Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 43. Pelampiasan dendam Ratih.


__ADS_3

Pagi itu, dikediaman Mark terjadi keributan karena Bi Surti berteriak panik saat tidak melihat keponakannya. Tadinya beliau mengira kalau Ratih di kamar mandi atau disekitaran rumah. Dipanggil-panggil tidak menyahut, membuat Bi Surti ketakutan karena keponakannya menghilang.


Pakaian Ratih sudah tidak ada lagi didalam lemari pakaiannya. Bi Surti sangat mengkhawatirkan keponakannya itu.


"Bu Laura!" panggil Bi Surti saat melihat Laura barusan keluar dari kamarnya.


"Iya, ada apa Bi?" sahut Laura heran melihat wajah Bi Surti yang panik dan kebingungan.


"Anu Bu, keponakan saya Ratih."


"Tenang dulu, Bi. Kenapa dengan Ratih, Bi?" Laura berusaha menenangkan Bi Surti.


"Ratih, menghilang. Dia tidak ada dikamarnya, sudah bibi cari dimana-mana tapi gak ada."


"Hem, sebentar Bi. Laura bergegas masuk kekamarnya. Membangunkan suaminya. Mark yang masih tertidur pulas, memincingkan matanya saat dibangunkan Laura.


"Ada apa, Ma?" Mark menguap panjang lalu terdengar bunyi kretek-kretek saat suaminya menggeliatkan tubuhnya.


"Itu Pa, Ratih menghilang kata Bi Surti."


"Menghilang, kok bisa? Maksudnya apa sih, Ma?" beliak Mark pura-pura. "Baguslah anak itu akhirnya pergi. Tapi kenapa harus diam-diam perginya membuat seisi rumah panik. Ratih 'kan bisa saja cari alasan kepergiannya. Tidak juga dengan cara seperti ini." guman Mark dalalm hati.


"Aduh, Pah, kok malah bengong sih. Ayo, bangun dulu kasian tuh si bibi.


"Iya, iya." Mark bangkit malas malasan. Disambarnya kaos yang disampirkan disisi tempat tidur.


"Semalaman Papa tidur gak pake baju klo udah masuk angin baru tau rasa."


"Ih, Mama kok tiba-tiba cerewet, nanti si dedek ikutan cerewet, Ma." Mark menowel kedua pipi Laura dan bergegas keluar kamar menemui Bi Surti. "Ada apa Bi?" sela Mark.


"Ratih, Tuan dia pergi meninggalkan rumah. Semalam bibi ketiduran sehabis makan malam, tau-tau Ratih sudah pergi," seru Bi Surti.


"Tenang, Bi, kali aja Ratih pergi sebentar aja. Nanti juga pasti pulang Bibi gak usah cemas. Ratih 'kan sudah dewasa."


"Tapi Tuan, Ratih pergi dengan membawa semua pakaiannya." kejar Bi Surti.


"Lha, itu sih kabur namanya." Mark mengacaukan rambutnya, "coba Bibi telepon tanyakan lagi dimana dia sekarang."

__ADS_1


"Gak aktif sedari tadi, Tuan." Panik juga Mark akhirnya, karena kasihan melihat Bi Surti. Mana Bi Surti nangis sesegukan lagi, membuat hati Mark serba salah.


"Coba, Bi, menghubungi keluarganya, siapa tau dia menuju kesana."


"Pulang sama bapak tirinya itu? Tidak mungkin, karena Ratih benci sama bapak tirinya." isak Bi Surti makin keras.


Laura berusaha mendiamkan Bi Surti.


Makin dibujuk makin keras isakan Bi Surti. Mark menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah, Bi. Ratih itu bukan anak kecil lagi. Mungkin saat ini dia tengah bersama temannya. Kita tunggu saja kabar darinya. Semoga tidak terjadi sesuatu padanya." tukas Mark. Mark tidak mungkin menceritakan kejadian semalam, nantinya malah tambah menyakiti hati perempuan itu.


"Sudah, Bi, yang sabar ya. Apa tidak ada orang lain yang dikenali Ratih di kota ini, Bi?"


"Ah, iya ada kawannya Riska. Bibi baru ingat. Tapi, bibi tidak tau nomor ponselnya," ucap Bi Surti lemas.


"Sudahlah, Bi, nanti dicoba lagi menghubunginya siapa tau ponselnya lowbet gitu," tukas Mark.


Laura mengiyakan ucapan suaminya dan berusaha meyakinkan Bi Surti.


"Polisi? Jangan, jangan Bu Laura. Kita tunggu saja kabar dari Ratih." Mendadak Bi Surti panik dan ketakutan. Mark dan Laura saling berpandangan.


"Memangnya kenapa kalau kita melaporkannya ke polisi, Bi? Biar Ratih segera ditemukan." seru Laura heran.


"Sudah Bu, bibi kapok berurusan sama polisi. Suami bibi dulu meninggal karena kesalah pahaman dengan polisi. Bibi tidak mau lagi berurusan dengan polisi." Bi Surti akhirnya pamit mau kedapur karena beliau mau memasak.


"Pah, semalam yang bukakan pintu untuk Papa siapa?" tanya Laura.


"Ratih."


"Papa gak melihat hal yang aneh sama Ratih?"


"Gak, Papa malah nyuruh dia bikin kopi untuk Papa. Papa malah heran, bisa- bisanya kalian semua tidur dalam waktu bersamaan. Tapi Ratih tidak tidak tidur.


"Maksud Papa, apa sih? Mama gak paham."


"Saat Papa pulang, masak Mama tidak tau. Biasanya Mama selalu dengar meskipun sudah ketiduran. Ibu, Carry dan Bobby juga sudah tidur."

__ADS_1


"Mungkin karena semalam itu hujan, jadi bawaannya pengen cepat tidur, Pa. Mama ngantuk sehabis makan malam."


"Tuh, 'kan bibi juga ngakunya begitu. Apa Ibu, Carry dan Bobby juga tiba-tiba ngantuk sehabis makan malam. Kok bisa mendadak kalian tidur bersamaan dan tidak satupun yang mendengar Papa pulang, baru juga Papa pulang jam sembilan." jelas Mark mengutarakan kecurigaanya. Mengaitkan prilaku Ratih semalam yang mencoba menggodanya.


"Jadi, maksud Papa, Ratih telah merencanakan untuk kabur dari rumah semalam, trus dia taruh sesuatu dalam makanan gitu? Astaga!" beliak Laura kaget.


Hampir saja Mark kelepasan omong kalau Ratih mencoba menggodanya tapi melihat keadaan istrinya yang tengah hamil, Mark tidak ingin ambil resiko. Takut emosi Laura labil dan berpengaruh pada kehamilannya.


"Itu masih spekulasi, Ma, entahlah apa rencana Ratih yang sebenarnya yang jelas niatnya pasti jahat. Buktinya dia kabur seperti ini, jadi dah jelas anak itu tidak menghargai kebaikan kita." Mark mengusap wajahnya lalu beranjak dari kursi. Kembali menuju kamar mau melanjutkan tidurnya kembali. Semalam Mark lembur sampai larut malam membuatnya masih mengantuk.


Laura mengikuti langkah suaminya masuk ke kamar dengan pandangannya. Apa yang barusan diucapkan suaminya membuatnya tidak habis berpikir.


Apa mungkin Ratih berniat kabur semalam dari rumah. Lantas apa motifnya kabur dari rumah? Bukankah beberapa bulan ini sikapnya selalu baik? Setidaknya itulah penilaiannya. Ratih selalu rajin menolong Bi Surti, sehingga meringankan pekerjaan perempuan paruh baya itu.


Lantas apa yang membuatnya kabur dari rumah ini? Tidak betah atau apakah Ratih mendapat pekerjaan yang baru? Ah, Laura merasa pusing menduga- duga alasan Ratih pergi dari rumah.


Sementara itu di rumah Riska.


"Tih, kamu sudah kabari Bibi kamu gak? Kasihan bibi kamu nanti kecarian kamu terus. Alasan kamu kabur dari rumah itu apa sih?" cecar Riska yang masih penasaran dengan tindakan Laura yang kabur dari rumah majikannya.


"Gak betah aja, Ris, sudahlah ngapain juga nanya-nanya itu terus, bosan," sungut Ratih kesal.


"Jujur saja sama aku Ratih, apa kamu bermasalah lagi dengan majikanmu? Seperti kejadian kemarin- kemarin itu. Aku kan sudah berkali-kali ngomong sama kamu, jangan mudah terpengaruh godaan mereka. Mereka itu orang kaya, punya banyak uang, jadi menggoda kamu itu cuman karena iseng!" seru Riska.


"Eh, kamu ngomong apaan sih, ngaco. Aku kabur karena memang diusir dari sana. Aku gak mau bibi tau, makanya aku kabur," sentak Ratih.


"Siapa yang mengusir kamu, majikan perempuan atau laki-laki?


"Tuan Mark."


"Kok bisa. Apa kamu menggodanya?" tebak Riska telak membuat Ratih menunduk. "Sudah kuduga. Kamu memang tidak ada kapok-kapoknya. Kamu itu gak tau diuntung tau gak! Beraninya kamu lakukan itu" semprot Riska marah campur aduk.


"Maafkan aku, Ris."


"Eh, kok minta maaf ke aku sih. Sana, kamu minta maaf ke bibi kamu karena telah buat masalah sama beliau," ucap Riska gregetan.*****


"Oh. Tapi Mama heran kok

__ADS_1


__ADS_2