
Mark terbangun dari tidur sorenya saat mendengar deringan panggilan di ponselnya. Masih dengan mata terpejam, tangan Mark meraba-raba nakas dan menyentuh ponselnya.
Mark membaca nama yang tertera dilayar ponselnya. Arumi! Mark bangkit dari tiduran dan bersandar dikepala ranjang. Mark memantaskan matanya, apakah dia salah baca atau salah lihat.
Namun, nama yang tertera diponselnya tidak berubah. Nama itu memang tetap Arumi berarti dia tidak salah lihat.
"Halo, apa kabar Arumi?" sapa Mark dengan suara berat efek baru bangun tidur.
"Halo, apa kabar mas juga Carry?" sapa Arumi dari seberang.
"Baik, semua dalam keadaan sehat," sahut Mark. Laura tiba-tiba muncul kedalam kamar. Mark menyebut nama Arumi tanpa suara, memberitahukan lewat kode bahwa dia sedang menerima telepon dari, Arumi. Melambaikan tangannya agar Laura mendekat.
Laura yang sudah melihat sebelumnya bahwa Arumi menelepon merasa enggan. Namun, Mark terus melambaikan tangannya dan malah bicara pada Arumi kalau Laura ingin menyapa. Terpaksa Laura mendekat dan duduk disisi suaminya.
"Halo, mbak apa khabar?" sapa Laura berusaha setenang mungkin. Mark mengelus rambut istrinya lalu berpindah ke perutnya.
"Hai, Mark cerita kamu hamil, selamat ya dek. Mbak dan keluarga semuanya sehat. Tadinya mbak mau ngundang kalian datang ke Jakarta, merayakan Natal bersama. Eh, Mark bilang kamu tengah hamil," seru Arumi riang di seberang.
__ADS_1
"Iya mbak,"
"Kalau begitu kami saja yang datang, biar kita kumpul merayakan Natal bersama, bagaimana?" Laura memandang suaminya meminta pendapat.
"Kalau mama gak suka, tolak saja," bisik Mark ketelinga istrinya. Laura diam, tidak mungkin juga rasanya menolak keinginan Arumi, mengingat ini pertama kalinya dia datang setelah apalagi alasannya adalah untuk bertemu Carry.
"Baiklah mbak, aku setuju saja." Laura akhirnya membuat keputusan diujung percakapan mereka.. Mark menatap bingung Laura atas keputusan yang dia ambil. Namun, disisi lain Mark juga senang karena Carry punya kesempatan mengenal ibu yang melahirkannya.
"Mama yakin, menerima usulan itu?" ucap Mark meyakinkan dirinya.
"Mbak Arumi datang untuk Carry, Pa. Mama terlalu egois bila menolak. Bagaimana kalau mama dalam posisi itu?" ucap Laura. Dia memang tidak ada pilihan.
"Papa kok ngomong seperti itu sih?" selidik Laura heran.
"Bukan apa-apa kok, Ma, papa cuma tidak ingin ada kesalah pahaman antara kita." Mark mengelus lengan istrinya.
"Sepanjang kita saling jujur, Pa, kita akan terhindar dari kesalah pahaman." Laura menatap lekat kearah suaminya. Bagaimanapun juga tidak mungkin akan memisahkan Carry dari ibu kandungnya yang telah terpisah sejak kecil.
__ADS_1
"Makasih ya, Ma. Mama memang yang terhebat. Maafkan Papa, bila selama ini belum sempurna membahagiakan, mama."
"Mama sangat bangga kok sama papa. Papa telah membuat mama bahagia dan dihargai.Harapan Mama kita akan seperti ini selamanya saling menjaga." bisik Laura lirih.
"Amin, semoga Tuhan dengar doa kita." bisik Mark.
***
Mark sangat terkejut membaca laporan yang dia terima dari Trisna, dimana dalam laporan banyak yang tidak sesuai dengan kondisi dilapangan. Mark juga melihat beberapa catatan dan foto. Entah dari mana Trisna dapatlan semua laporan itu.
Diantara poto yang dilihat Mark, ada seseorang yang wajahnya sepertinya sudah tidak asing baginya. Wajah itu begitu familiar dan semakin tidak asing dipandangan Mark.
Mark mencoba mencari wajah itu untuk memastikan dugaannya dan mengaitkannya dengan seseorang, benar saja dugaan Mark bahwa wajah itu tak lain adalah Andre, mantan suami dari istrinya.
Ternyata Andre ikut bekerja dalalm proyek yang ia tangani. Dia berbaur dengan yang lain di barak. Ternyata Andrelah yang memicu keributan di barak yang memicu timbulnya kesalah pahaman warga dan para pekerja.
Mark geram sendiri karena begitu mudahnya anak buahnya dipengaruhi oleh Andre. Jadi ini bukti ancamannya tempo hari yang masih akan membalaskan sakit hatinya atas perbuatan istrinya.
__ADS_1
Mark tidak menyangka kalau Andre serius dengan ancamannya dan telah membuktikannya dengan mengacau dalam proyeknya. *****