
"Buk!"
"Buk!"
"Buk!"
Tiga kali pukulan telak mendarat di perut Andre. Andre yang tidak menduga serangan itu jatuh terjengkang ke tanah. Rasa perih menusuk ke ulu hatinya. Susah payah Andre berdiri dan terhuyung menahan sakit di perutnya.
Setelah beberapa saat Andre bisa berdiri tegak lagi matanya menyorot angkuh ke Mark.
"Dasar pecundang!" maki Mark kalap dan hendak menerjang Andre lagi, tapi keburu dilerai Dirga.
Andre tersenyum sinis dan meludah ke tanah.
"Kamu pikir aku akan bebaskan kamu begitu saja." Andre menyeringai kearah Mark.
"Aku tidak punya urusan dengan kamu. Jika hal ini kamu kaitkan karena Laura, kamu benar-benar lelaki bodoh! Kamu sendiri yang menyia-nyiakan Laura. Ketika ada orang lain yang menghargainya, kenapa kamu malah sakit hati! Dasar, kamu pengecut!" maki Mark kalap ke Andre. "Jangan pikir aku akan lepaskan kamu, kamu harus harus membayar semua ini di penjara."
"Kamu mengancamku? Hahaha .... coba saja kalau kamu pubya bukti."
"Kamu pikir aku sebodoh itu, bicara tanpa bukti? Siap-siap sajalah, aku giring kamu ke penjara, karena semua kartumu sudah ada ditanganku!" ancam Mark tanpa ragu.
Andre merasa gentar juga mendengar ancaman, Mark. Apakah dia serius dengan ucapannya itu atau hanya sekedar gertakan saja. Monolog hati Andre. Meragukan dirinya karena ucapan Mark.
"Kamu pikir aku takut ancamanmu. Justru kamulah yang akan hancur, siapkan saja mentalmu!" dengus Andre pongah.
Mark memberi kode kepada Dirga dan Roy, dalam sekejap mereka menyergap Andre.
"Apa-apaan ini?" sentak Andre seraya meronta dari bekapan Dirga dan Roy.
"Menyerahkan kamu ke polisi.Kamu harus pertanggung jawabkan semua perbuatan kamu."
Andre berusaha berontak, tapi kekuatan Dirga dan Roy tidak bisa dia lawan. Semakin dia meronta, semakin kuat Dirga dan Roy mengunci dirinya. Akhirnya Andre pasrah saja, percuma melawan mereka.
Andre heran, kenapa Coky dan Riswan tidak bergerak melindunginya. Setidaknya berusaha meski kalah jumlah. Namun Coky dan Riswan malah tenang-tenang saja. Andre mengirimkan sinyal lewat kilatan matanya, tetapi kedua anak buahnya itu tetap tidak bereaksi.
Juga, ketika dirinya diseret paksa masuk ke mobil, lalu dibawa ke barak. Didalam ruangan telah menunggu utusan dari pusat. Andre, menatap nyalang kepada beberapa orang dalam ruanagn itu.
__ADS_1
Dengan kasar Dirga mendudukkan Andre disebuah kursi dan berhadapan langsung dengan tim penyidik dari pusat.
"Ini saudara Andre, Pak, yang mengirim laporan palsu itu," ucap Dirga membuat kening Andre mengernyit heran.
Perlahan Andre mulai paham kalau ulahnya selama ini telah tersingkap. Pasti kedua anak buahnya telah bicara.
Membongkar rahasia dirinya.
Andre menyadari kebodohannya, karena mau kembali ke proyek. Anak buahnya telah berkhianat padanya.
Ah, sungguh sial. Padahal kedatangannya adalah untuk menuntaskan dendamnya pada Mark. Ingin melihat kehancuran Mark secara dekat. Laporan yang ia kirimkan ke kantor pusat telah mendapat respon positif.
Mark akan di depak sebagai kontraktor yang menangani pembangunan proyek jalan dan jembatan di desa Marsada.
Namun, dia malah terjebak sendiri.
"Jadi Anda adalah Pak Andre?" ucap Pak Tio memulai penyidikan.
"Iya, Pak," sahut Andre mulai bersikap tenang.
"Berkas apa, Pak? Saya tidak paham apa yang bapak katakan."
"Tolong kerja samanya, Pak Andre.
Jawab yang jujur apa yang kami tanyakan," ujar Pak Tio dingin.
"Sekali lagi saya tanya apa benar, ini laporan yang Pak Andre kirim pada kami?" Andre mengangguk pasrah, dia tidak berkutik lagi karena sudah terbukti dialah yang mengirim laporan palsu itu.
Seperti seorang pesakitan, Andre ditanya secara marathon tentang semua yang telah dia lakukan di proyek.
Setelah selesai penyelidikan terhadap Andre, serta bukti-bukti yang menguatkan semua perbuatannya itu Andre akan dibawa ke kantor polisi.
Sesaat Andre akan di bawa ke mobil, Mark berjalan di sisi kiri Andre. Tanpa merasa curiga dengan gelagat Andre yang sepertinya tenang sehingga Dirga yang berjalan dibelakang Andre lalai.
Dengan gerak sepertikilat tiba-tiba Andre mengambil sesuatu dari balik jaketnya, dan menusukkan keperut Mark.
Mark yang tidak menduga serangan itu tiba-tiba menjerit dan ambruk. Mark memegangi perutnya yang mengeluarkan darah. Sontak semua terkejut akan ulah Andre.
__ADS_1
Melihat Mark yang ambruk, Andre bergegas lari dan naik ke sebuah sepeda motor yang parkir di luar.
Roy, bergerak cepat mengejar Andre dan berhasil menahan bagian belakang sepeda motor. Karena gugup Andre tidak bisa menyalakan motor dan Roy menendang sepeda motor sehingga Andre terjatuh dan tertimpa sepeda motor itu.
Dirga dan Trisna yang tidak menduga serangan Andre, segera memberi pertolongan ke Mark, yang meregang kesakitan.
Mark segera dilarikan ke puskesmas terdekat.
Sementara itu, Laura yang tengah mengawasi karyawannya memasak beberapa menu di rumah makannya, tiba-tiba menjerit kesakitan karena bayi dalam perutnya menendang keras.
Laura memegangi perutnya seraya meringis kesakitan.
"Ibu kenapa?" seru Lira yang kebetulan didekat Laura. Dibantunya Laura untuk duduk di kursi.
" Ibu tidak apa-apa 'kan?" ucap Lira cemas karena nampak sekali kalau majikannya menahan sakit.
"Sakit, Ra. Ayo, bantu ibu ke rumah sakit," ringis Laura, keringat telah bercucuran di keningnya menahan sakit
"Apa ibu mau melahirkan?" seru Lira panik. Hanya mereka berdua di rumah makan. Pengunjung kebetulan sepi karena velum waktunya makan siang. Sedang temannya lain, sedang keluar mengantar rantangan.
"Tidak Lira, ini belum waktu ibu. Tapi kenapa perut ibu mendadak sakit begini?"
"Ayo, Bu. Aku panggilkan dulu taxi grab," Lira menekan nomor ponselnya memesan taxi. "Sabar ya bu, taxinya akan segera tiba." Lira berusaha menenagkan Laura. Diambilnya air putih danberikanya pada Laura.
Laura meminum air putih itu hingga tandas, lalu menhirup napas dalam- dalam dan menghembuskannya perlaha n. Agar tubuhnya bisa rileks.
Tidak lama taxi segera tiba dibantu supir Laura dipapah ke dalam taxi. Lira mendampingi Laura ke rumah sakit. Lira mengirim chat ke teman-temannya keadaan majikan mereka, tapi belum ada yang bisa balas.
Mark telah tiba di puskesmas, langsung ditangani dokter. Namun karena Mark sempat pendarahan Mark butuh perawatan yang lebih intensif. Mark harus segera di rujuk ke rumah sakit.
Trisna menghubungi Laura, untuk memberitahu keadaan Mark. Namun, tidak ada sahutan karena ponsel Laura terjatuh di rumah makan.
Mark segera dilarikan ke kota untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. Dirga cemas karena Mark tidak sadarkan diri. Sementara keluarga bosnya tidak bisa dihubungi.
"Cepatlah, Roy!" seru Trisna karena khawatir dengan keadaan Mark.
"Ini sudah pull bos, bisa-bisa kita celaka nanti," tukas Roy, harus lebih waspada karena jalan yang buruk.****
__ADS_1