Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 59. Andre vs Mark


__ADS_3

Andre terdiam saat mendengar ancaman Pak Umar, karena misinya untuk mengahancurkan Mark belum berhasil. Mendengar ancaman itu, membuat otaknya berpikir keras. Jangan sampai ia dikeluarkan supaya tetap bisa mengendalikan orang-orangnya di proyek.


"Baik pak, saya akan segera datang kalau suasana sudah aman."


"Baguslah, Pak Rehan ditunggu kedatangannya besok." Pak Umar menyudahi obrolan itu. Lalu mempersilahkan semuanya duduk karena Mark mau memberi pengarahan.


"Saudara sekalian semua, kita harus melanjutkan kembali pekerjaan kita yang dalam seminggu ini terabaikan karena insiden kemarin. Semua harus fokus bekerja jangan mau terlibat urusan yang tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan.


Jangan ada yang mau terpicu begitu saja karena provokasi segelintir orang yang mementingkan dirinya sendiri.


Siapapun yang terlibat dengan kasus kemarin, akan kita tidak dan selidiki. Jika saudara-saudara melihat atau mendengar sesuatu yang mencurigakan atau mengetahui siapa saja yang terlibat, jangan segan-segan melapor kepada saya. Saya sudah mengantongi beberapa nama yang dicurigai terlibat.


Saya harap, yang merasa dirinya memiliki informasi, datang kepada saya melapor, dan identitas saudara akan aman dan dilindungi. Sebaliknya yang tidak datang melapor tapi kami tau dia mengetahui sesuatu atau terlibat. Kami tidak segan-segan menindak saudara, dan berurusan dengan hukum," pungkas Mark tegas, seraya mengedarkan pandanganya kepada para pekerjanya.


Suasana yang tadinya mencekam, tiba- tiba riuh oleh bisikan yang tak jelas.


"Saya tunggu diruangan bagi siapa saja, dalam tempo 2x 24 jam dsn sertakan bukti-buktinya. Soal gaji serta biaya makan tetap ditanggung seperti biasa. Tidak ada potongan sama sekali. Silahkan konfirmasi dengan pak Trisna."


Bisikan-bisikan itu makin riuh, mereka bingung mendengar penjelasan Mark, berbeda dengan info yang mereka dengar sebelumnya kalau mereka tidak akan digaji dan biaya makan ditanggung sendiri.

__ADS_1


"Oke, harap semua tenang, Pak. Seperti kata saya tadi, silahkan temui saya bila ada yang kurang jelas atau ada info yang saudara ketahui." hentak Mark dengan suara penuh penekanan.


"Gimana, Coky, kamu yang ngasih tau kami kalau bos tidak perduli sama kita, nyatanya apa yang kamu bilang bertolak belakang semuanya." Rekan Coky yang duduk disisinya berbisik dan meragukan semua ucapan Coky.


"Ssttt .... jangan banyak bacot kamu. Awas kalau kamu berani ngadu, aku habisi kamu." Ancam Coky pada rekannya.


"Aku tidak takut, aku lelah selalu mendengar kamu yang selalu membuat hidupku susah. Aku punya keluarga yang harus aku penuhi kebutuhannya. Aku tidak ingin lagi terlibat kesalahan yang sama." Lelaki itu menatap Coky tak gentar. Coky balas menatap, dengan geram.


"Kamu benar-benar cari mati, ya?" bisik Coky geram, menahan gemeletuk giginya karena rekannya berhianat."


"Ini kesempatan bagi kita menyelamatkan diri, Coky. Jangan mendengar ucapan Andre lagi. Buktinya dia pergi meninggalkan kita dan terancam disini. Kamu masih mengharapkan Andre?"


Coky berpikir keras, antara setia atau membelot dari Andre. Coky merasa terancam juga dengan ucapan Mark. Juga perkataan rekannya membuat goyah pikirannya. Dia berpikir beratus kali untuk pasang badan membela Andre yang menyaru sebagai Rehan, untuk menghancurkan reputasi Mark.


"Sudah, jangan bepikir dua kali lagi. Siapa tau kita bisa mendapat keringanan bila jujur pada Pak Mark, mumpung kita diberi kesempatan." Rekan Coky terus mempengaruhinya karena ketakutan dengan ultimatum Mark.


Coky seperti cacing kepanasan saja karena resah menentukan pilihan. Dia merasa terpojok sekarang karena sepertinya Pak Mark juga telah mengetahui langkahnya dari ucapannya tadi, telah mengantongi beberapa nama. Jangan-jangan itu namanya sendiri.


"Ya, sudah kita jujur saja semoga Pak Mark masih memberi kita kesempatan." bisik Coky pada rekannya. Hanya mereka bertigalah yang selama ini yang berusaha mencari celah untuk merusak kinerja Mark.

__ADS_1


Setelah mereka dibubarkan, diam- diam Coky dan Riswan menemui Mark di ruangannya. Coky dan Riswan menjelaskan semuanya tentang keterlibatan mereka dalam kericuhan itu. Semua itu adalah atas suruhan Andre yang mengubah namanya menjadi Rehan, selama di lokasi proyek.


Mark yang sudah menduga toh tetap tekejut juga saat dugaannya benar. Andre benar-benar keterlaluan, masih saja berusaha mengusik kehidupan mereka.


Andre ternyata masih ingin balas dendam sama istrinya yang dia tujukan lewat diri Mark.


..."Oke, Andre, aku ingin lihat sampai sejauh mana kamu hendak menghancurkan keluaragaku! Monolog hati Mark mendengkus, setelah Coky dan Riswan keluar dari ruangannya....


^^^Mark memperingatkan pada Coky dan Riswan tetap bersikap biasa saja saat Andre datang. Seolah Mark belum mengetahui apa-apa perihal diriAndre yang menyaru sebagai Rehan..^^^


Coky dan Riswan mengangguk setuju, tidak akan melapor ke Andre, sehingga saat Andre tiba keesokan harinya, Andre tidak curiga masih terus menghasut beberapa orang pekerja.


Andre masih mengira kalau rahasia dirinya masih aman, karena Mark jarang meninjau proyek.


Sikap pongah Andre yang menganggap kalau rahasia dirinya belum terbongkar, masih berusaha mendekati yang lain, untuk mematangkan rencanya merusak kinerja Mark.


"Hem, begini ya kelakuanmu yang sengaja merusak nama baikku." Mark menyindir keras saat memergoki Andre yang mendekati beberapa warga. Melancarkan provokasinya yang sengaja memicu kerusuhan.


Andre menoleh kebelakang, dan terkejut melihat keberadaan Mark . Sekilas wajah Andre memerah karena ulahnya ketahuan.

__ADS_1


"Kamu ....?" beliak Andre mendadak gugup.*****


__ADS_2