
"Terkadang kebaikan itu dibalas dengan keburukan. Keburukan datang untuk menguji, sejauh mana kasih meraja . Tetaplah teguh dalam percobaan, karena itu akan membuatmu lebih kuat."
"Pa, besok jadi dinas keluar kota?" ucap Laura saat mereka ngumpul di meja makan sarapan pagi.
"Iya, Ma. Rencananya sih, begitu." Mark menyahut, seraya menyuapkan nasi goreng ke mulutnya. "Dak papa, 'kan Ma, Papa tinggal beberapa hari." Ditatapnya wajah istrinya lekat.
"Gak papa loh, Pa. Ada Ibu dan Bi Surti."
"Ada Carry dan Bobby juga lo, Ma." Carry protes karena Laura tidak menyebut namanya. Bibir Carry maju beberapa centi membuat Mark, mengusap kepala putrinya.
"Ah, iya. Mama kok gak nyebut nama Carry dan Bobby. Mereka juga udah bisa diandalkan lo jaga, Mama." kekeh Mark. Membuat semuanya tertawa.
"Ih, Papa malah ngejek Carry sih."
"Gak lo sayang. Papa ngomong beneran. Selama Papa pergi, Carry harus jagain Mama ya. Jangan sampai ada satu nyamukpun ngegigit, Mama. Oke?" Mark berusaha menahan senyum dibibirnya.
"Sip, oke Pah. Bobby dan kak Carry akan sedia baygon terus ditangan," ucap Bobby ngakak.
"Hah! Buat apa baygonnya coba?" beliak Mark pura-pura melototkan matanya.
"Ealah, kan mau ngusir nyamuknya. Iya 'kan Kak?" Bobby minta dukungan dari Carry.
"Iya, buat nyemprotin Mama, biar gak dirubungi nyamuk." Carry dan Bobby tertawa lucu.
"Ya ampun. Itu sih bukan mau ngusir nyamuk. Adanya malah bikin Mama, pingsan dong. Ih, anak Mama pada jahat nih," gelak Laura. Semua tergelak mendengar candaan Laura.
Keluarga yang harmonis dan selalu menebar kehangatan satu sama lain. Ratih sendiri sampai iri dengan suasana hangat di pagi itu.
Terutama setiap mencuri pandang ke arah Mark, yang menatap Laura dan anak-anaknya penuh cinta.
Sosok Mark benar-benar membuat Ratih terkagum. Belum lagi perhatian dan perlakuan Mark pada semua anggota keluarga. Pada bibinya saja, Mark begitu baik. Pantasan bibinya bisa betah kerja bertahun-tahun dengan Mark. Sejak masih duda, hingga Mark menikah lagi dengan Laura.
Ratih tidak bisa menekan perasaannya yang diam-diam menyukai majikannya itu. Semakin dia tekan, rasa itu makin membuncah hingga angannya sering melambung. Bi Surti terkadang heran dengan sikap keponakannya itu.
"Ratih, ngapain kamu dari tadi senyum- senyum mulu." Tegur Bi Surti saat Ratih menyuci piring.
"Ah, Bibi, ngagetin Ratih." cebik Ratih.
__ADS_1
"Kerja yang benar, jangan suka menghayal."
"Hem, bibi malah lebih cerewet dari majikan. Sok berkuasa lagi." Ratih ngedumel panjang pendek.
"Tih, ayo cepatan beresin peralatan dapurnya. Kamu dipanggil Bu Laura." Bi Surti berteriak dari pintu dapur. Karena sudah beberapa kali dipanggil Ratih tidak menyahut.
"Iya, Bi!" Lagi-lagi Ratih dikagetkan oleh Bi Surti. Ratih bergegas keruang depan, memenuhi panggilan Laura.
"Ada apa, Bu?"
"Eh, Ratih. Itu kain pel yang disamping siapa yang taruh disana ya?"
"Astaga, maafkan Ratih, Bu. Ratih lupa bawanya tadi kedapur."
"Iya udah, segera ambil dan lap air yang tergenang disana. Barusan kucing berantam hingga air tumpah." Ratih bergegas ke teras samping.
Benar saja air dalam ember sudah tumpah semuanya, menggenangi teras samping.Bisa-bisanya aku lupa tadi. Batin Ratih.
"Kamu kok teledor kali, Ratih. Untung Bu Laura tidak sempat menginjak air itu. Lain kali kamu harus lebih hati-hati. Jika kamu kerjanya ceroboh, nama bibi yang akan dipertaruhkan. Paham kamu!" tukas Bi Surti kesal.
Bi Surti tidak menyangka kalau keponakannya sudah berubah. Dulunya dia rajin dan cekatan. Namun sekarang sudah pemalas dan kerjanya juga asal-asalan saja.
Pantas saja dia dipecat majikannya jika cara kerjanya seperti ini. Kalau bukan karena keponakannya Bi Surti pasti sudah menyuruh Laura memberhentikannya. Selain karena ingat keluarga Ratih di kampung, Bi Surti juga berharap Ratih akan berubah dan mau bekerja dengan baik.
Ratih baru selesai membereskan peralatan dapur. Bi Surti dan dirinya masak makanan kesukaan Mark. Karena nanti siang Mark akan pulang dari dinas luar kota.
Kata Bi Surti, sudah kebiasaan dari Mark setiap pulang dari luar kota merequets masakan kesukaannya dan yang menjadi menu pavorit keluarga majikannya.
Arsik ikan mas serta sambal goreng ikan mas dengan bumbu utama bawang
lokio atau lebih dikenal bawang batak. Daun ubi, dan daun kates serta bunganya yang dimasak urap. Semuanya sudah tersedia diatas meja.
Tinggal menunggu kedatangan Mark saja yang sedang dalam perjalanan.
Laura sudah berdandan serapi dan secantik mungkin menunggu kedatangan suaminya. Laura tengah duduk diteras bersama Bu Rianti menunggu kepulangan, Mark.
Ratih juga telah mandi, dia mengenakan gaun batiknya dengan leher yang agak terbuka. Tujuannya hanya satu, ingin menarik perhatian Mark, saat meladeni mereka makan siang.
__ADS_1
Saat Ratih mamatut dirinya didepan cermin, Bi Surti masuk. Ratih dan Bi Surti memang satu kamar. Karena kamar diebelah kamar Bi Surti telah dijadikan gudang penyimpanan barang peralatan Mark.
"Kamu mau kemana, Ratih, pake baju kek gitu?" selidik Bi Surti heran.
"Gak kemana-mana kok, Bi."
"Lha, kamu kok pake gaun gituan apa pantas pake dirumah ini?"
"Emangnya kenapa kalau Ratih pake gaun ini, Bi. Apa kurang bagus?"
"Baju kamu kurang sopan di kenakan di rumah ini. Dihadapan majikan kamu. Ayo ganti!" perintah Bi Surti tegas.
"Yeah, Bibi kok kolot kali sih. Apa salahnya Ratih pake baju kek gini. Mana cuaca panas pula."
"Baju kurang bahan gini kamu bilang bagus? Kecuali kamu mau menggoda seseorang kamu tau tidak pantas pake baju kek gini."
"Yah, Bibi sih. Iya, aku ganti." Ratih mencebikkan bibirnya dibelakang Bi Surti saat wanita itu keluar dari kamar.
"Tin.... Tin...." Suara klason mobil terdengar bersahutan. Mark telah sampai di rumah. Senyum mengembang di dibibir Mark saat melihat ibu mertua dan istrinya tengah duduk diteras menyambut kepulangannya.
Rasa rindunya pada keluarganya setelah seminggu lebih di luar kota.
"Hai Ibu," Mark memeluk ibu mertuanya.
"Hai sayang. Pekerjaanmu lancar?" Bu Rianti balas memeluk menantunya dengan hangat.
"Berkat doa ibu dan semuanya, urusan pekerjaan Mark, lancar semua, Bu."
"Hai Mama, bagaimana harimu, Ma." Mark gantian memeluk Laura. Laura menyambut uluran tangan suaminya dan mencium punggung tangan Mark.
"Hai, Pa. Mama baik-baik saja. Ada yang kangen berat sama Papa." Laura mengusap perutnya.
"Ah, iya Papa lupa memberi salam. Hai kesayangan, Papa. Gimana kabarmu?" Mark menempelkan wajahnya di perut Laura dan mengelusnya. Auh!" Mark terkejut saat merasakan sebuah tendangan diwajahnya. Laura juga kaget saat merasakan tendangan diperutnya itu.
Mark tertawa dan memeluk istrinya .
"Ah, jagoan papa ngajak berantam kali." gelaknya. Mereka tertawa lepas, lalu Mark mengajak masuk kerumah. Disertai senyum cerah karena telah melepas rindu.
__ADS_1
Sepasang mata menyaksikan kehangatan kasih itu. Dengan sorot mata yang sulit diartikan. Senyumnya tersungging sinis. Sepasang mata milik Ratih.*****