
Trisna merasakan tengkuknya sakit bekas pululan orang yang tidak dia kenal. Saat dia tersadar dari pingsannya, dia melihatbdirinya telah terikat di kursi. Trisna melihat kesekeliling ternyata bukan dia saja yang tubuhnya terikat ke kursi dengan erat.
Dua anak buahnya yang bersama dirinya malam itu, juga dalam kondisi yang sama. Terikat ke kursi dengan mulut disumpal kain.
Trisna berusaha bergerak melepas ikatan tali ditubuhnya. Tetapi ikatan itu terlalu kuat, sehingga Trisna tidak bisa melepaskan dirinya. Suasana gubuk yang remang, hanya cahaya lampu dari bekas botol yang sumbunya dari plintiran kain. Nyala api bergoyang kesana kemari dimainkan angin dari celah-celah dinding bambu.
Trisna tidak tau sedang dimana berada saat ini. Suara jengkerik yang terdengar berashut-sahutan diluar sana, ibarat melodi mistis yang menggiring dirinya di negeri antah berantah.
Trisna menajamkan pandangan matanya, menembus cahaya gelap yang yang berpendar lewat celah dinding ayaman bambu.
Rasa sunyi yang mencekam ini membuat bulu kuduk Trisna meremang. Seolah ada yang mengamatinya dari kegelapan.
Kenapa tidak suara manusia, atau bisikan seseorang di luar jika mereka disekap diruangan ini? Bukankah mereka seharusnya dijaga? Setelah dibawa ketempat sunyi yang sama sekali belum dikenalinya.
Trisna menjatuhkan dirinya yang terikat di kursi, memancing apakah ada penjaga yang mengawasi mereka di luar.
Sekian detik berlalu, tidak ada yang datang masuk lewat pintu yang tertutup raapat. Padahal bunyi yang ditimbulkan Trisna cukup kuat untuk membangunkan penjaga di luar bila memang ada yang menjaga mereka.
Trisna menggeserkan tubuhnya dengan susah payah agar bisa mendekati kedua temannya yang masih pingsan.
"Dir, Dirga!" panggil Trisna perlahan takut ada yang mendengar panggilannya. Namun, Dirga masih diam malah Roy yang tersadar dari pingsannya dan terkejut mendapati dirinya terikat di kursi.
"Kenapa ini, Pak?" tanya Roy setelah melepaskan sumpalan kain dimulutnya.
"Sttt ...." Trisna memberi kode agar Roy tidak berisik, "tolong bangunkan Dirga," bisik Trisna karena Roy lebih dekat dengan Dirga. Roy menggeser tubuhnya dengan susah payah mendekati, Dirga. Menyepak kaki Dirga dengan ujung kakinya.
Sekian menit, Dirga akhirnya siuman juga. Sama seperti Trisna dan Roy, Dirga juga kaget mendapati dirinya terikat di kursi dan lebih kaget lagi saat melihat Trisna mandornya, terbaring dilantai tanah.
"Kita berada dimana, Pak?" bisik Dirga berusaha melepas tali ikatan ditangannya.
__ADS_1
"Entah, sepertinya kita berada ditengah hutan," sahut Roy saat dia mengendus aroma alam.
"Siapa yang membawa kita kemari, ayo kita harus melepaskan ikatan tali ini." Dirga yang berusaha dari tadi merasa putus asa karena tidak bisa melepas tali ikatan itu.
"Roy, kamu bisa gak meraih lampu minyak itu, arahkan ketanganku. Kita harus segera pergi dari sini," seru Dirga yang berfirasat tidak enak.
Roy mencoba bergerak, dan mencoba meraih lampu minyak diatas meja. Namun, sial! Lampu itu malah terjatuh dan berguling ke dingding ayaman bambu yang sudah lapuk.
Api langsung berkobar melahap dinding membuat Roy kaget. Diarahkannya tangan ke api untuk membakar tali ditangannya. Roy, menahan rasa panas di lengannya yang terjilat api. Tali rapia yang mengikat tangannya terbakar.
Lalu buru-buru Roy melepas ikatan tali di kakinya. Begitu dia terbebas, Roy mengambil dingding bambu yang terbakar untuk memutus tali ditangan Dirga.
Dirga melepas tali di kakinya sementara Roy kembali membakar tali di lengan Trisna. Ketiga terbebas dari ikatan tapi masalah besar muncul karena api telah membakar dingding gubuk itu. Angin yang berhembus membuat api semakin berkobar dengan mudah, dan telah melahap atap gubuk yang terbuat dari daun rumbia.
Ayo cepat, Pak, kita harus menerobos api untuk keluar dari sini. Trisna dan kedua anak buahnya berhasil keluar dari gubuknyang terbakar itu.
Sementara itu, anak buah Darman yang menculik Trisna dan kedua anak buahnya, sedang dalam perjalanan pulang kembali menuju hutan, malam itu.
Mereka pergi ke desa untuk membeli perbekalan mereka selama dihutan. Mereka telah menculik dan menyekap tiga orang pekerja dsn membawanya ke tengah hutan.
Mereka sangat kaget saat ditengah perjalanan melihat titik api yang berasal dari lokasi penyekapan mereka.
"Gawat bos, sepertinya titik cahaya itu berasal dari tengah hutan." seru salah satu anak buah Darman.
"Itu bukan titik cahaya, sepertinya ads kebakaran di hutan." seru yang lain.
"Astaga! Jangan-jangan gubuk itu terbakar. Aku sudah melarang kau menyalakan lampu minyak. Dasar bodoh, ini pasti akibat ulahmu." lelaki yang dipanggil bos, menggertak anak buahnya yang telah menyalakan lampu minyak di gubuk tua itu, tempat mereka menyekap Trisna dan kedua anak buahnya.
"Ayo, bergegas kesana. Jangan sampai mereka melarikan diri." Keempat anak buah buah Darman itu, bergegas menuju hutan. Terpaksa mereka menyembunyikan perbekalan mereka disemak-semak untuk memudahkan mereka memasuki kawasan hutan.
__ADS_1
Lokasi hutan itu masih kawasan hutan milik warga, yang menanam pohon karet dan pohon besar lainnya. Akses jalan kesana hanya jalan setapak yang dilalui sepeda motor trail.
Kawasan hutan yang medannya cukup sulit, karena jalan yang mendaki dan bebatuan.
Trisna, Dirga dan Roy dari kejauhan mendengar suara motor itu. Langkah ketiganya terhenti. Mereka telah berada diareal persawahan warga yang menjadi batas hutan.
Berbekal cahaya bintang, mereka berjalan menyusuri jalanan yang belum pernah mereka lalui. Hanya mengandalkan insting dan naluri ketiganya semakin menjauhi hutan menuju arah utara, karena mereka melihat banyak titik-titik cahaya yang berarti adalah pemukiman warga.
Mereka makin mempercepat langkah kaki, karena suara motor yang mereka dengar makin mendekat. Terkadang mereka merunduk saat cahaya lampu sepeda motor itu menerangi arah jalan mereka.
Hingga menjelang subuh, akhirnya mereka tiba di pemukiman warga. Jalan yang memutar yang mereka tempuh, untuk menghindari agar tidak berpapasan dengan pengendara motor, yang mereka yakini adalah para penculik mereka.
"Sepertinya kita sudah sampai di desa terdekat," ucap Trisna dengan napas ngos-ngosan kepada kedua temannya, yang kondisinya sama seperti dirinya.
"Kita harus hati-hati jangan sampai menarik perhatian warga, karena kita tidak tau siapa yang yang telah menculik kita,"bisik Trisna kepada kedua temannya.
Trisna, Dirga dan Roy pergi menuju mesjid yang terletak ditengah pemukiman. Saat itu Deni dan pamannya juga tengah berada di mesjid untuk sholat.
Saat hendak mengambil air wudhu, Trisna berpapasan dengan Deni. Sontak Deni kaget melihat Trisna dengan kondisi yang lebih mirip seperti gelandangan.
"Pak Trisna?" sapa Deni ragu. Menatap sekelilingnya yang masih sepi. Takut bila ada yang memperhatikan mereka.
"Eh Pak Deni, ngapain kalian disini?" beliak Trisna merasa lega karena melihat Deni. Trisna kenal Deni karena beberapa kali mereka bertemu saat bertugas dengan Mark.
"Aku dan Pak Mark sengaja datang kemari, mau menyelidiki keberadaan kalian. Apa yang telah terjadi? Kenapa kalian bisa disini sepagi ini, dan kondisi seperti ini?" seru Deni heran.
"Sttt .... jangan keras-keras. Kami bertiga baru melarikan diri dari hutan." *****
"
__ADS_1