Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 41.


__ADS_3

"Papa tidak apa-apa, Ma. Cuma lagi gak doyan saja." Mark berusaha menepis kekhawatiran istrinya.


"Bi, ada lauk yang lain gak?"


"Gak ada Bu, cuma ini semua." Bi Surti merasa bersalah karena tuannya tidak menyukai menu hari ini. Padahal menu pagi ini adalah kesukaan tuannya.


"Gak papa, Bi. Gak ada masalah dengan masakan, Bibi. Ma, Papa ke kamar dulu." Mark beranjak dari kursi dan memasuki kamarnya diiringi tatapan heran semuanya.


"Brengsek!" dengus Mark tertahan. Masih terbanyang dimatanya kejadian malam itu dan senyum menggoda dari Ratih tadi. Tau begini tabiatnya, tidak akan dia ijinkan Ratih tinggal dan bekerja dirumahnya. Mark memikirkan cara untuk memecat Ratih tanpa harus dicurigai oleh Laura dan Bi Surti.


"Papa kenapa sih, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Papa?" Tiba-tiba Laura telah menyusul ke kamar dan memijat pundak suaminya membuat Mark merasa rileks.


"Papa gak mikir apa-apa sayang. Papa berangkat dulu. Nanti anak- anak terlambat." Mark meraih tas kerjanya, serta jasnya


"Bener, gak ada apa-apa?".


"Suer. Tapi Papa minta kiss," Mark memajukan bibirnya.


"Ih, Papa maunya ada-ada saja." Laura mencium kening, mata, hidung, pipi dan bibir suaminya. "Dah puas 'kan, Pah." gelak Laura membuat Mark ikutan tertawa atas ulah istrinya.


"Hem, nanti malam ronde kedua, ya?" goda Mark. Seraya mencium sekilas bibir Laura.


"Oh, ya Pa, nanti siang Mama mau cek rumah makan dulu, ya. Sudah lama Mama gak kesana." Laura minta izin suaminya.


"Iya, kalau sempat, Papa makan siang disana saja."


"Papa pengen menu apa, biar Mama masak nanti."


"Pengennya sih, maem Mama saja." Goda Mark seraya menowel pipi istrinya.


"Ih, dasar suami mesum." balas Laura.


Beriringan mereka keluar dari kamar sambil tertawa.


Carry dan Bobby yang sedari tadi sudah menunggu, merengut saat melihat papa dan mama mereka.

__ADS_1


"Cepetan dong, Pah, Carry dan Bobby bisa terlambat nih. Papa dan mama asyik pacaran terus." cebik Carry.


"Iya, Iya sayang. Ayo, pamit sama Mama." Carry dan Bobby mencium punggung tangan Mark dan Laura. Lalu bergegas masuk ke dalam mobil.


"Papa pamit, hati-hati di rumah." Mark mencium kening istrinya lalu ke perut Laura.


"Dadah Mama." Teriak Carry dan Bobby seraya melambaikan tangan. Laura membalas lambaian itu hingga mereka menghilang dibalik tembok pagar.


Ratih yang kebetulan sedang menjemur kain dihalaman samping, melihat semua adegan yang membuat hatinya iri.


Ratih berhayal seandai dirinya dalam posisi Laura. Tentu dia akan menjadi perempuan yang paling bahagia sedunia. Tidak seperti saat ini, dirinya hanyalah seorang pembantu.


Ratih merasa penasaran, dengan sikap tuannya yang tidak memandang sebelah matapun padanya. Padahal Ratih merasa Mark pasti telah melihat tubuhnya malam itu.


Ratih merasa heran, dengan keadaan Laura yang hamil tentu Mark tidak akan bisa berhubungan badan dengan istrinya. Pastinya Mark akan puasa selama istrinya hamil. Bagaimana Mark bisa tahan akan godaannya?


Ratih benar-benar penasaran!


***


Mana suaminya akan telat pulang karena lembur. Sepertinya diluar juga akan turun hujan karena kilatan petir terdengar beberapa kali.


Sepertinya malam ini, dia tidak kuat lagi menunggu kepulangan suaminya. Mana cuaca begitu dingin membuat mata cepat mengantuk.


Suara klason yang memasuki halaman rumah tidak terdengar lagi oleh Laura. juga saat pintu diketuk. Seisi rumah telah terlelap. Semua karena ulah Ratih, yang telah mencampur pil tidur didalam masakan saat makan malam.


Ratih ingin menjebak Mark malam itu. Dia benar-benar ingin memiliki Mark meski hanya untuk semalam.


Ketika Ratih mendengar suara klakson mobil, buru-buru Ratih membukakan pintu.


"Selamat malam, Tuan." sambut Ratih saat membukakan pintu. Mark terkejut karena Ratih yang membukakan pintu untuknya. "Nyonya sudah tidur Tuan." Ratih kembali bicara karena melihat tatapan heran dari Mark.


Butir-butir air hujan yang membasahi wajah Mark, membuatnya semakin menarik dimata Ratih. Ingin sekali tangannya mengusap butiran air itu.


Mark yang menundukkan pandangannya, sempat melihat ujung gaun tidur yang dikenakan oleh Ratih. Meskipun telah dia sembunyikan di balik outer.

__ADS_1


Bergegas Mark berlalu dan menuju kekamarnya. Ratih kembali mengunci pintu.


"Ratih, tolong buatkan kopi dulu, dan antar ke ruang kerja." perintah Mark sesaat sebelum memasuki kamarnya. Mark harus menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai di kantor.


"Baik Tuan." sahut Ratih dan segera pergi ke arah dapur.


Sebelum pergi ke ruang kerjanya, Mark hendak membangunkan istrinya. Namun, melihat tidur Laura yang begitu pulas membuat Mark tidak tega mengganggu tidur istrinya.


Mark membetulkan selimut dan mencium kening istrinya lalu pergi menuju ruang kerjanya.


Beberapa menit berada di ruang kerjanya terdengar ketukan halus di pintu.


"Masuk!" perintah Mark tanpa menoleh ke arah pintu. Ratih memasuki ruang kerja Mark dengan segelas kopi yang masih mengepul. "Letakkan saja di meja itu."


Ratih meletakkan kopi itu diatas meja yang diperintahkan Mark. Mark fokus dengan layar laptop sehingga mengabaikan kehadiran Ratih.


Alih-alih segera keluar dari ruangan, Mark, Ratih malah berjalan mendekati majikannya itu. Karena fokus dengan layar laptop Mark tidak menyadari kalau Ratih berada dibelakangnya. Ratih yang mengagumi sosok tubuh Mark, perlahan mengelus dan memijat pundak Mark.


Mark terbuai dengan pijatan itu, membuat tubuhnya terasa rileks, dia pikir itu adalah ulah istrinya yang sering diam-diam menyelusup masuk keruangannya saat dia lembur.


"Udah sayang, nanti Mama capek. Ntar lagi ini selesai kok."


"Mas, ini aku Ratih. Pijatanku enak 'kan?" bisik Ratih lirih ditelinga Mark. Membuat Mark kaget dan terlonjak dari kursinya.


"Ratih! Apa-apaan kamu! Bukannya kamu sudah keluar tadi?" hardik Mark marah.


"Ratih mau menemani, Mas. Ratih suka sama Mas." Ratih malah dengan berani memeluk tubuh Mark.


"Kurang ajar kamu, Ratih! Keluar! Kamu pikir aku siapa bisa dengan mudah kamu rayu. Aku ini majikanmu dan sudah memiliki anak dan istri. Mentang- mentang istri saya hamil kamu mau menggoda saya, murahan kali kamu Ratih. Mulai besok kamu keluar dari rumah ini!" Mark menatap Ratih dengan amarah yang meluap.


"Maafkan saya Tuan. Tolong jangan berhentikan saya." Ratih bersimpuh di kaki Mark. Ratih tidak menduga kalau Mark akan menolaknya sekasar itu. Karena majikannya yang sebelumnya malah selalu menggodanya dan sering menyelusup tengah malam ke kamarnya.


Bahkan dia telah terang-terangan menggoda Mark malam itu, tapi justru melampiaskannya pada istrinya. Ratih jelas mendengar rintihan demi ******* saat Mark menggauli istrinya.


Ratih mengira kalau majikannya telah tergoda tapi takut memulainya. Membuat Ratih makin penasaran sehingga malam ini adalah waktu yang tepat untuk menggoda majikannya itu. Disaat semua penghuni rumah terlelap lebih awal karena pengaruh obat tidur yang dia masukkan ke dalam makanan.

__ADS_1


"Cepat kemasi barang-barangmu dan besok pagi sebelum matahari terbit, kamu sudah harus pergi dari rumah ini paham!" Mark membuka laci meja kerjanya dan mengambil uang. "Ini gaji kamu, pul satu bulan dibayar!" Mark melemparkan uang itu kehadapan Ratih. *****


__ADS_2