu!" suruh Eric singkat. Lisa mendelik kesal
__ADS_1
"Tidak mau! Kenapa aku harus memejamkan mataku?" Eric menghembuskan nafasnya lelah
"Aku bukan dirimu, Lisa. Pejamkan matamu! Aku harus mengambil handuk"
"Tidak mau! Memang apa salahnya aku melihatnya. Toh aku juga sudah melihat semuanya tadi..." ujar Lisa yang berakhir dengan cicitan diakhir kalimatnya. Wajahnya memerah dengan mata yang tertuju pada bawah pinggang Eric yang tertutupi selimut. Gadis itu akan tetap pada pendiriannya, dia tidak mau mengalah. Eric terkekeh kecil sembari membuang wajahnya. Lisa yang seperti itu terlihat manis didepannya, wajah angkuh yang malu-malu itu terlihat imut
"Kalau begitu palingkan saja wajahmu"
"Tidak mau!" Lisa menjawab tegas. Eric menyentuh kepalanya sembari menggeleng. Akan sulit baginya mengurus gadis keras kepala didepannya
"Oke, Baiklah! Sepertinya kamu memang tidak ingin bebas dari ranjang seharian ini" ujar Eric mulai mendekati Lisa kembali
"Baiklah...akan kupejamkan mataku" teriak Lisa cepat saat Eric bergerak kearahnya kembali. Dia sangat kelaparan, apalagi mereka menghabiskan banyak energi untuk kegiatan mereka itu. Lisa mulai memejamkan matanya
"Bagus! Gadis pintar," kata Eric mulai bangkit memungut celananya yang berhambur dilantai. Setelah memakainya, Eric mendekat pada Lisa yang masih setia memejamkan matanya. Eric tersenyum memandang keadaan gadis itu. Rambut Lisa kini sudah diikat dengan sembarangan, tubuh gadis itu penuh dengan tompel ungu kemerahan maha karya dirinya, belum lagi bibir Lisa yang membengkak. Eric sadar. Lisa sudah sepenuhnya menjadi miliknya, tinggal menghadapi sikap menyebalkan gadis itu saja sekarang
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan sarannya🙏🙏