
Pagi masih berselimut kabut, saat mobil yang dikendarai sopir Mark, melaju menyusuri jalan, membelah kabut dan cuaca dingin. Perasaan Mark agak berat juga meninggalkan istrinya yang baru pulang dari rumah sakit. Belum lagi masalah Ratih, yang harus dia selesaikan. Kini datang pula masalah dari tempat kerjanya.
"Pak kita langsung barak atau singgah dulu diposko?" tanya Deni sopir Mark yang juga asistennya setelah Trisna. Lelaki muda energik itu selalu bisa diandalkan Mark dalam situasi mendesak seperti ini.
Namun, hanya Mark yang tau posisi rangkap yang diemban Deni. Kebanyakan dari anak buahnya tau kalau Deni hanyalah supir pribadi Mark yang selalu dibawa keluar kota.
Menurut kamu kita kemana Deni?" Mark malah balik bertanya kedua alis Deni mengernyit mendengar jawaban absurd itu.
"Kalau menurutku tidak keduanya, Pak."
"Kenapa?" giliran alis Mark yang mengernyit menatap Deni dengan pandangan heran.
"Kita belum tau situasi disana, Pak. Apalagi Trisna belum juga memberi khabar sejak semalam. Jika kita datang secara terang-terangan aku ragu dengan keselamatan kita, Pak." Deni mengutarakan apa yang tengah bercokol dibenaknya.
Sekalipun sudah ada laporan kalau polisi telah bwrhasil menangkap orsng yang menjadi provokator demo itu, Deni tetap meragukan keamanan dilapangan.
__ADS_1
"Trus kamu punya rencana apa, Deni?" Mark melirik lelaki penyandang sabuk hitam itu.
"Kita singgah di rumah paman saya, Pak. Paman saya tinggal dekat desa itu, kita bisa cari informasi dulu, sebelum memasuki desa yang berkonflik."
"Baiklah, terserah kamu saja. Firasatku juga tidak enak, kenapa Trisna susah dihubungi apa terjadi sesuatu pada mereka?" duga Mark.
"Semua akan terjawab saat kita sampai disana, Pak."
Menjelang siang Mark dan Deni tiba di desa pamannya. Keduanya disambut hangat oleh paman Deni. Deni menayakan beberapa hal sehubungan masalah proyek pembangunan jalan yang didemo warga desa sebelah.
"Warga sebenarnya tidak keberatan denga pembangunan jalan itu. Dengan adanya jalan itu, justru memudahkan warga dalam mengangkut hasil buminya dan bisa menjualnya langsung ke kota kabupaten karena para petani sering dipermainkan oleh para tengkulak." ucap paman Deni panjang lebar.
Mark diam mencerna semua kata-kata yang dituturkan oleh pamannya Deni. Sekarang jelaslah kalau masalah datang dari para tengkulak. Jika warga tidak menjual lagi hasil pertanian pada mereka tentu akan sangat merugikan mereka.
"Paman tau tidak kabar terkini tentang demo itu?" tanya Mark ingin tau bagaimana nasib dari anak.buahnya.
__ADS_1
"Paman dengar ada beberapa orang yang yang diculik. Tetapi entahlah, apakah itu benar. Katanya polisi sudah turun tangan ke lokasi."
"Terima kasih paman penjelasannya. Nanti sore lami akan meninjau lokasi," ucap Deni.
"Hati-hati anak buah Tuan Darman itu banyak dan masih berkeliaran. Mereka masih suka meneror warga meski dia sudah diangkut polisi ke kota kabupaten."
"Baik paman, kami akan berhati-hati."
"Mereka jahat dan sadis. Kemarin mereka sempat membakar barak para pekerja, untunglah apinya segera mati karena hujan turun. Paman akan dampingi kalian bertemu kepala desa disana. Supaya kalian dapat perlindungan."
"Terima kasih atas kebaikan, Bapak." Mark sangat senang dengan dukungan Pak Amir pamannya Deni karena mau menjembatani mereka bertemu kepala desa.
Sementara itu di sebuah gubuk tua, Trisna dan tiga orang kawannya telah menjadi korban penculikan. Mereka disekap dengan tangan terikat dan mulut disumpal. Tempat mereka disekap lokasinya jauh ditengah hutan.
Warga tidak mengetahui tempat penyekapan itu, dan pelaku penculikan itu juga masih simpang siur. Sebagian bilang anak buah Darman tapi ada juga yang bilang mereka adalah orang-orang di proyek juga yang pro kepada Tuan Darman. *****
__ADS_1