Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 36. Jujur.


__ADS_3

"Terkadang langkah ini akan terantuk oleh sesuatu, saat itu kubutuh sandaran untuk berpegangan. Kumohon, jangan pernah pergi walau sesaat, sebab hati lelah terabaikan."


Laura menahan napasnya menunggu detik demi detik apa yang akan dibicarakan oleh suaminya. Apakah itu soal, Arumi? Mungkinkah soal mereka, juga.


Laura menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang, memcoba serileks mungkin. Supaya dirinya bisa menjadi teman bicara dan pembicaraan itu berjalan baik.


Laura tersenyum sekilas saat Mark keluar dari kamar mandi. Berpura-pura asyik dengan ponselnya, hingga Mark naik ke tempat tidur. Laura masih memegang ponselnya, menscrol beberapa konten di layar berandanya.


Mark terbatuk sepertinya sebuah isyrat agar Laura melepas ponsel ditangannya. Lalu, Laura meletakkan ponsel itu diatas nakas. Memandang Mark, yang juga tengah memandangnya sedari tadi.


"Bicaralah, Pah. Mama siap mendengarkan." Laura membetulkan selimut ditubuhnya.


"Sebelumnya Papa minta maaf ya, sama Mama." Mark merubah posisi duduknya kini menghadap Laura.


"Soal apa? Emang Papa berbuat salah sama, Mama?" Kernyit dahi Laura heran. Mark menunduk dalam, diraihnya lengan Laura dan menggenggam jemarinya.


"Iya, karena Papa tidak jujur sama Mama kemarin." Mark manarik napas panjang.


"Maksud, Papa?" Laura tetap bertanya meski dia sudah tau kearah mana pembicaraan suaminya.


"Kemarin, Papa bertemu dengan Arumi. Arumi datang pada Papa saat ingatannya kembali setelah terpleset. Harusnya Papa cerita soal itu, tapi, entah kenapa Papa tidak melakukannya." ungkap Mark.


"Lantas kenapa akhirnya Papa bicara juga kalau memang berniat mau merahasiakannya." Tatap Laura pada suaminya.


"Sebenarnya, Papa gak berniat merahasiakan hal itu. Papa cuma mau mencari waktu yang tepat mengungkapkannya. Papa takut Mama malah berpikir yang tidak-tidak. Selain itu Arumi meminta sesuatu pada, Papa. Sesuatu yang berat untuk Papa putuskan." Mark membuang pandangannya keluar. Deburan ombak di bibir pantai danau, terdengar memecah keheningan diantara mereka.


Sementara hati Laura juga seperti deburan ombak yang terhempas dipantai pecah terserak.


"Arumi meminta apa Pa?" Suara Laura bergetar. Apakah Arumi ingin kembali bersama Mark?


"Arumi ingin mengasuh, Carry. Dia ingin menebus waktu yang hilang bersama, Carry." Lenguh Mark lebih tertuju pada dirinya sendiri.


"Lalu apa jawaban, Papa?" Laura menegang.


"Papa hanya bilang, akan ngomong sama kamu dan Carry."


"Jadi, Papa belum memberi keputusan?"


"Belum." Mark menggeleng.

__ADS_1


"Menurut Papa gimana, apa kita akan melepas Carry begitu saja?" tatap Laura tepat dimanik mata Mark.


"Menurut mama, gimana?" Mark malah balik bertanya.


"Kita tanya saja Carry. Biar dia yang memutuskan."


"Papa juga sudah omong gitu, tapi Arumi begitu berharap, Carry bisa bersamanya."


"Tapi kita tidak mungkin mengabaikan perasaan Carry. Setidaknya biar Carry yang memutuskan." Laura memilin jemarinya. Jauh dalam hatinya, Laura sedih bila seandainya Carry memilih ibunya. Dia menyayangi Carry, seperti anaknya sendiri.


"Iya memang, Papa juga berpikir begitu. Seandainya, Carry lebih memilih, Arumi, apa Mama mau melepasnya." Laura sedikit kaget dengar pertanyaan itu. Sejenak, Laura terdiam memilih kata yang tepat.


"Pa, siapapun yang bersama Carry, tidak masalah. Asal dia merasa nyaman dan atas keinginanya sendiri. Apakah, Papa meragukan aku, sebagai ibu sambungnya?"


"Mama kok ngomong begitu sih?"


"Mama sadar kalau mama hanya seorang ibu sambung buat Carry. Tapi, sungguh mama sayang pada Carry. Melihat Papa bersikap seperti ini, mama merasa diragukan dan tidak berhak mengasuhnya."


"Astaga, Ma. Pikiran Mama kok bisa nyeleneh gini. Papakan belum meutuskan apa-apa. Papa ingin bertukar pikiran dulu dengan Mama, kenapa Mama malah jadi aneh?"


"Ya, udah. Kita tanya Carry saja. Dia memilih siapa. Tinggal dengan kita atau dengan Arumi." Laura membaringkan tubuhnya, membelakangi Mark, setelah menarik selimutnya.


Mark membaringkan tubuhnya, menghadap punggung istrinya. Menjulurkan lenganya kebawah leher Laura. Biasanya Laura akan berbalik dan tidur berbantalkan lengannya. Namun, Laura bergeming tidak mengubah posisi tidur, seolah tidak merasakan lengan suaminya yang merayap dibawah kepalanya.


"Mama sudah lelap, ya?" Mark mencoba membalikkan tubuh, Laura. Lagi, Laura menolak.


"Mama kenapa sih?" Mark bersikeras membalik tubuh istrinya. Kali ini Laura tidak bisa, bertahan. Mark kaget saat melihat wajah Laura yang bersimbah air mata.


"Astaga, Ma! Mama kenapa nangis?" beliak Mark panik. Mark mengubah posisi tidurnya jadi duduk. Diraihnya tubuh Laura, yang sesegukan.


Diperlakulan seperti itu, membuat tangis Laura makin tersenggal.


"Apa ada kata-kata Papa, yang salah Ma, sampai Mama nangis seperti ini?"


Laura terdiam. Entah kenapa hatinya memang terasa sensitif sejak melihat Mark dan Arumi bertemu pagi itu. Entah cemburu atau takut kehilangan. Inilah puncak dari rasa yang dia tahan beberapa hari ini.


Belum lagi karena mimpinya yang begitu mempengaruhi jiwanya. Seolah sebuah pertanda kalau rumah tangganya akan terguncang karena Arumi menginginkan Carry tinggal bersamanya.


Laura tentu tidak berhak melarang karena Carry adalah putri Arumi dan Mark. Itulah sebabnya suaminya gamang memberi jawaban, pada Arumi.

__ADS_1


Disatu sisi, Mark pasti ingin Carry mengenal ibu yang melahirkannya. Disisi lain Laura adalah istrinya yang juga berhak mengasuh, Carry juga.


"Mama, mengapa diam saja, jangan membuat Papa jadi bingung seperti ini." Mark masih berusaha membujuk agar Laura mau bicara.


"Mama mau tanya, dulu. Sebenarnya Papa sayang gak sih sama, Mama."


"Ya, iyalah. Papa sayang dan cinta sama, Mama." seru Mark kaget tidak menduga pertanyaan Laura.


"Apakah Papa juga masih sayang dan cinta dengan Arumi?" Lagi-lagi Mark kaget.


"Kok malah bahas soal itu, Ma?"


"Mama ingin Papa jawab yang jujur. Mama tidak ingin jadi bayangan, Arumi. Jika Papa tidak bisa ambil sikap, Mama ragu kalau Papa sayang samaku. Huek! Tiba-tiba Laura merasa mual dan mau muntah.


Laura bergegas ke kamar mandi. Diikuti langkah panjang, Mark.


Huek! Laura kembali muntah, tapi tidak ada yang keluar. Perutnya terasa mual. Laura merasa lemas, Mark memijit tengkuk istrinya.


"Mama masuk angin, atau salah makan?" ucap Mark prihatin. Kasihan melihat Istrinya yang berkali-kali muntah tapi tidak ada yang keluar, cuma air ludahnya saja.


Wajah Laura nampak pucat, dia mau kembali ketempat tidur karena lemas. Mark menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di ranjang. Melap wajah Laura yang penuh keringat.


"Mama kenapa pusing ya?"


Gak tau, Pa. Tiba-tiba saja Mama mual dan mau muntah."


"Belum larut malam, pastinya masih ada dokter ya buka praktek." Mark mencari di geogle praktek dokter yang masih buka.


"Tidak usah, Pa. Mama mungkin cuma masuk angin." Laura meraih minyak kayu putih dari atas nakas, mengoleskannya ke leher dan keningnya.


"Sini Papa bantu mengoles ke tubuh, Mama." Mark membalurkan minyak kayu putih ke punggung dan perut, Laura, seraya memberi pijatan membuat Laura merasa enakan.


"Mama tidur saja, ya. Gak usah mikir apa-apa lagi. Kapan-kapan saja bahas soal itu." Mark menyelimuti tubuh Laura.


"Papa belum menjawab pertanyaan, Mama, soal Arumi."


"Jujur, Papa tentu masih sayang. Apalagi perpisahan kami karena sebuah tragedi. Tapi, bukan berarti Papa ingin hidup bersamanya lagi. Kita sudah punya kehidupan masing-masing. Kenapa Mama meragukan, Papa." Mark menatap bingung Laura. Karena istrinya telah meragukan dirinya.


Kejadian di kafe pagi itu kembali terlintas di mata, Laura.

__ADS_1


"Sebenarnya, Mama mengikuti Papa dan Arumi pagi itu. Mama lihat dan dengar semuanya. Mama kecewa saat Papa tidak mau cerita." Laura bicara terus terang hal yang mengganjal dibenaknya. Membuat Mark kaget mendengar penuturan istrinya.*****


__ADS_2