Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
24


__ADS_3

Setelah serangkai drama yang dibuat gadis angkuh itu, kini mereka berada di meja makan hanya sekedar untuk mengisi perut yang kosong sejak tadi pagi. Dan bukan Lisa namanya jika tidak membuat masalah dan drama dalam kehidupan Eric


Gadis itu menatap Eric dengan tatapan kesal di meja makan. Bagaimana dia tidak dibuat kesal, saat tadi di kamar mandi pria itu membalutinya lalu menggendongnya keluar tapi hanya sebatas pintu, lalu Eric kembali kedalam shower untuk membersihkan dirinya yang juga bayah kuyup, dan sialnya pria itu tidak berkata sepatah kata pun


Tak lama setelah itu, Eric keluar dalam keadaan yang bisa membuat kaum hawa berteriak histeris. Pria itu terlalu seksi dengan rambut basah dan handuk sebatas pinggangnya, lalu menatap bingung pada Lisa yang masih berdiri di tempat dimana dirinya menurunkan gadis itu tadi


"Kau masih tidak bisa berjalan?" kalimat tanya yang keluar dari mulut pria itu dengan sebelah alis terangkat


"Apa masih perlu kujawab!"


"Hah! Tau sakit, kenapa masih berani menggodaku?" ceplos Eric yang kembali mendekati gadis itu, bermaksud kembali mengangkatnya menuju lemarinya


"Siapa yang menggodamu! Kau saja yang tak bisa menahan diri" lihatlah jawabannya! Lisa jelas tidak akan mau mengaku salah dan kalah. Eric hanya menghembuskan nafas lelahnya saja, malas untuk meladeni gadis sombongnya yang pasti akan panjang nantinya


"Kau harus menikahiku sekarang juga! Berani sekali kau__"


"Iya...iya, aku akan menikahimu sekarang juga" potong Eric cepat sebelum Lisa kembali mengoceh dan menyalahkan segalanya pada Eric dan gadis itu bersikap selayaknya tidak pernah salah dan selalu playing Victim


Lisa tersenyum melihat raut kekesalan di wajah Eric. Dia bukannya tidak bisa berjalan, itu hanyalah alasan yang digunakannya untuk mengendalikan Eric


Saat turun untuk makan Eric juga bertugas menggendong gadis itu, dan lupakan tentang tatapan aneh penuh penasaran para pelayan pada keduanya


"Suapi aku" perintah Lisa menatap arogan pada Eric yang menyantap makanannya damai. Pria itu menatap sekilas pada Lisa sebelum menghembuskan nafasnya dan mulai menyodorkan sesendok makanan kedepan Lisa


"Eum, ini enak" komentar Lisa setelah menerima suapan pertama Eric tanpa bantahan. Eric tidak menjawab apapun dan mulai kembali melahap makanannya dengan sendok yang sama yang dipakainya untuk menyuapi Lisa, dan itu tidak luput dari pengawasan mata Lisa yang mendadak merasakan pipinya memanas. Suasana diantara mereka sekarang terlihat manis dari sudut pandang Lisa tapi tidak dengan Eric, pikiran pria itu sekarang dipenuhi dengan berbagai spekulasi bagaimana dia menjelaskan segalanya pada Ayah dan adik kembarnya serta penjelasan berbuntut pada para sahabatnya yang jelas tidak akan sesingkat menarik nafas, para sahabat brengsekmya pasti bakal memberikan pertanyaan beruntun nantinya, terutama si playboy julid, Billy


"Lagi" pinta Lisa lagi sembari membuka mulutnya, Eric menghentikan gerak tangannya yang akan menyuap makanan ke dalam mulutnya dan berganti haluan pada Lisa


Gadis itu tersenyum senang setelah menerima suapannya lagi, dia bahkan tidak peduli dengan tatapan aneh para pelayan yang baru pertama kali melihat mereka bersikap manja seperti itu

__ADS_1


"Apa ini bisa dibilang kita berciuman secara tidak langsung?" celoteh Lisa yang kembali membuat Eric berhenti menyuap makanannya, pria itu menatap Lisa bingung seakan bertanya apa maksudmu?


"Tuuhh" tunjuk Lisa pada sendok ditangan Eric.


Eric tersenyum menatap sendok di tangannya. Apanya ciuman tidak langsung, dia bahkan sudah membuat bengkak bibir Lisa


"Apa kau mau mencoba lagi secara langsung?" ucap Eric yang membuat Lisa tercengang. Eric terkekeh kecil, dia tidak benar-benar ingin melakukannya tapi menggoda Lisa sekarang cukup menyenangkan


"Dasar mesum!" tuding Lisa kesal dengan kekehan Eric


"Si penggoda dan si mesum, kurasa itu cocok" jawab Eric yang kembali menyuap makanannya dan menyuapi Lisa lagi sesaat sebelum ponselnya berbunyi, panggilan dari Billy


🍀🍀🍀


"Kacau kau Ric, kau memperkosanya?" sesuai dugaan, Billy berteriak antusias dengan apa yang menimpa Eric pagi tadi


"Tidak, dia menggodaku" pembelaan Eric sama sekali tidak berguna dengan tatapan menggoda para sahabatnya


"Dia yang menggoda atau kau yang tergoda?" timpal Marcel santai. Dia tidak terlalu memproblemkan masalah sahabatnya itu karena jelas jika diingatkan, dirinya lebih parah bukan?


"Tidak ku sangka, kau luluh dengan macan betina itu" Billy kembali mengeluarkan suaranya yang mendapat tatapan tajam Eric, sedang Mike lebih banyak diam, karena percuma dirinya bicara, dia adalah bajingan sejatinya dan itu tidak patut untuk dibanggakan


"Aku kesini bukan untuk kalian ejek tapi mau meminta saran dan pendapat kalian tentang apa yang harus kulakukan?" keluh Eric


"Saran apa yang kau harapkan pada dua bajingan ini, mereka sama denganmu, malah lebih parah" itu suara Billy yang menyahut, dan tentu saja menjadikan Marcel dan Mike sebagai yang tersalah


"Setidaknya kamu bukan jomblo akut sepertimu" Marcel menjawab sambil menggeplak kepala Billy di sampingnya


"Saranku sih, kau nikahi saja sepupunya Vika itu! Setidaknya, selain sahabat kita bisa jadi ipar" lanjut Marcel

__ADS_1


"Itu memang rencanaku" jawab Eric lesu tapi kepalanya masih penuh dengan berbagai masalah tentang kesetaraan dirinya dengan Lisa. Dia baru sadar kalau nafsu sesaat itu dapat memusingkan seperti ini


"Hey Mike, bicaralah!" seru Billy ketika menyadari Mike hanya terdiam saja sedari tadi. Pikiran pria jantan itu dipenuhi dengan hal lain sekarang


"Tidak ada yang perlu ku bicarakan, kalian pasti tau maksudku, kan?"


"Setidaknya kasihlah sedikit saran darimu"


"Bagaimana aku memberi saran pada Eric saat diriku saja penuh dengan masalah" jawab Mike yang membuat Billy menggelengkan kepalanya. Mereka yang ada disana jelas tahu apa yang menimpa pria itu beserta masalah yang dibuatnya


"Ya sudahlah! Terima kasih sudah mengajakku berkumpul disini. Besok aku akan pulang dan memberitahukan masalah pernikahan ini pada Ayah dan adik-adikku" jelas Eric menatap satu persatu wajah sahabatnya yang menatapnya dengan tatapan berbeda. Billy dengan tatapan kasihannya, mengingat betapa menyedihkannya Eric beristrikan wanita galak dan angkuh seperti Lisa. Marcel dengan tatapan penuh semangatnya, dia berharap Eric menikah dengan Lisa dan itu berarti mereka bisa jadi ipar walaupun hanya sebatas sepupu, tapi bukankah itu sangat menyenangkan? Serta Mike dengan tatapan datarnya, pria itu jelas tidak mau terlalu peduli saat dirinya sendiri penuh dengan masalah


🍀🍀🍀


Eric menatap langit-langit kamarnya, matanya sama sekali tidak mau terpejam. Ingatannya terus berputar pada kejadian antara dirinya dengan Lisa, bagaimana dia yang bisa dikatakan awam dalam hal itu begitu lihai dalam bertindak, apa memang dirinya seliar itu?


"Arggh..." Eric mengusap kasar kepala, bagaimana bisa dia lepas kendali dan tidak bisa menahan diri, dan parahnya sasarannya adalah Lisa, si gadis angkuh yang ekonominya sangat jauh diatas Eric sendiri


Di kamar sebelah, Lisa juga tidak bisa tidur. Matanya terus saja terbuka hingga gadis itu mengeluh kesal sendiri


"Argh...kenapa pikiranku terus memikirkan pria miskin itu, dan kenapa juga dia..." Lisa tidak dapat melanjutkan kata-katanya saat ingatannya terbayang bagaimana pergumulan mereka berdua terjadi. Wajahnya berubah merah sembari menatap kearah dinding dimana disana adalah kamar Eric. Percintaan yang terjadi antara dia dan Eric setidaknya lebih baik daripada gambaran mimpi erotis dirinya


"Enyahlah kau dari pikiranku, dasar pria menyebalkan" Lisa berteriak kesal pada dinding itu dan kembali membaluti diri dengan selimut mencoba tidur kembali


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2