Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 58


__ADS_3

Pagi masih berkabut, ketika Deni datang menjemput Mark untuk kembali ke proyek menyelesaikan masalah soal penggatoan rugi, tanah warga yang kena gusur untuk pembangunan jalan.


Mark tidak habis pikir kalau dirinya terseret langsungbdalam kasus itu, karena adanya laporan bahwa dirinya telah menyelewengkan sejumlah dana proyek.


"Pamit, Ma, jaga diri baik-baik. Papa pergi, dadah." Mark mencium kening istrinya dibalas Laura dengan mencium punggung tangan suaminya. Tidak lupa Mark juga mengusap dan mencium perut Laura, sebelum akhirnya pergi bersama Deni.


"Ayo, Deni, kiita berangkat. Bagaimana dengan Trisna dan yang lainnya?" ucap Mark menanyakan keberadaan Trisna.


"Mereka sudah menunggu kita, Pak, ditempat biasa."


"Baiklah, kita segera meluncur kesana."


Deni melajukan mobil menuju lokasi pertemuan dengan Trisna dan Dirga, juga Roy.


Lima belas menit jarak tempuh menuju tempat Trisna menunggu kedatangan mereka. Begitu sampai, Trisna melambaikan tangannya menyatakan kalU mereka sudah ada di tempat.


"Kalian sudah lama, disini?" sapa Mark tanpa turun dari mobil.


"Baru saja, Bos," sahut Trisna menghampiri mobil Mark dan berdiri disisi mobil.


"Oke, kita lanjut saja, atau masih ada hal yang perlu dibicarakan?" ucap Mark siapa tau anak buahnya masih ada yang belum jelas misi mereka kembali ke proyek.


"Untuk sementara gak ada, Bos. Kita lanjut saja," seru Trisna dan kembali ke mobilnya, "ayo, Dir, kita lanjut."


Kedua mobil itu jalan beriringan, menuju lokasi proyek dengan jarak tempuh dua jam perjalanan. Setelah satu jam perjalanan, mereka memisah dari jalan utama menuju lokasi proyek yang masuk ke pelosok.

__ADS_1


Sementara itu, Andre yang menyaru sebagai Rehan, tengah mengintruksikan kepada kepada anak buahnya yang masih berada di barak untuk tetap memprovokasi warga, agar menolak pembangunan jalan itu.


Mereka melakukan teror kepada warga bekerja sama dengan anak buah Darman untuk mengacau ketengan di desa itu.


Meskipun Pak Hendro, kepala desa dusun Marsada, sudah mengintruksikan kepada warganya agar tidak melakukan tindakan anarkis. Namun, karena provokasi dari anak buah Darman yang terus menerus meneror warga membuat suasana tidak kondunsif.


Tindakan pengecut Andre yang mengadu domba para pekerja dan warga semakin memuncak. Kesalah pahaman dan kurangnya komunikasi menjadi penyebab utama makin merebaknya teror yang dihembuskan Andre.


Tujuannya hanya satu, ingin menghancurkan reputasi Andre sebagai kontraktor.


Para pekerja merasa fustasi karena mereka tidak bekerja sudah lebih satu minggu sejak insiden itu. Otomatis penghasilan mereka minus sementara kebutuhan makin melonjak.


Untuk pulang, mereka juga butuh uang. Ketidak pastian perintah dari pusat membuat mereka resah. Belum lagi ancaman warga yang tidak menyjkai kehadiran mereka, sehingga tidak bisa berbaur dan mereka merasa terisolasi.


"Ayo, kita lakukan demo lagi, karena kita sengaja diperlakukan seperti ini. Kita bukan hewan yang bisa dikendalikan begitu saja tanpa perlawanan." ucap salah satu dari anak buah Andre memulai provokasi.


"Kita mau lakukan apalagi. Tunggulah, katanya para pimpinan sedang mengurus masalah ini," lerai seorang lelaki paruh baya. Mencoba meredam kemarahan rekan-rekannya.


"Sampai kapan status kita tidsk jelas begini? Aku dengar para warga mau mendatangi kita, bisa saja mereka mau memanggang kita jika tetap bertahan disini!" teriaknya lagi memacu emosi teman-temannya.


"Siapa yang mau memanggang siapa?" teriak Mark tiba-tiba sudah berdiri di pintu. Serentak semua terdiam kaget. Tidak menduga kehadiran Mark yang menjadi bos mereka. "ayo lanjutkan pidatonya." Mark menatap nyalang kearah lelaki yang berdiri didepan.


Mereka tidak menyadari kehadiran Mark dan mandor mereka yang katanya telah diculik.


Lelaki yang berdiri didepan yang barusan berusaha menghasut rekan- rekannya itu terdiam. Dia adalah Coky anak buah Andrew, yang sengaja menyusup masuk sebagai pekerja.

__ADS_1


"Pak Umar, tolong berikan padaku daftar nama para pekerja." Mark hendak mengabsensi para pekerjanya.


Pak Umar lalu menyerahkan sebuah buku besar kepada Mark. Mark menyebut satu persatu nama para pekerjanya, yang berjumlah tiga puluhan. Saat menyebut nama Rehan, tidak ada yang menyahut.


"Rehan ....!" ulang Mark memanggil nama itu, seraya mengedarkan pandangannya kesemua wajah yang memandangnya.


"Maaf Pak Mark, Pak Rehan mengambil cuti seminggu terakhir ini." Lapor Pak Umar.


"Coba Bapak hubungi sekarang. Apa alasannya belum kembali sampai sekarang." tukas Mark.


"Sekarang Pak?"


"Iya sekarang juga." Mark berucap tandas.


Pak Umar langsung menghubungi Rehan alias Andre. Pak Umar sengaja menyalakan spiker agar Mark dan yang lainnya mendengar percakapan itu.


"Halo Pak Rehan, kenapa belum juga kembali ke lokasi proyek, bukankah cuti bapak sudah berakhir."


["Maaf Pak, saya tidak bisa kembali, katanya ada kerusuhan di proyek."]


"Kata siapa, tidak ada pernyataan resmi dari perusahaan soal itu. Bagaimana Bapak bisa tau, kalau ada kerusuhan di lokasi proyek," pungkas Pak Umar.


["Eh, anu Pak.Saya dapatbberita dari rekan saya, Pak." terdengar suara gugup dari seberang.]


"Siapa rekanmu itu, Pak Rehan?" terpaksa Andre atau Rehan menyebut nama Coky. " baiklah Pak Rehan, saya harap Bapak segera kembali ke lokasi proyek. Untuk bekerja, atau Bapak akan dipecat!" ancam Pak Umar. ***

__ADS_1


__ADS_2