Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab, 53.


__ADS_3

Pak Mirza sangat kaget mendengar keterangan dari Agus. Bagaimana mungkin sahabatnya itu bisa berubah dan terlibat dengan kasus serius seperti itu.


Padahal Pak Hendro adalah orang yang baik dan tegas menegakkan kebenaran. Bisa-bisanya terlibat. Apa yang melatari sahabatnya itu sampai berubah sedrastis ini. Apakah karena uang atau jabatan yang membuat sahabatnya itu jadi gelap mata.


"Kamu gak salah informasi, Gus? Paman sudah kenal si Hendro itu sejak lama tidak mungkin dia seperti itu." Pak Mirza berang, menganggap Agus mengada-ada.


"Awalnya aku juga gak percaya paman tapi setelah melihat sendiri, aku sangat kaget," tukas Agus antusias. Pak Mirza diam dan tidak habis pikir. Pasti ada sesuatu hal penting yang membuat temannya itu berubah.


"Aku dengar, putrinya akhir-akhir ini sering masuk rumah sakit, Paman."


"Tapi tidak mungkin karena itu, pasti karena sebab lain. Sudah, nanti Paman mau kerumahnya.


"Oya, Gus, bagaimana kabar karyawan proyek yang diculik itu, apa kamu dengar info sola mereka?" tanya Pak Mirza, ingin mendengar kabar terakhir yang tersebar di tengah warga.


"Agus masih tau pasti Paman, katanya ada yang lihat mereka didbawa ke tengah hutan. Tengah malam tadi ada yang bilang ada kebakaran di perkebunan pak Darman. Ceritanya masih simpang siur Paman."

__ADS_1


Pak Mirza mengangguk dan melirik Mark penuh arti. Mark hanya bereaksi diam, seolah tidak paham yang mereka bicarakan. Sementara Trisna, Dirga dan Roy diam mematung di bilik kamar tempat mereka disembunyikan tuan rumah.


Setelah berbasa-basi sebentar, Agus pergi meninggalkan rumah Pak Mirza. Mengendap-endap lewat belakang rumah. Pak Mirza mengeluh kenapa suasana daerahnya mendadak kisruh begini. Terlebih sahabatnya yang menjadi lurah di desa tetangga malah ikutan terlibat seperti cerita Agus.


Pak Mirza memberi kode agar Trisna dan temannya keluar dari persembunyiannya. Dengan mimik wajah yang nampak panik, Trisna dan kedua temannya keluar dan gabung kembali dengan Mark.


"Bapak mau pergi dulu ke rumah Pak Hendro. Buat sementara kalian disini saja dan jangan sampai ada warga yang melihat keberadaan kalian," ucap Pak Mirza mengarahkan pandangannya pada Trisna, Dirga dan Roy.


"Bagaimana dengan kami, Paman. Soalnya saya datang kemari untuk menyelesaikan masalah ini agar segera tuntas. Saya tidak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut." Mark bicara dengan penuh tekanan.


"Itulah sebabnya paman pergi dulu melihat situasi disana. Jika situasi sudah aman baru kesana meninjau lokasi ini demi mencegah ada korban yang jatuh lagi." Pak Mirza membeberkan rencana kepergiannya kerumah Pak Hendro.


Mark terdiam mendengar ucapan Pak Mirza. Ada benarnya juga perkataan beliau. Jika nekad datang sendiri ke lokasi tanpa pengawalan pihak keamanan, bukan tidak mungkin terjadi lagi kericuhan.


Tiba-tiba ponsel dikantong Mark, berdering. Spontan Mark merogoh kantong celananya dan melihat sebuah nomor yang dia kenal. Mark memberi kode permisi untuk pergi sebentar.

__ADS_1


"Halo Pak Mario," sahut Mark dengan suara lirih.


"Bagimana situasi disana, Pak! Sudah aman?"


"Sudah terkendali pak, hanya saja saya masih tertahan di desa tetangga dan belum bisa meninjau lokasi karena anak buah Darman masih berkeliaran pak."


"Bapak berhati-hati, ya. Jangan bertindak gegabah. Tunggu kedatangan tim dari pusat. Masalah ini harus segera ditangani dan mencari siapa dalang dibalik semua ini."


"Baik Pak Mario, saya tunggu kabar selanjutnya." Mark melipat kembali ponselnya. Sebaiknya memang menunggu saja tim dari pusat untuk mengevaluasi insiden demo warga itu


"Pak sebaiknya kami pulang saja dulu, mengamankan anak buah saya sebelum anak buah Tuan Darman menemukan mereka disini."


"Baiklah Bapak setuju, jangan sampai mereka menemukan kalian disini. Sebaiknya sekarang saja pergi, sebelum mata-mata Tuan Darman menyisir desa kami."Pak Mirza setuju saja ide Mark, karena hal itu lebih baik dari pada bertahan di desa dengan keselamatan yang terancam.


Saat itu juga Deni menyalakan mesin mobil dan bersiap pergi. Saat mereka berhasil keluar dari ujung desa, gerombolan sepeda motor anak buah Darman datang ke desa pak Mirza, mencari Trisna, Roy dan Dirga. *****

__ADS_1


__ADS_2