
Lisa merasa begitu canggung dan malu saat sang sepupu menatapnya dengan tatapan menggoda
" Dan siapa pria beruntung itu?"
"Bukan siapa-siapa. Dia hanya pria miskin yang tampan," ujar Lisa. Vika tersenyum
"Sepertinya kamu telah menemukan pujaanmu, Lisa"
"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Vika. Apa yang terjadi pada kami itu kecelakaan." Lisa kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya pada sang sepupu
"Begitupun dengan apa yang menimpaku. Apa yang terjadi atasku, juga kecelakaan, Lisa"
"Jadi, intinya kita sama-sama kecelakaan dan dampak padamu lebih parah dari apa yang menimpaku. Kasihan sekali dirimu, Vik" tutur Lisa yang membuat Vika tertawa. Vika jelas tahu kalau sepupunya itu sebenarnya iri padanya
"Tapi aku akan segera menikah lho... lalu bagaimana denganmu?" balasan dari sang sepupu cukup menohok gadis sombong itu
"Iya...iya...iya. kamu menang saat ini. Tapi lihat saja! Aku akan segera menyusulmu" Lisa membalas jumawa akan jawaban sang sepupu
"Memang siapa yang mau menikahi wanita galak sepertimu?"
"Banyak pria yang mau kok denganku. Yah, akunya saja yang belum menemukan yang cocok," kata Lisa penuh percaya diri. Sedang Vika semakin melebarkan tawanya
"Ya, semoga saja ada"
__ADS_1
πππ
"Akhirnya kamu datang juga, Ric" seru Billy mendekati Eric yang sedang meletakkan barang bawaannya. Dia baru saja resign dari pekerjaannya di restoran
"Sekarang apa yang harus kulakukan?" tanya Eric malas untuk berbasa-basi. Billy tersenyum menampilkan lesung pipi menawannya. Pria playboy itu memang terkenal manis. Billy membawa Eric ke suatu ruangan dan memberikan map yang berisikan surat keterangan kontrak kerja Eric dengannya
"Kamu tanda tangani itu dulu. Itu kontrak kerja kamu denganku... kamu boleh membacanya dulu sebelum menanda tanganinya," kata Billy masih tersenyum. Eric mengambil map berisi kontrak itu dan membubuhkan tanda tangannya tanpa peduli dengan isinya. Eric sepenuhnya percaya pada sahabatnya, Billy
Dan disinilah dirinya saat ini, berdiri didepan Billy yang memegang kamera dengan pakaian minim, memamerkan tubuh atletisnya dan bergaya sesuai dengan apa yang di instruksikan oleh Billy
"Wow... kamu benar-benar luar biasa, Eric. Kenapa tidak dari dulu saja kamu menjadi modelku! Pasti majalahku akan booming tahun ini dengan model sepertimu. Tubuhmu benar-benar menggoda... aku bahkan tidak percaya kalau ototmu itu terbentuk dari pekerjaan beratmu! Padahal kami harus ke Gym dulu untuk memiliki otot seperti itu" celoteh Billy sambil memeriksa kameranya. Menikmati tangkapan gambar Eric di tangannya
"Apa masih ada lagi yang harus kulakukan?" tanya Eric gerah. Dia bahkan sama sekali tidak peduli dengan ocehan panjang lebar sahabatnya, Billy
"Tunggu dulu! Kita harus mengambil beberapa gambar lagi," Eric mengangkat bahu acuh dengan ujaran sahabatnya itu. Ia berjalan mengambil pakaiannya dan pergi dari hadapan Billy yang tersenyum misterius
πππ
Lisa pulang kerumahnya setelah dari kediaman sepupunya. Ia tak habis pikir dengan kelakuan Vika, namun dirinya juga tidak mau ambil pusing dengan semua masalah sepupunya itu.
Lisa melangkah hendak membuka pintu karena dia memang tidak mempekerjakan orang untuk tugas itu. Tangannya terhenti di udara saat tangan seorang pria sudah lebih dulu menggapai gagang pintu. Pria itu tersenyum manis kearah Lisa yang mukanya mendadak memerah. Ia teringat pada kejadian tadi malam antara dirinya dengan si pria
"Darimana saja kamu?" tanya Lisa sekadar untuk mengalihkan wajah memerah malunya
__ADS_1
"Aku bekerja nona besar. Memang bisa apa lagi yang ku kerjakan?" jawab Eric asal
"Tapi ini sudah sangat malam! Bukankah jam kerjamu hanya sebatas sore?"
"Aku ambil jam kerja tambahan, daripada aku pulang cepat namun tidak ada yang bisa ku kerjakan di rumah ini." jawab Eric dengan santai. Pria memperhatikan penampilan pria itu baik-baik. Eric pulang dari pekerjaannya dalam keadaan rapi dan segar, bahkan pria itu terlihat lebih stylist dan masih begitu wangi. Gadis itu mendadak curiga dengan pekerjaan tambahan yang di geluti Eric. Pria itu tidak mungkin bekerja jadi simpanan tante-tante kan?
"Apa nona butuh tenaga saya saat ini?" tanya Eric. Lisa yang masih memicingkan matanya menatap curiga pada Eric
"Apa pekerjaan tambahanmu?"
"Bukan hal besar dan tidak perlu nona besar untuk mengetahuinya. "
"Kau tidak menjadi simpanan tante-tante genit, kan?" Lisa dengan polosnya menyuarakan isi pikirannya. Eric tersenyum simpul mendengarnya. Kenapa mendadak Lisa jadi ingin tahu tentang dirinya, dan Eric juga merasakan permainan yang dilakukan gadis kayanya semakin menarik
"Awalnya aku berencana seperti itu, tapi aku belum berencana jadi simpanan" jawab Eric masih juga tersenyum. Apalagi saat matanya menangkap wajah bingung Lisa akan jawaban tidak jelasnya
"Ya sudah kalau tida ada yang perlu ku lakukan. Aku masuk duluan! Aku ingin istirahat!" kata Eric melangkah lebih dulu melewati Lisa yang tampak bingung menuju arah kamarnya
"Hey! Hey! Tunggu dulu... kamu harus menemaniku makan malam!" teriak Lisa kesal mengikuti langkah Eric yang bersikap layaknya dialah bos gadis itu
.
.
__ADS_1
.
Kritik dan sarannya kawanππ