Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 40.


__ADS_3

Mark terbangun tengah malam karena kehausan. Diliriknya meja kecil disisi tempat tidur. Biasanya Laura menaruh botol tempat minum. Sudah menjadi kebiasaan istrinya, membawa botol air minum ke dalam kamar.


Namun, malam itu sepertinya Laura lupa dengan kebiasaanya itu. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya terkumpul, Mark bangkit dari tempat tidur mengambilkan air minum.


Rasa haus yang tidak tertahan menyeret langkah Mark, menuju ke arah dapur. Dengan mengandalkan cahaya temaram dari teras samping yang menembus jendela kaca, Mark meraih gelas lalu memencet tombol dispenser.


Rasa haus itu segera hilang begitu air dalam gelas berpindah membasahi tenggorokan, Mark. Dua gelas air mineral itu tandas tak bersisa. Mark, menarik napas lega. Lalu berbalik hendak ke kamar.


Bersamaan dengan itu, muncul Ratih dari balik pintu kamar disisi ruang dapur. Ratih yang juga kehausan tidak menyadari kalau Mark, tengah berdiri di depan dispenser sedang minum.


Ketika Mark berbalik, dia terkejut sekali. Melihat keberadaan Ratih yang berdiri tepat dibelakangnya. Mark tidak menyangka kalau malam itu dia akan berpapasan dengan Ratih di dapur yang juga kehausan seperti dirinya.


"Eh, Bapak. Maaf Pak." Ratih berseru kaget dan segera menutup bagian dadanya yang terbuka. Terlambat untuk itu, Mark telah melihat pemandangan itu.


Siluet tubuh Ratih nampak jelas karena terpapar cahaya dari belakangnya yang berasal dari kamarnya. Malam itu Ratih mengenakan gaun tipis menerawang. Sehingga lekuk tubuhnya nampak jelas terlihat.


"Astaga, kamu Ratih! Ngapain kamu disini?" seru Mark kaget. Mark mengalihkan pandangannya. Buru-buru pergi dari dapur. Sesampainya di kamar Mark menghela napas panjang. Menghempasnya kuat-kuat.


Sebagai lelaki normal, apa yang barusan dia lihat tadi sangat menggoda matanya, dan membuat hasratnya bergelora.


Bisa-bisanya Ratih tidak melihatku sedang didepan dispenser. Tidak menungguku pergi dulu baru dia muncul.


Mark mencoba tidur. Tapi bayangan yang dia lihat barusan sungguh mengganggunya. Mark melihat wajah Laura yang tertidur pulas. Ingin rasanya dia membangunkan istrinya dan mengajaknya bergelud menuntaskan hasratnya.


Tapi saat melihat Laura yang tertidur pulas, keinginannya itu dia pendam. Tapi semakin dia pendam semakin menggoda hayalnya saja.


Mark, mencium kening istrinya untuk mengalihkan pikirannya. Dari kening turun ke mata lalu hidung. Dan berlabuh di bibir Laura yang kebetulan terbuka sedikit.


Awalnya Mark menc**um lembut, lalu menuntut. Laura yang terlelap tidur kebetulan tengah bermimpi dic**m, Mark. Tanpa sadar Laura membalas pag**an suminya. Membuat Mark menuntut lebih dalam.


Tangan Mark, menjelajah, mengelus, meraba hingga akhirnya Laura terjaga saat dia merasakan sesuatu menekan dibagian bawah sana.


"Papa, ah...." mata Laura terbeliak saat suaminya telah berada diatas tubuhnya.

__ADS_1


Seminggu lebih sejak terakhir penyatuan mereka, membuat hasrat Mark tak tertahan, karena ulah Ratih.


Usia kandungan Laura yang memasuki trimester kedua, memang masih aman untuk berhubungan badan. Mark terkadang tidak tahan melihat istrinya yang selalu mampu memancing gairahnya.


Laura terkejut dengan prilaku suaminya. Bisa-bisanya suaminya terbangun tengah malam dan mengajaknya berhubungan badan.


Bagi Laura memang tidak mengganggu karena dirinya dan janin dikandungannya baik-baik saja. Apalagi usia kandungannya sudah memasuki trimester kedua.


Laura selalu berusaha melayani libido suaminya, dan tidak ingin suaminya mencari diluar sana. Seperti malam itu Laura tetap melayani suaminya dengan baik.


Pagi telah datang menyapa, suara burung yang hinggap di dahan pohon mangga bernyanyi riang menyambut pagi. Laura menggeliat malas diatas tempat tidur. Tanganya meraba-raba kesamping mencari sosok suaminya tapi tidak ada.


Laura membuka matanya, memang sosok suaminya tidak ada. Lamat, Laura mendengar suara air dari kamar mandi. Ternyata, Mark tengah mandi.


Laura bangkit dari tempat tidur, menyiapkan pakaian suaminya untuk ke kantor.


"Eh, Mama sudah bangun toh," Mark menyapa istrinya yang telah menyiapkan pakaiannya. Begitu keluar dari kamar mandi. Aroma wangi shampo menguar memenuhi ruang kamar.


"Mama 'kan masih capek, gak papa deh telat bangun yang penting dah meladeni Papa dengan baik." Mark mencium puncak kepala Laura.


"Hayo ngaku, semalam Papa kok tiba- tiba n,gajak Mama gituan." cecar Laura penuh selidik.


"Abis, makin lama Mama makin seksi ajah. Bikin Papa on terus," gelak Mark tidak jujur. Tidak mungkin dia bicara hal yang sejujurnya masalah semalam.


"Dasar modus," cebik Laura.


"Tuh 'kan, mulai lagi godain Papa."


"Siapa yang menggoda siapa, Papa aja yang baper." Laura merapikan dasi di leher Mark. "Nanti Papa pulang jam berapa?"


"Belum pergi aja udah ditanya kapan pulang, gak tahan jauh dari Papa, ya?" goda Mark.


"Iya, iya. Mama pen lengket trus sama Papa, puas?"

__ADS_1


"Huh! Papa kok jadi malas nih, bawaannya pengen tidur dan maem, Mama." Mark makin ketagihan menggoda istrinya. Laura mencubit pinggang suaminya, membuat Mark mengaduh kesakitan.


"Udah, Mama mandi dulu. Dasar suami mesum." Laura mencium sekilas bibir suaminya lalu masuk kekamar mandi.


"Tuh, yang godain siapa yang mesum siapa ya?" guman Mark keras. Membuat Laura terbahak di kamar mandi. Tidak lama kemudian Laura keluar dari kamar mandi. Lalu mengenakan gaun cantik hadiah suaminya sepulang dari luar kota.


"Cantik gak, Pa." Laura mematut dirirnya didepan cermin. Mark yang tengah asyik dengan ponselnya menoleh kearah istrinya.


"Wao, istri Papa cantik sekali. Cocok sekali sama, Mama." Mark berdecak kagum. Felingnya tidak salah saat memilih gaun bumil itu.


"Yuk, sarapan Pa. Mama dah lapar." Mark menggandeng Laura keluar dari kamar. Ternyata semua sudah duduk manis di meja makan. Bi Surti dan Ratih tengah meladeni menyiapkan makanan di meja.


"Pagi Pa, Ma." sapa Carry dan Bobby serentak. "Mama cantik sekali pagi ini."


seru Carry antusias. Saat Laura sudah duduk di kursi. Mark, merasa enggan saat melihat Ratih.


Kejadian semalam kembali melintas dalam ingatannya. Sementara Ratih malah tersenyum saat pandangan Mark bersirobok dengannya. Senyum menggoda!


Mark menikmati sarapannya dalam diam. Hanya sesekali menanggapi ucapan istrinya dengan senyuman. Dalam hati, Mark merasakan kalau Ratih sepertinya berusaha menarik perhatiannya.


Mungkin Ratih mengira dirinya akan tertarik dengan cara murahan seperti itu. Sepuluh tahun dia menduda dia bisa bertahan dari banyaknya godaan para wanita. Hanya Lauralah perempuan satu-satunya yang bisa mengalihkan dunianya.


Mungkin karena istrinya tengah hamil, Ratih berusaha menggodanya. Dasar perempuan murahan. Batin Mark bergolak.


"Papa gak enak badan, ya. Tumben makanya sedikit?" Laura heran melihat suaminya menyudahi makannya, padahal belum juga separuhnya habis.


"Iya, sepertinya perut Papa bengah."


"Maag nya kambuh ya?" sebut Laura prihatin.


"Mungkin, Ma. Tapi entahlah, bisa juga karena Papa, masuk angin."


"Kita berobat ya, Pa. Mampir sebentar ke rumah dokter Rian, atau Papa gak usah masuk kalau gak enak badan. Jangan dianggap remeh, Pa." Laura menyatakan kecemasannya. Laura memang selalu begitu. Mudah cemas berlebihan kalau Mark mengeluhkan sesuatu. *****

__ADS_1


__ADS_2