
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, Mark tiba di rumah sakit. Keadaannya lagi kritis karena banyak kehilangan darah.
Mark segera dibawa ke ruang IGD untuk mendapatkan perawatan yang intensive.
"Gimana ini, Pak Tris, keluarga bos belum juga bisa di hubungi," keluh Dirga, yang mencoba sedari tadi menghubungi Laura istri bos nya, tapi tidak mendapat respon.
"Aku ke rumah bos saja sekalian jemput mau ke sini," saran Deni.
"Baiklah, tapi kamu harus hati-hati bicara. Kasihan Bu Laura karena sedang hamil tua," ucap Trisna mengingatkan.
"Baik Pak Trisna, saya akan bicara hati- hati." Deni bergegas menyusuri koridor rumah sakit menuju pintu gerbang. Namun, mendadak mata Deni melihat ibu mertua Mark, juga anak-anak serta Bi Surti, tapi tidak menemukan sosok Laura.
Kening Deni mengernyit heran. Merasa penasaran kok tiba-tiba mereka beramai-ramai ke rumah sakit. Apa keluarga bosnya sudah tau kalau Mark masuk rumah sakit?
Bergegas Deni menghampiri rombongan kecil itu. Dari raut wajah mereka terlihat cemas.
"Bibi, ngapain rame-rame ke sini?" tegur Deni heran seraya berbisik.
"Eh, Pak Deni, ngapain juga kemari? Bukannya bersama tuan ke lokasi proyek?" cecar Bi Surti tak kalah heran.
"Eh, anu Bi. Mana Ibu Laura?" alih Deni seraya menatap kesekeliling mencari sosok istri bosnya.
"Ibu Laura masuk rumah sakit, saat berada di rumah makan perutnya mendadak kram. Bapak susah kali dihubungi, tidak aktif sedari tadi," ucap Bi Surti cemas.
"Astaga!" Deni menepuk jidatnya keras karena panik dan kaget. Bi Surti jadi heran.
"Emang ada apa sih? Kenapa dengan dengan Tuan Mark?" ucap Bi Surti sedikit keras.
"Bi, jangan keras-keras bicaranya." Deni melirik kearah Bobby dan Carry.
"Ada apa sih, Pak. Apa terjadi sesuatu dengan Tuan?" ucap Bi Surti lirih.
"Iya, Bapak sedang di ruang IGD, terjadi kecelakaan di proyek. Tadi sudah mencoba menghubungi Ibu Laura. Pantasan gak dijawab ternyata Ibu Laura juga masuk rumah sakit."
__ADS_1
"Ya, Tuhan! Kok bisa bersamaan gitu." elus Bi Surti pada dadanya.
"Entahlah, Bi. Jadi bingung mau ngasih tau anak-anak."
"Biar bibi saja yang bilang. Bapak dirawat dimana?" ucap Bibi Surti.
"Tadi masih di IGD, nanti saya chat, bibi kalau sudah dipindah ke ruang perawatan."
"Iya, Pak, bibi pergi dulu, lihat kondisi Ibu Laura."
"Baik Bi, saya juga pamit. Lihat bapak juga."
Bi Surti menghela napas berat melihat kepergian Deni. Bi Surti merasa bingung, bisa-bisanya kedua majikannya masuk rumah sakit pada hari yang bersamaan.
"Bagaimana? Cepat kali kamu balik?" ucap Dirga yang melihat kemunculana Deni.
"Istri Bos, juga sedang dirawat disini. Pantasan gak bisa dihubungi," keluh Deni.
"Hah, istri Bos melahirkan, ya?" kernyit Trisna bingung.
"Ah, apa hubungannya. Tapi bisa juga, kontak batin katanya," cetus Roy tapi merasa gamang dengan ucapannya sendiri.
Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang IGD, Trisna dan Dirga juga Roy serta Deni, serempak berdiri dan menghampiri sang dokter.
"Bagaiamana keadaan Pak Mark, dokter?" tanya Trisna.
"Syukurlah, operasi berjalan lancar. Pak Mark belum sadar, kondisinya lemah karena terlalu banyak kehilangan darah. Luka tusukan itu tidak mengenai organ vitalnya." jelas sang dokter panjang lebar.
"Terima kasih dokter," sahut Trisna.
"Oh, ya, keluarga pasien mana?" selidik dokter heran.
"Maaf dokter kami mewakilkan keluarga buat sementara, karena istrinya juga tengah dirawat juga di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Terluka tusukan juga?"
"Tidak dokter, mungkin mau melahirkan, soalnya istri beliau tengah hamil," sahut Deni.
"Baiklah, saya ke ruangan saya dulu." Pamit sang dokter berlalu dari hadapan mereka.
Sementara di ruangan tempat Laura dirawat Carry dan Bobby sangat cemas melihat keadaan mama mereka yang meringis manahan sakit.
"Bu Laura, apa tidak sebaiknya ibu di kusut saja. Mungkin saja posisi bayi lagi kejepit jadi harus dibetulin letaknya." saran Bi Surti.
"Entahlah, Bi, aku justru mencemaskan Bapak. Mana ponselku?" ucap Laura mencari ponselnya. Laura ibgin menelepon suaminya.
"Ponsel ibu ketinggalan di rumah makan, Bu," sebut Lira, karena panik Lira tidak sempat mengambil ponsel majikannya saat dia lihat jatuh di bawah meja.
"Oh, iya, Ibu ingat. Terjatuh di rumah makan. Bi, pinjam ponsel Bibi dulu biar bapak dihubungi." Bi Surti memberikan ponsel.
Laura mengetikkan nomornya di poonsel Bi Surti, lalu menghubungi nomor Mark. Tetapi panggilannya tidak tidak masuk.
"Mungkin signalnya buruk, Bu," celetuk Lira.
Entahlah, hatinya sangat mencemaskan keadaan suaminya. Tidak biasanya suaminya mengabaikan panggilalnnya.
"Bu sebenarnya tadi Bibi dapat info soal, Bapak."
" Maksud Bibi?"
"Ibu janji harus kuat dengar khabar ini, ya?" ucap Bi Surti ragu untuk bercerita.
"Iya, Bi, saya akan kuat. Cepat katakan apa yang terjadi dengan, Bapak?" Laura tidak sabar mendengar cerita Bibi Surti.
"Bapak sedang dirawat di rumah sakit ini, karena mengalami kecelakaan, Bu."
"Apa! Bapak kecelakaan dan sedang dirawat di rumah sakit ini?" beliak Laura kaget, mendengar cerita Bi Surti.
__ADS_1
"Iya, Bu, tadi bibi berpapasan dengan sopir Bapak, di gerbang. Pak Deni sudah menghubungi tapi tidak bisa menghubungi, Ibu." *****