Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Nab 45. Laura koma.


__ADS_3

Setelah mendapat kabar bururk dari Bi Surti, Mark bergegas pulang kerumah. Hatinya bertanya cemas apa yangbterjadi dengan istrinya sehingga memdadak jatuh pingsan.


Setiba di rumah, Mark membawa Laura ke rumah sakit dan masuk ruang IGD.


Dokter segera memberikan tindakan pengobatan intensive pada Laura.


Mark sangat panik dan menduga-duga apa yang terjadi pada istrinya. Tadi saat pamitan mau pergi, tidak ada hal ya g mencurigakan tentang Laura. Semua nerjalan normal. Mereka bercanda dan saling menggoda seperti biasanya.


"Bu, sebenarnya apa yang terjadi dengan, Laura?" Mark bertanya pada ibu mertuanya.


"Ibu juga tidak tau nak, Laura ada di kamarnya. Dia sepertinya menerima telepon dari seseorang. Tapj, ibu gak tau siapa yang meneleponnya."


Mark mengusap kasar wajahnya dan menjambak rambutnya sebagai pelampiasan keresahannya.


"Oh, Tuhan, tolong jangan sampai terjadi sesuatu pada istri dan bayi dalam kandungannya." Bibir Mark komat-kamit mengucap doa.


Detik ke menit berlalu, terasa sangat lambat membuat Mark terperangkap gelisah yang tiada tara.


Pikirannya kacau mengira-ngira siapa yang menelepon istrinya. Apakah semua ini ada sangkut pautnya dengan Ratih atau Andre?


Mark meragukan jika Andre yang menwlepon istrinya karena kabar lelaki itu sudah tak pernah terdengar Mark lagi.

__ADS_1


Sementara Ratih, mungkihkah dia akan berbuat sejauh itu. Bisa saja'kan dia dendam dan ingin menghancurkan rumah tangganya.


Astaga! Jangan-jangan dia cerita sesuatu pada istrinya dengan memutar balik fakta. Tapi, apakah anak itu akan bertindak sejauh itu? Siapa yang tau jalan pikirannya.


Mark, mulai bisa meraba sepertinya Ratih orang yang suka mencari perhatian. Kenapa dia begitu ceroboh telah menerima anak itu bekerja di rumahnya padahal tidak kenal sebelumnya.


Kejadian di dapur malam itu, seharusnya membuat Mark lebih waspada. Ratih bukannya malu setelahnya tetapi malah berusaha menggodanya yang membuatnya jijik.


Hingga kejadian malam itu, Ratih berusaha menggodanya tanpa rasa malu.


Dokter yang menolong Laura keluar dari ruang IGD. Mark bangkit dari duduknya menghampiri dokter yang menangani Laura.


"Bagaiamana keadaan istri saya, dok?"


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya, dok? Kenapa bisa mendadak jatuh pingsan dan tekanan darahnya tidak stabil." Mark masih berusaha mencari informasi soal penyakit istrinya.


"Seperti istri bapak syok, itu penyebab utama tekanan darahnya naik. Istri Bapak 'kan lagi hamil, kondisi hormonnya suka berubah-ubah. Apalagi sampai mendengar kabar yang mengejutkan misalnya.Jadi, ibu hamil itu emosinya harus di buat serileks mungkin, Pak."


Mark terdiam mendengar penjelasan dokter. Dugaannya semakin kuat kalau Ratih ada dibalik semua kejadian itu.


"Ratih!" seru Bi Surti tiba-tiba. Mata Mark beralih keseseorang yang barusan disebut pembantunya.

__ADS_1


Mark melihat Ratih melangkah dengan tenang menemui bibinya. Pandangan mereka sempat beradu. Mark sampai merinding melihat tampilan Ratih yang nyaris tanpa emosi. Ratih begitu tenang terlalu tenang setelah dia gagal menggodanya dan meninggalkan rumah tanpa pamit


Mark terpaksa memendam rasa curiganya atas keterlibatan Ratih soal istrinya. Mark tidak ingin Bi Surti dan mertuanya mencurigainya.


"Bagaimana dia bisa tau kalau kita disini, Bi?" ucap Mark pada Bi Surti.


"Tadi saya mencoba meneleponnya lagi, Tuan, ternyata ponselnya aktif. Bibi cerita keadaan Bu Laura, makanya dia datang kemari."


"Hem, sangat kebetulan sekali." Mark menyindir membuat merah wajah Ratih.


"Maksud Tuan apa?" tanya Bi Surti heran.


"Tidak apa-apa, Bi.Sebaiknya bibi pulang saja ke rumah," Mark beralih pada ibu mertuanya, "Ibu juga, biar saya saja yang jaga Laura. Kasihan Carry dan Bobby todak ada yang mengawasi."


"Baiklah, Ibu pulang saja kalau begitu. Mari bi, besok saja kita datang lagi."


"Tuan, apa Ratih boleh tinggal lagi di rumah? Sampai ibu kembali sehat."


"Terserah Ratih, Bi. Kalau dia memang mau tinggal lagi di rumah. Tapi dia harus mengubah sikapnya."


"Baik Tuan, bibi akan mengawasinya."

__ADS_1


Mark menatap kepergian ketiga perempuan itu. Mark memberi ijin Ratih tinggal untuk sementara, hanya untuk menjebak Ratih. Mark ingin melihat sejauh mana Ratih akan bertindak lagi.****


__ADS_2