
Eric pulang diantar oleh Billy yang terus bertanya apa yang terjadi pada saat di pestanya Lisa. Billy juga bertanya apa Sesuatu terjadi antara dirinya dengan wanita bernama Lisa itu. Namun Eric memilih diam tidak ingin menjawab satu pun pertanyaan sahabatnya itu
" Oke baiklah, jika kamu tidak ingin menjawabnya tapi aku punya satu permintaan padamu" Eric langsung memandang sahabatnya itu seakan bertanya apa permintaan Billy padanya
" Aku mohon jadilah salah satu model ku" pinda Billy dengan sangat. Mendengar itu Eric langsung membuang muka. Menjadi model majalah dewasa? Yang benar saja! Billy sudah gila menyuruhnya melakukan itu dan Eric belum lah ikutan gila seperti sahabatnya itu . Eric menggeleng tanda tidak mau menerima tawaran itu. Melihat gelengan itu Billy tidak mau patah semangat membujuknya
" Ayolah Ric, aku kekurangan model pria saat ini dan tubuhmu sangat cocok untuk itu, apalagi ditambah dengan wajahmu yang tampan" bujuk Billy masih mencoba peruntungannya dalam mendapatkan Eric sebagai modelnya
" Tidak mau" jawab Eric lancar dengan jawaban singkatnya. Billy menghembuskan nafas lesunya, sangat sulit baginya untuk meluluhkan Keinginan kuat sahabatnya itu
" Oke baiklah! Kamu pikir-pikir saja dulu, mungkin saja nanti kamu berubah pikiran. Kalau nanti kamu sudah ingin melakukannya jangan lupa untuk menghubungiku ya?" ujar Billy yang sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari Eric. Eric hanya duduk melamun tanpa mendengarkan apa yang baru saja disampaikan sahabatnya. Pikirannya sedang tidak dapat memikirkan tentang apapun sekarang
Sesampainya di rumah Eric langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Eric menghidupkan keran yang langsung meluncurkan air ke atas tubuh atletisnya. Tubuh yang menciptakan otot-otot indah karena kerja kerasnya semenjak remaja. Matanya terpejam di bawah pancuran air keran yang dinyalakannya. Pikirannya masih membayangkan tubuh Lisa dan apa yang dilakukannya pada gadis itu
__ADS_1
Bohong! Jika dia tidak ingin melakukan sesuatu yang lebih pada gadis itu. Rasa manis dari ciuman pertamanya seakan masih tersisa dan Eric mengerang ketika mengingatnya. Pancuran air yang mengenai tubuhnya sama sekali tidak memadamkan jiwa membara dalam dirinya. Jiwanya sebagai laki-laki normal dewasa mulai menguar. Dia menginginkan gadis itu. Namun Eric Sadar dirinya bukan lawan yang sepadan dengan Lisa, sang gadis sombong yang anggun tapi mematikan.
๐๐๐
Warna merah itu begitu mencuat di lehernya, membuat Lisa menggeram kesal. Gara-gara tanda itu dia menjadi objek yang selalu diperhatikan oleh setiap orang yang di lewatinya dan orang-orang itu juga tampak seperti menahan tawa geli saat melihatnya. Itu semakin membuat Lisa kesal, terutama terhadap pria sialan yang menjadi dasar masalahnya
Lisa mencoba menghapus Tanda itu di lehernya namun bukannya menghilang tanda itu malah semakin menonjol mempermalukannya. Dengan kesal Lisa berjalan mendekati ranjangnya. Dia masih tidak dapat melupakan kejadian yang terjadi antara dirinya dengan si pria miskin itu.
Tidak pernah disangkanya pria itu sebegitu beraninya dengan dirinya. Pria miskin itu bahkan berani mencium bibirnya, menyentuh dadanya dan dengan sialannya menciptakan tanda sialan itu di lehernya dan di bahunya. Namun dibalik itu semua Lisa merasakan sesuatu yang lebih didalam dirinya yang bahkan tidak diketahuinya
Lisa merasakan tubuhnya menggelinjang menahan kenikmatan. Dengan perlahan dirinya membuka kelopak mata indahnya dan mendapati sebuah senyuman indah yang menawan di seorang pria tampan rupawan yang kini berada tepat di atas tubuhnya. Pria itu, adalah si pria miskin yang menciumnya tempo hari. Lisa meremas seprai dengan kuat saat kenikmatan menderanya. Dia men*esah menahan sesuatu yang menggelora didalam jiwa
" Kamu sangat cantik sayang" ujar si pria membelai wajah cantik Lisa yang berkeringat. Lisa mencoba fokus memandang wajah tampan di atasnya namun sial! Lisa tidak dapat menahannya saat si pria kembali menyatukan tubuh mereka berdua
__ADS_1
" Eeumm Eriic..sshh" desahnya menggelinjang saat tangan kasar Eric berada di dadanya dan sebelah lagi membelai pinggangnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Lisa merasakan dirinya hampir kehilangan akal, dia bahkan menggumam nama Eric untuk beberapa kali dengan mesra
Eric tersenyum dan langsung menyumpal mulut Lisa dengan bibirnya menyisapi manisnya bibir itu dengan bertubi-tubi dan membenamkan wajahnya dilakukan leher sang gadis sedang tubuh mereka menyatu membuat Lisa memekik dalam siksaan kenikmatan dan memeluk tubuh kekar itu erat melampiaskan apa yang dirasanya hingga keduanya mencapai puncak permainannya, membuat Lisa mendesah liar. Namun semuanya mendadak berkabut, Lisa terbangun dengan nafas terengah-engah dan wajah berkeringat. Dengan cepat dirinya menyentuh tubuhnya memeriksa badannya, pakaiannya masih lengkap sama seperti saat pertama kali dia tidur, namun Lisa merasakan seakan-akan semua itu nyata
Sentuhan Eric di pinggangnya seakan baru saja terjadi dan daerah sekitar pahanya basah. Dia mengalami mimpi erotis dengan pria miskin itu. Lisa bangun dari rebahannya masih menyentuh semua bagian tubuhnya, dia tidak percaya itu semua hanya mimpi. Senyuman pria itu benar-benar nyata, sentuhannya terasa nyata, ciumannya seakan masih tersisa. Lisa hampir gila dia menginginkan pria itu! Hanya pria miskin itu bukan yang lain. Lisa akan membuat perhitungan dengan pria itu.Berani-beraninya pria itu mendatangi mimpinya dengan begitu erotis
Lisa kembali membaringkan tubuhnya mencoba tidur namun dirinya tak dapat kembali tertidur Ketika bayang-bayang mimpi itu bermain di pikirannya
.
.
.
__ADS_1
Kritik dan saran diharapkan๐๐