Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
BAB 11


__ADS_3

Lisa tertidur dan Eric memfokuskan diri menatap pada wajah Lisa yang terpejam. Tatapannya terlihat dalam


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan wanita ini?" batinnya bertanya-tanya. Lisa tampak sangar dan angkuh. Namun kini yang terlihat di matanya adalah, gadis sombong itu tampak rapuh dan menyedihkan. Mungkinkah sifat sombong yang ditunjukkan Lisa selama ini adalah cara wanita itu menutupi kerapuhan dirinya. Eric tidak dapat berpikir lagi, hingga dia juga tertidur memeluk gadis itu dengan erat


Malam beranjak menjadi pagi buta. Eric terjaga dari tidurnya dan dilihatnya Lisa masih tertidur nyaman diatas dada bidangnya. Dengan perlahan Eric memindahkan tangan Lisa dari pinggangnya dan meletakkan wajah gadis itu dengan sangat perlahan. Berhati-hati agar gadis itu tidak terjaga. Kemudian Eric bangkit dari ranjang hendak pergi dari kamar itu. Namun, mata tajamnya berhasil menangkap botol obat kecil di atas nakas. Eric meraihnya dan memperhatikan obat itu. Wajahnya berkerut


"Obat depresi!" batinnya berujar. Eric kembali memandang wajah damai Lisa yang masih tertidur


"Jadi, wanita ini mengonsumsi obat ini!" pikirnya tak percaya jika gadis seperti Lisa mengonsumsi obat ini. Berarti wanita ini sedang banyak pikiran atau mungkin sedang banyak masalah. Eric langsung mengambil botol obat itu dan keluar dari kamar Lisa


πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi harinya, Eric keluar dari kamarnya di lantai dua. Dia turun menuju meja makan. Saat dirinya turun dari tangga hendak berangkat bekerja, tangannya tiba-tiba ditarik oleh si gadis yang tersenyum penuh keangkuhan kearahnya


"Ada apa?" tanya Eric langsung


"Apa semalam kamu datang ke kamarku?" tanya Lisa juga yang malas untuk basa-basi saat ini


"Tidak." jawab Eric cepat. Dia tidak ingin berurusan lebih jauh dengan gadis itu. Lisa memandangnya curiga


"Yang benar?"


"Tidak, buat apa aku ke kamarmu?" tanya Eric balik saat melihat Lisa tidak mempercayainya


"Jadi kamu tidak masuk ke kamarku semalam?" Eric mengangguk. Lisa menghembuskan nafas lesunya


'Jadi, yang dia alami semalam adalah mimpi bukan kenyataan' pikirnya.

__ADS_1


Lisa menjadi kecewa. Dia berharap kalau pelukan pria itu semalam adalah kenyataan bukan mimpi. Lisa terlalu sering memimpikan pria itu akhir-akhir ini, bahkan mimpi terliar sekalipun hingga batinnya menjadi bertanya-tanya tentang apa yang sedang menimpa dirinya


"Kenapa memangnya?" tanyanya mencoba memancing gadis itu. Lisa tersenyum dan langsung menarik pria itu turun menuju meja makan


"Tidak ada apa-apa, ayo makan."


"Hei! Aku harus berangkat kerja," kata Eric sambil mengikuti langkah Lisa yang menarik darinya


"Kita makan dulu, baru berangkat." Lisa langsung mendudukkan Eric di kursi dan menyuruhnya sarapan. Sedangkan Eric memandangi gadis itu tidak percaya


Dia budak gadis itu, namun diperlakukan bagai seorang pangeran. Karena tak ingin berdebat Eric akhirnya memilih memakan sarapannya


"Boleh aku tahu bagaimana tipe wanita yang kau sukai?" tanya Lisa tiba-tiba yang membuat Eric menyemburkan makanannya, sedangkan Lisa duduk tenang memperhatikan pria itu


"Untuk apa kamu bertanya pertanyaan seperti itu?"


"Bukan apa-apa sih! Aku Hanya penasaran. Bagaimana tipe seorang pria miskin sepertimu?" Eric tersenyum tipis. Sepertinya dia bisa mengerjai gadis itu


"Kurang ajar! Dasar mesum." umpat Lisa kesal. Eric tersenyum


"Kenapa mengumpat? Bukankah kau ingin mengetahui tipeku. Ya, itulah tipeku," kata Eric lagi melanjutkan sarapannya.


Lisa mengeram, pria itu benar-benar mempermainkannya. Lisa mengaduk-ngaduk makanan dalam piringnya dengan kesal sedangkan Eric diam-diam tersenyum melihat tingkah gadis itu. Entah kenapa Eric mulai merasa kalau ini semua menjadi menarik baginya


πŸ€πŸ€πŸ€


Langkah Billy terhenti saat dilihatnya salah satu sahabatnya berdiri di studionya.

__ADS_1


"Eric! Sedang apa kau di sini?" tanyanya bingung


"Ingin bertemu denganmu." jawab Eric singkat. Billy semakin bingung


"Tumben-tumbenan kau menemuiku langsung. Ada apa? Kau perlu bantuan?" tanya Billy. Eric memandangnya datar


"Aku sudah berpikir, aku akan menerima tawaranmu untuk menjadi modelmu" jawab Eric mantap. Billy menatap tak percaya wajah sahabatnya itu. Apa pendengarannya tidak salah dengar, Eric mau menjadi modelnya yang selama ini ditolak mati-matian oleh pria itu


"Kenapa berubah pikiran tiba-tiba begini?" tanyanya


"Aku butuh uang banyak untuk bayar utang dan aku tidak ingin menyusahkan kalian lagi. Jadi, aku akan menerima tawaranmu dengan bayaran yang setimpal" jelas Eric datar. Billy tersenyum senang


"Tentu saja kawan, aku akan membayarmu dengan pantas. Kau tahu! Aku sangat bahagia kau mau menerima pekerjaan ini."


"Jadi kapan aku mulai bekerja" tanya Eric tidak suka basa-basi


"Tentu saja secepatnya. Kalau bisa, kau bisa langsung kemari besok pagi"


"Baiklah kalau begitu. Besok aku kemari lagi, permisi."


"Tunggu! Eric tadi kau bilang kau butuh uang banyak untuk bayar utang. Memangnya berapa besar utangmu itu" tanya Billy. Eric tersenyum simpul


"Sangat besar dan sebaiknya Kalian tidak perlu tahu seberapa besar utang itu karena aku tidak ingin menyusahkanmu begitu juga dengan sahabat kita yang lainnya" jelas Eric tersenyum sambil melangkah pergi meninggalkan Billy yang berdiri bingung.


.


.

__ADS_1


.


Kritik dan saran diharapkanπŸ™πŸ™


__ADS_2