
"Brakk ...!"
"Brakk ...!"
Gedoran kasar di pintu rumah Pak Mirza, mengejutkan istri Pak Mirza. Dengan langkah tergopoh, wanita paruh baya itu membukakan pintu.
"Mana Pak Mirza!" seru salah satu dari tamu yang ternyata anak buah Darman.
"Barusan pergi keluar, pak." Raut wajah istri pak Mirza nampak ketakutan melihat sikap kasar tamunya. Mata tamunya itu jelalatan memandang kedalam rumah.
"Katanya kalian kedatangan tamu dari kota. Mana tamu itu, dan siapa mereka?" sentak sang tamu kasar.
"Itu keponakan saya dan sudah balik lagi ke kota."
"Sialan, kita terlambat," dengusnya geram dan memberi kode pada kawannya untuk segera pergi. Istri pak Mirza mengelus dadanya lega karena para preman itu tidak bertindak kasar.
Sementara itu, pak Mirza telah bertemu dengan Hendro sahabatnya. Kedatangannya disambut acuh, membuat pak Mirza merasa heran atas sikap sahabatnya itu.
"Apa kabar kawan, kudengar putrimu sedang sakit ya?" sapa Pak Mirza hangat tidak memerdulikan sikap acuh temannya itu.
__ADS_1
"Iya, Yeni sedang sakit kami kemarin baru pulang dari rumah sakit."
"Oh, Yeni sakit apa, sampai bolak balik ke rumah sakit?" tanya pak.Mirza turut prihatin.
"Dokter memvonisnya leukimia," hela nafas Hendro terasa berat dan putus asa. Dalam hati, pak Mirza mereka-reka apakah karena butuh biaya berobat untuk putrinya, hingga sahabatnya itu terpaksa tunduk pada kemauan Darman?
Mungkinkah sahabatnya itu terpengaruh karena butuh biaya untuk pengobatan putrinya? Biaya untuk pengobatan penyakit putri sahabatnya itu tentu tidak sedikit.
"Apakah kamu datang untuk putri saya atau hal lain?" selidik Hendro dengan tatapan agak tajam. Pak Mirza jelas melihat keresahan dari sikap Hendro sahabatnya.
"Sebenarnya saya datang untuk keduanya. Kita adalah sahabat lama dan sudah bertahun-tahun saling kenal."
"Baiklah, aku ngomong langsung saja. Aku dengar kabar tidak sedap, kalau kau terlibat dengan kerusuhan di proyek pembangunan jalan itu." Mirza menatap lekat me mata tua sahabatnya, yang mendadak tidak sanggup membalas tatapannya, "apa benar kabar yang aku dengar itu?"
Hendro sedikit terkejut dengan ucapan Mirza, sikapnya membuat kecurigaan dibenak Mirza makin beralasan. Temannya itu mungkin benar telah terlibat.
"Kenapa, Hendro? Aku sudah lama kenal kamu ini sepertinya bukan diri kamu. Aku kenal betul sifatmu, Hendro karena itu aku datang langsung kemari." Mirza mendesah lirih saat melihat sahabatnya itu tertunduk lesu, "apa karena Yeni?"
"Cukup Mirza!" sentak Hendro, "kamu jangan coba-coba mencampuri urusanku."
__ADS_1
"Insyaflah, Hendro. Kamu harus berterus terang dengan keadaan Yeni dan mau bekerja sama dengan para penyidik nantinya. Aku yakin kamu pasti mendapat tekanan dari Darman. Darman itu memamfaatkan kamu dan situasi yang kamu alami." Hendro menghela napas berat.
Apa yang dituduhkan temannya Mirza memang benar. Dia terpaksa menuruti kemauan Darman karena dia terlibat utang untuk biaya pengobatan putrinya.
"Aku mengerti posisimu saat ini, Hendro kamu harus mau bekerja sama nanti agar hukumanmu diperingan. Aku mendengar akan datang penyidik dari pusat untuk menangani masalah ini. Jadi bekerja samalah dengan mereka sebagai saksi untuk kejahatan Darman.
Hendro sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Seharusnya dia sebagai pengayom masyarakat harus melindungi warganya dari bentuk kejahatan. Apalagi karena telah menghalangi pembangunan untuk kemajuan warganya juga. Tentu sanksi untuk kejahatan yang telah dia lakukan akan berat sekali.
Dia harus siap menanggung segala resiko dari perbuatannya itu, apalagi karena adanya korban penculikan, dan belum tau bagaimana nasib mereka.
"Terima kasih sahabatku, karena masih mau mengingatkan kesilapanku. Aku akan berusaha bekerja sama, dengan mereka."
"Baiklah sahabat, aku akan berusah membantumu menyelesaikan masalah ini. Kasihan juga warga kalau pembangunan jalan itu dibatalkan karena bermasalah. Warga sudah lama menunggu pembangunan jalan itu untuk kepentingan kesejahteraan warga." jelas Pak Mirza.
Pak Mirza akhirnya pamit setelah mendengar keputusan Hendro untuk mau bekerja sama mencari siapa dalang dan orang-orang yang terlibat dalam kerusuhan itu.
Sementara, perjalanan Mark yang bergegas kembali ke kota dengan membawa Trisna, Dirga dan Roy berusaha menghindar dari kejaran anak buah Darman.
Deni harus ekstra hati-hati mengemudikan kendraannya karena medan jalan yang berbatu dan menurun.
__ADS_1
Raungan suara motor trail semakin terdengar jelas mengejar pelarian Mark Cs. Adegan kejar-kejaran itu membuat keadaan makin tegang.*****