
Billy tersenyum lebar mengamati hasil tangkapan kameranya. Senyumnya semakin lebar ketika melihat gerak-gerik sahabatnya. Terlihat sekali Eric yang kini sudah lebih berani dalam bertindak. Namun, gerakan pose pria itu tampak kentara sekali ingin menutup bagian tubuh Lisa dengan tubuhnya. Eric tidak ingin Lisa terlihat di kamera dengan jelas
"Dia benar-benar melakukannya!" ujar Billy memandang Eric yang mengecup pelan lekukan leher Lisa. Sedangkan Gadis itu duduk di pangkuan sang sahabat. Eric tidak ingin membuang kesempatan hingga Billy berteriak supaya mereka berganti gaya. Eric berbisik pelan di telinga Lisa
"Anda memilih tempat yang salah nona! Aku tidak akan menahan diri sekarang. Bukankah aku pernah berkata! Aku menyukai wanita berpakaian minim apalagi wanita telanjang, dan Anda malah melibatkan diri dalam pekerjaan ini" bisik Eric dengan tatapan berkabutnya. Lisa Mencoba membalas dengan gaya angkuhnya, akan tetapi semua itu percuma. Lisa tak bisa tidak tersentak dengan pemberitahuan itu. Dia memandang polos ke arah Eric seperti kebanyakan gadis pada umumnya.
"Sekarang kalian harus melakukan pose berciuman" teriak Billy lantang. Lisa tersentak, sedangkan Eric hampir menyemburkan minuman yang sedang diminumnya. Pandangan pria itu tertuju pada Billy sang sahabat yang tersenyum tanpa dosa. Ini rencananya dan semakin membuat Eric kesal. Billy sadar Eric mencoba menutupi tubuh Lisa dengan badannya saat berpose tadi. Eric tidak ingin tubuh Lisa terlalu mencolok. Namun, adegan apa sekarang? Berciuman! Yang benar saja? Billy sudah tidak waras
Erik memandang Lisa yang tampak tegang. Mereka berhadapan sekarang. Terlihat gadis cantik itu gugup, Eric menyadarinya. Perlahan Eric menyentuh lengan gadis itu, membuat Lisa mendongak. Saling bertatapan, Eric memandang datar Gadis itu, Sedangkan Lisa dengan tatapan polosnya
Saat Billy mulai berteriak. Eric menarik Lisa kedekatnya dan mencium bibirnya. Itu hanya ciuman lembut tanpa nafsu. Namun, ciuman seringan bulu itu mampu membuat Lisa menegang hingga Billy kembali berteriak untuk mengulang pose. Eric melepas pelan ciumannya dan menatap Lisa dengan tatapan berkabutnya. Kepalanya dimiringkan memandang Gadis itu seakan bertanya
"Kenapa kau tegang?" Lisa mengerjap memandang pria itu dan tersadar dengan kesalahannya
Billy kembali berteriak, menyuruh modelnya untuk kembali bergaya. Eric kembali menarik tengkuk Lisa dan menciumnya lembut, kini ciumannya lebih menuntut. Lisa yang merasa bersalah dengan kesalahan yang dilakukannya tadi membalas ciuman itu dalam. Kakinya berjinjit serta tangan yang melingkar pada tengkuk Eric, matanya terpejam menikmati bibirnya yang bertautan dengan bibir Eric
"Aku mencintainya! Aku mencintai pria miskin ini." bisik batinnya sambil terus membalas kecupan-kecupan yang dilayangkan Eric. Billy yang sedang memegang kameranya tersenyum memandangi pemandangan itu. Rencananya sejauh ini berhasil. Bukankah dia terlalu baik sebagai seorang sahabat?
__ADS_1
🍀🍀🍀
Erik kembali pulang ke rumah Lisa pada malamnya, hatinya penuh dengan rasa dongkol. Ada rasa tidak rela jika majalah Billy memamerkan tubuh Lisa. Dia memasuki kamarnya yang berada tepat di sebelah kamar gadis sombong itu. Sebelumnya dia memandang pintu kamar Lisa yang diyakininya Gadis itu ada di dalam sana. Gadis sombong itu tadi pulang lebih awal darinya.
Eric menghembuskan nafasnya seraya menghidupkan shower membiarkan tubuh atletisnya tersiram dinginnya air. Setidaknya dia harus mendinginkan tubuhnya saat hatinya kini memanas. Ingin sekali dirinya menyuruh Lisa untuk berhenti menjadi model majalah Billy, tapi dirinya yakin Gadis itu akan keras kepala menolaknya dan dirinya juga tidak punya hak untuk menyuruh gadis sombong itu untuk berhenti
Eric mulai berpikir bagaimana menghentikan Gadis itu dari pekerjaannya sebagai model majalah Billy. Dirinya juga baru saja menerima Uang gajian dari Billy dan nominalnya lumayan besar. Dirinya berencana menggunakan uang itu untuk membayar utang pada Lisa, Eric ingin segera lepas dari Lisa sebelum semuanya terlambat. Dia tidak ingin menjadi budak Gadis itu untuk selamanya. Budak dalam artian lain, ada rasa ingin memiliki dalam dirinya terhadap gadis angkuh itu.
Eric menarik rambutnya pelan akan pemikiran kotornya dan membiarkan tubuhnya seluruhnya basah oleh air. Ada jiwa liar yang meronta ingin dilepaskan dalam dirinya
Eric turun menuju dapur, dirinya kelaparan ingin mencari makanan namun apa yang dilihatnya sekarang! Lisa mendekat ke arahnya dengan Pakaiannya yang cocok disebut tidak pantas dipamerkan di depan dirinya ini
Gadis itu menarik tangan Eric yang hanya melongo berjalan ke meja makan
"Ada apa dengan pakaianmu?" tanya Eric datar walau tidak dengan sesuatu yang lain ditubuhnya. Bagaimana tidak! Ini sudah malam dan Gadis itu hanya memakai sebuah kemeja putih yang tipis hingga memperlihatkan bayang-bayang tubuhnya yang menggoda
"Kenapa memang?" tanya Lisa agak menantang, terlihat jelas Gadis itu sedang memancing hasrat diri Eric
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, hanya saja itu tidak pantas dipakai saat ini. Ingat! aku ini bukan suamimu," jawab Eric sekenanya sambil memasukkan makanan ke dalam piringnya
"Siapa juga yang bilang kau itu suamiku, dan soal cara berpakaianku, itu hakku! Bukan urusanmu. Kamu itu hanya budakku, tidak usah sok ngatur" jawab Lisa sedikit kesal. Eric hanya mengangkat alis tak peduli walau jujur dirinya sudah ingin lepas kendali untuk mengupas gadis nakal itu. Bagaimana tidak? Belahan dada Gadis itu terlihat begitu jelas begitu pula dengan paha mulus itu
Eric mencoba menghilangkan pikirannya dengan makanan yang dimakannya akan suapan besar-besar
" Kenapa kamu menjadi model majalahnya Billy?" lidah Eric kelu untuk bertanya
"Suka-suka aku! Kenapa memangnya? Kamu nggak suka?" jawab Lisa yang judes. Eric tak menjawab lagi. Wanita itu benar-benar membuat dirinya kepanasan untuk menariknya ke dalam kamar
Lisa juga sedikit menghentakkan kaki dengan wajah yang kesal melihat Eric yang terlihat santai bahkan, pria itu terlihat tidak peduli padanya
'Apa tubuhnya begitu tidak menariknya di depan pria miskin Tampan itu?'
__ADS_1
Kritik dan sarannya 🙏🙏