Take It Poor Boy

Take It Poor Boy
BAB 9


__ADS_3

Eric sedang mencoba mengobati bekas luka nya saat Riana masuk dan terkejut melihat bekas luka di punggung kakaknya. Riana dengan cepat mendekati Eric dan beralih mengambil kotak obat untuk mengobati kakaknya


"Kakak kenapa bisa terluka begini?" tanya Riana mengoles obat dengan lembut di bekas luka kakaknya


"Kakak tidak sengaja terjatuh kemarin, dan tadi kakak kembali mengenai lukanya. Ya, jadilah begini" jelas Eric yang berbohong. Eric mencoba menjaga perasaan adiknya akan apa yang menimpa dirinya


"Kak, sebenarnya Riana mau menyampaikan sesuatu!" ujar Riana tertahan. Eric memandang adiknya itu lalu menyuruhnya untuk menjelaskan


"Kak, aku berhenti sekolah saja ya! Aku akan bekerja saja, bantuin kakak sama ayah biar Riani saja yang sekolah" jelas Riana menunduk saat Eric menatapnya tajam


"Tidak! Kamu harus tetap sekolah. Kakak yang akan bekerja untuk biayai kamu, Riani, dan ayah. Itu tugas kakak, bukan tugasmu"


"Tapi Kak..."


"Tidak ada tapi tapian kamu harus tetap sekolah!"


"Masalahnya uang bulanan kami menunggak. Kepala sekolah menyuruh kami agar segera melunasinya, jika tidak, kami akan dikeluarkan. Itulah kenapa aku ingin berhenti sekolah dan bekerja. Biar Riani saja yang tetap sekolah. Dengan begitu beban kakak tidak terlalu besar" ujar Riana menunduk. Eric seakan tertampar kenyataan dengan ujaran adiknya. Dia tidak memiliki uang sedikitpun untuk membayar iuran sekolah kedua adiknya malahan dirinya berhutang pada dua sahabatnya yaitu Marcel dan Billy. Walau keduanya tidak pernah meminta Eric untuk membayarnya kembali


"Sudahlah Riana! Kamu harus tetap sekolah. Biar kakak cari cara agar mendapat uang untuk membayar biaya sekolah mu" ujar Eric menyentuh kedua bahu adiknya untuk menyemangatinya. Riana tersenyum terharu memandang sang kakak. Andai dia tidak dilahirkan sebagai adik dari Eric maka dapat dipastikannya dia akan jatuh cinta pada kakaknya yang tampan


"Baik kak. Riana akan menerima saran kakak" jawab Riana berhambur memeluk kakaknya. Eric tersenyum seraya membelai sayang rambut hitam adiknya. Dia begitu bersyukur memiliki sepasang adik kembar sebelum ibunya pergi untuk selamanya


🍀🍀🍀

__ADS_1


Pagi harinya, Eric mulai kembali bekerja di restoran seperti biasanya. Dia selalu menjadi objek incaran mata kaum wanita hanya karena ketampanannya. Eric mulai melangkah mengantar pesanan pelanggan. Namun, langkahnya itu terhenti saat melihat Lisa, gadis yang tempo hari hampir membuatnya lepas kendali. Lisa tersenyum sinis ke arahnya. Entah kenapa Eric merasa kalau sesuatu yang buruk akan terjadi tiap kali dia bertemu dengan gadis itu


Eric mendekat mengantarkan pesanan gadis sombong itu. Begitu pesanan diletakkan di depan Lisa dan mengucapkan seuntai kalimat selamat menikmati untuk pelanggan. Eric berbalik hendak pergi segera dari hadapan gadis itu. Namun, tangannya ditangkap oleh Lisa. Eric kembali memandang wanita itu tidak suka


" Kau pikir kau mau ke mana! Urusan kita belum selesai" ujar Lisa dengan seduktif memandang Eric


"Apa maumu?" tanya Eric datar, sangat malas untuk berurusan dengan wanita seperti gadis sombong didepannya. Lisa tertawa mencemooh


"Mauku? Tentu saja mau ku adalah tanggung jawabmu" ujar Lisa mulai berdiri mensejajarkan diri dengan Eric. Mendadak bayangan mimpi erotis semalam membuat Lisa hampir Kehilangan keberanian. Dia ingin menyentuh tubuh bidang sixpack itu


"Tanggung jawab apa? Aku tidak punya masalah denganmu"


"Tentu saja kau punya banyak masalah denganku. Aku tidak mau tahu. Kau harus datang ke kantorku besok, kalau tidak ingin kamu dan adikmu itu ku tuntut" ucap Lisa tepat di telinga Eric, gadis itu dengan sangat sengaja memancing hasrat terpendam Eric


Lisa menyerahkan sebuah map tuntutan di tangan Eric, lalu tersenyum memandang wajah tampan pria miskin yang terkejut menatap map yang berisi surat tuntutan dengan berbagai kasus, termasuk juga didalamnya kasus pelecehan


🍀🍀🍀


Hembusan nafas lesu keluar dari bibir Eric saat melihat gedung pencakar langit didepannya. Dia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan gadis sombong itu. Hingga disinilah dia, didepan gedung kantor Lisa.


Eric bersegera menuju resepsionis dan bertanya keberadaan kantor Lisa yang terletak di tingkat 5 gedung itu. Eric mengetuk pelan pintu ruangan kantor Lisa


" Masuk!" seru sebuah suara lembut didalam. Eric membukanya dan melangkah pelan ke dalam. Dilihatnya Lisa sedang duduk di kursi kebesarannya dan tersenyum penuh minat pada Eric

__ADS_1


" Akhirnya, kamu datang juga" Lisa mengangkat alis bangga


" Aku kemari karena tidak ingin urusanku semakin panjang denganmu. Jadi katakan! Apa maumu? Supaya aku tidak lagi perlu bermasalah denganmu" kata Eric menatap datar Lisa yang masih tersenyum penuh kebanggaan. Lisa bangkit dan berjalan pelan kedepan Eric


" Santai tuan. Kita selesaikan masalahnya pelan-pelan. Jangan terlalu terburu-buru" kata Lisa pelan sembari menyentuh bahu Eric dan memutari pria itu dengan elegan. Eric yang sudah muak dengan keadaan yang sedang dimainkan Lisa menangkap tangan gadis itu yang menyentuhnya, memegang erat tangan itu dengan mata yang menatap tajam gadis sombong didepannya. Lisa bahkan tidak perlu repot untuk meringis karena rasa sakit pada tangannya yang digenggam erat oleh Eric. Gadis itu tetap menampilkan senyum santainya


" Jangan main-main denganku! Katakan apa maumu?"


" Mauku! Oke, aku jelaskan apa mauku. Dengarkan baik-baik ya!" kata Lisa berjalan selangkah lebih dekat dengan Eric. Tangannya masih saja dipegang pria tampan itu. Lisa tersenyum manis dalam jarak yang begitu dekat dengan wajah pria miskin tampan itu. Eric menahan dirinya agar tidak menyerang wanita didepannya kini yang jelas-jelas melempar umpan padanya


" Aku mau kau jadi budakku" ujar Lisa ringan penuh dengan kearoganan serta kesombongan yang menjiwai. Karena satu kalimat itu langsung membuat Eric mengeras marah


" Kurang ajar wanita ini" batinnya


" Apa maksudmu?" Eric menggeram menahan marah. Harga diriny benar-benar terluka. Menjadi budak wanita sombong itu, yang benar saja? Haruskah dirinya berucap welcome hell. Eric harus melangkah kedalam neraka saat ini


" Kau jangan marah dulu! Itu adalah tawaran terbaik yang dapat ku berikan padamu. Kau jadi budakku. Kalau tidak...aku bisa memenjarakanmu atas kasus pelecehan dan memenjarakan adikmu dengan kasus pengotoran nama baik. Dia sudah mempermalukanku didepan orang ramai dan menumpahkan minuman itu padaku" kata Lisa penuh drama yang semakin memancing kemarahan Eric


.


.


.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2