
Trisna mengamati sekeliling, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Tempat ini aman, masih sedikit orang yang hadir. Ayo, aku kesini bersama pamanku." Deni menjelaskan situasi sekitaran mesjid.
"Kami harus segera meninggalkan tempat ini sebelum anak buah Darman menemukan kami. Mereka telah menyekap kami ditengah hutan." jelas Trisna merasa ngeri. Selain itu dia mengetahui sebuah rahasia, yang harus dia sampaikan pada Mark, bosnya. Trisna merasa terancam keselamatannya.
"Sebentar saja, tunggu aku selesai sholat. Aku akan panggilkan pamanku."
"Kamu yakin pamanmu pro pada kami?" tanya Trisna tajam. Saat keadaan genting seperti ini, mereka sulit memercayai orang asing.
"Tenanglah Pak Tris, kamu harus percaya aku. Akan aku pertemukan kamu dengan Pak Mark." Deni berusaha membujuk Trisna yang panik. Untuk membuat ketiganya merasa aman, Deni menyuruh mereka sembunyi di gudang, menunggu dia dan pamannya selesai Sholat subuh.
Selang beberapa saat kemudian, Deni dan pamannya kembali menjumpai Trisna dan kawannya di gudang. Wajah ketiganya nampak lelah dan pucat. Bergegas paman Deni mengajak mereka keluar dari lokasi mesjid dengan menusuri jalan pintas agar tidak berpapasan dengan warga.
Mark yang sedang merokok, diarah dapur rumahnya paman Deni, terkejut melihat kedatangan Deni dan Trisna juga Dirga dan Roy.
"Kamu Trisna? Bagaiamana bisa ketemu dengan Deni?" beliak Mark kaget campur senang karena bisa bertemu Trisna. Banyak pertanyaan yang hendak Mark ajukan pada Trisna. Namun melihat kondisi mereka saat ini, Mark menunda keinginanaya itu dulu.
Bibi Deni menyiapkan makanan untuk sarapan mereka pagi itu, Trisna dan Dirga juga Roy makan dengan sangat lahapnya. Mereka bertiga tidak makan sejak diculik kemarin malam.
Setelah selesai makan, Trisna menceritakan kronolagi penculikan mereka. Mark da Deni begitu juga paman dan bibi Deni, menyimak dengan serius.
"Saat aku menelepon Bapak waktu itu, tiba-tiba kami diserang diposko, Pak. Begitu sadar tubuh kami telah terikat di gubuk di tengah hutan. Kami mencoba melepas ikatan ditubuh kami, hingga gubuk itu terbakar dan kami bisa melarikan diri." Trisna menuturkan pengalaman mereka selama diculik.
"Pantasan tadi malam bapak melihat titik api di kejauhan. Kalau tidak salah itu tanah perkebunan Pak Darman. Provokator dari kerusuhan pembangunan jalan itu. Pasti ini ulah anak buahnya." beber Pak Mirza paman Deni.
"Paman yakin itu anak buah pak Darman?" tanya Mark.Mark tidak habis mengerti apa motif dari pak Darman, sampai membuat rusuh di proyek yang tengah ia tangani.
"Paman yakin, karena mereka di bawa ke tengah hutan yang masih areal milik pak Darman," ucap pak Mirza antusias.
__ADS_1
"Kami mendengar suara motor memasuki kawasan hutan," sahut Trisna menimpali.
"Anak buah Darman itu memang geng motor dan suka membuat onar. Ternyata, meski telah tertangkap, dia masih memerintahkan anak buahnya untuk membuat rusuh." omel Pak Mirza menggeleng tak habis pikir.
"Pak, apa Bapak kenal dengan nama, Andre?" ucap Trisna menatap Mark. Mark terkejut dengan ucapan Trisna.
"Andre? Andre siapa?" Mark malah balik bertanya. Mark tidak mengenal nama itu, hanya satu orang yang dia kenal bernama Andre, yakni mantan suami istrinya. Apa iya dia orangnyang sama, entahlah.
"Saya sempat mendengar seseorang menyebut nama itu. Dia memerintahkan untuk mencelakai bapak. Itulah sebabnya saya sempat menyuruh Bapak tidak datang. Sepertinya ada seorang pekerja yang menjadi mata- mata dan melapor pada Andre." jelas Trisna.
Mark bungkam beberapa saat, apakah orang yang dia kenal itu adalah orang yang sama seperti yang disebut, Trisna.
Kàlau dia adalah orang yang sama, inikah ancaman Andre tempo hari saat gagal menculik Bobby?
"Saya mengenal seseorang bernama Andre. Tapi entahlah apakah dia orang yang sama dengan yang kau dengar itu. Jika benar ada seorang penyusup dan sengaja hendak menghancurkan pekerjaan saya, aku akan buat perhitungan dengannya." Mark mengepalkan telapak tangannya menahan geram.
"Jadi apa yang harus kita lakukan, Pak?"
"Tapi, Pak. Hal itu akan sangat riskan, bisa mengancam keselamatan Bapak," protes Deni tidak setuju.
"Lantas apakah dengan sembunyi semuanya akan selesai. Saya tidak mau dipermainkan seperti ini. Sungguh pengecut!" sentak Mark geram.
Mark merencanakan kalau besok dia akan meninjau lokasi kerusuhan pekerja dengan warga. Melihat seberapa parah kerusakan yang ditimbulkan insiden itu. Selain itu, Mark ingin mendengar langsung dari warga apa penyebab mereka protes akan pembangunan jalan itu.
Padahal pembangunan jalan itu akan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat itu sendiri, sehingga memudahkan mereka mengangkut hasil pertanian atau perkebunan mereka. Memudahkan para toke mendekati petani, sehingga hasil pertanian mereka tidak dikuasai para tengkulak yang sering mempermainkan harga.
Suara panggilan dari ponsel Mark tiba- tiba berdering memecah ketegangan diantara mereka. Ternyata Laura yang menelepon Mark.
Mark permisi untuk menjawab panggilam itu. Setelah berada di dapur Mark menyapa istrinya.
__ADS_1
"Ada apa sayang, kamu baik-baik saja 'kan?"
"Iya, Pah, mama baik-baik saja. Bagaimana dengan Papa? Sudah sarapan gak?"
"Sudah sayang, papa baik-baik saja kok. Sidedek gak rewel 'kan?" ucap Mark menanyakan kandungan Laura.
"Gak, Pah, tau dia papanya lagi keluar kota kali," canda Laura manja.
"Sabar ya sayang, papa akan pulang sesegera mungkin, kalau urusam papa udah kelar di sini. Mama dan dedek jaga kesehatan ya. Dadah." Mark segera memutus telepon saat dia lihat dari arah belakang rumah gerakan yang mencurigakan.
Bergegas Mark kembali ke ruang tamu, memberi kode kalau ada orang di belakang rumah semuanya saling pandang tegang. Trisna, Dirga dan Roy panik. Pak Mirza lansung menyuruh mereka sembunyi di kamar.
Sementara Deni dan Mark kembali duduk tenang seolah tsk terjadi apa- apa.
Terdengar ketukan keras di pintu. Pak Mirza membukakan pintu. Nampak tamu pak Mirza seorang lelaki umur tiga puluhan.
"Kamu, Gus, ada apa?"
"Anu, Pak. Saya mau melapor." ternyata tamu itu adalah orang suruhan Pak Mirza.
"Kamu lewat dari mana, kok napasnya ngosngosan begitu."
Sengaja dari belakang, Pak. Biar tidak menarik perhatian orang."
"Oh, jadi kamu yang barusan dilihat, pak Mark. Mengendap-endap dibelakang." pak Mirza tersenyum lega dan merasa lucu dengan ketegangan yang tiba-tiba menyergap mereka semua.
"Maafkan saya pak, saya tidak bermaksud menakut- nakuti tadi," ucap Agus tersenyum kecut.
"Kamu dapat info apa, sampai buru- buru kemari."
__ADS_1
"Itu lo Pak, seperti dugaan bapak, pak Hendrolah yang telah menghasut warga. Pak Darman yang menyuruh anak buahnya membakar barak dan menculik pekerja yang hilang itu," ungkap Agus pelan dan qanagat hati-hati.
"Pak Hendro!? Beliak Pak Mirza nyaris tak percaya. Pak Hendro adalah Lurah di kampung sebelah sahabat Pak Mirza.*****