Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 46, Terbongkarnya kebusukan Ratih


__ADS_3

Mark menelepon Ibu mertuanya dan Bi Surti, supaya datang kerumah sakit untuk gantian jaga karena ada hal penting yang akan dia kerjakan dirumah sehubungan dengan pekerjaannya.


"Halo, Bi, tolong datang ke rumah sakit bersama ibu untuk jaga Laura sebentar."


"Sekarang Tuan?"


"Iya, Bi, setelah anak-anak pergi sekolah. Gak usah bibi bilang pada Ratih kalau saya mau pulang."


"Baiklah, Tuan."


Mark menyimpan ponselnya kembali ke kantong jaketnya. Dipandanginya wajah istrinya yang seperti orang tidur saja. Dokter bilang tekanan darah Laura sudah berangsur normal. Keadaannya sudah makin membaik sejak dipindah ke ruang rawat inap. Itu sebabnya Mark mau pulang kerumah sebentar, untuk salin pakaian juga menginterogasi Ratih.


"Sayang, Papa pulang sebentar ya. Ibu dan bibi bentar lagi mau datang untuk menjagamu, yang kuat ya sayang demi anak kita." Mark mengecup kening istrinya penuh rasa sayang. Mencium telapak tangannya yang bebas dari jarum infus.


Terdengar suara ketukan di pintu. Mark menoleh mertua dan Bibi Surti sudah datang.


"Bu, saya cuma sebentar selepas mandi balik lagi kemari." Mark pamit pada ibu mertuanya, "Mama, Papa pulang sebentar ya," ucap Mark seraya mencium kening istrinya.


"Bagaimana keadaan, Laura?" tanya Bu Rianti pada menantunya.


"Tekanan darahnya sudah menurun, Bu. Kalau terjadi sesuatu pada Laura, hubungi saya ya, Bu." Mark berpesan sebelum pergi meninggalkan rumah sakit.


"Iya, nanti Ibu akan hubungi, jangan lama perginya."


"Baik Bu."


Mark meninggalkan rumah sakit dengan banyak rencana di kepalanya. Ingin memastikan apakah Ratih yang telah menelepon Laura, dan apa yang telah ia katakan pada istrinya.


Sementara itu, dikediaman Mark, Ratih tengah tertawa sepuas-puasnya entah apa yang lucu sampai dia tertawa seperti itu.

__ADS_1


"Hahaha ...." akhirnya rencanaku bisa berjalan mulus. Kubilang juga apa, kalau Mark itu seorang yang munafik. Pura- pura menolakku tapi jauh didalam hatinya menginginkan aku. Buat apa coba dia menerimaku kembali di rumah ini kalau bukan karena menginginkan aku. Begitu istrinya terkapar di rumah sakit tanpa berpikir dia terima aku lagi disini.


Tinggal selangkah lagi aku akan menjadi nyonya di rumah ini. Wajahku cantik, bodyku seksi. Jauh lebih seksi dari istrinya itu." Ratih meracau terus seperti orang kesurupan saja. Dia tidak menyadari kalau setiap tindak tanduk dan perkataannya terekam cctv yang tidak ia ketahui keberadaannya.


Laura memasuki kamar majikannya. Bak seorang penari ballet saja dia berlengak lenggok di kamar itu. Meresapkan aroma di dalam kamar yang begitu adem. Bahkan pikiran ngenesnya membayangkan dirinya tengah bertarung diranjang itu.


Ratih membaringkan tubuhnya di ranjang membaui aroma Mark yang melekat pada bantal. Meresapkannya sepenuh dada.


Ratih mengepak-ngepakkan kaki dan lengannya di ranjang itu.


Puas bermain-main diatas tempat tidur, kini Ratih beralih ke lemari. Ratih membuka pintu lemari pakaian Laura. Mengaduk-aduk koleksi pakaian Laura. Matanya tertumbuk pada sebuah gaun yang begitu manis dengan pola yang simpel.


Gaun sutra itu adalah seragam tidur, Laura. Tanpa ragu Ratih melepas pakaian dari tubuhnya mengantikannya dengan gaun sutra itu.


Ratih terus mematut-matut dirinya didepan cermin. Mengagumi kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Tanpa menyadari kalau sebuah mobil telah memasuki pekarangan. Mark telah sampai di rumah.


Juga ketika Mark melangkah menuju kamarnya. Ratih belum menyadari kehadiran Mark, sang majikannya. Kening Mark mengernyit saat melihat pintu kamarnya terbuka sedikit.


Itu suara Ratih, ngapain dia didalam kamarku? Bisik hati Mark. Perlahan Mark mengintip kedalam kamar. Kedua bola mata terbeliak melihat apa yang terjadi di dalam kamarnya.


Ratih telah mengobrak-abrik kamarnya, dengan lancangnya Ratih masuk kekamar mereka. Bahkan Bi Surti saja tidak mau masuk kamarnya jika tidak terpaksa, karena Lauralah yang selalu membereskan kamar tidur mereka.


Sekarang apa yang dia lihat, sungguh di luar dugaannya. Selain penuh ambisi, Ratih juga rada gila.


Mark mengarahkan kamera ponselnya merekam apa yang dilakukan Ratih di kamarnya saat ini. Selain pakai baju Laura, Ratih juga memakai peralathan make-up istrinya, parfum, serta asesoris lainnya.


Darah Mark mendidih melihat tingkah Ratih, tapi dia belum dapatkan bukti kalau Ratihlah yang telah mencelakakan istrinya.


"Hem, sekarang aku sudah cantik sempurna. Aku pasti bisa menggoda Mark dan memilikinya. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Kamu, Laura, bobolah yang tenang ya. Suamimu akan aku jaga sebaik-baiknya. Dasar kamu memang perempuan bodoh! Percaya saja apa yang aku ucapkan, hahaha ...." Ratih tergelak melihat bayangannya di cermin. Lalu, tiba-tiba wajahnya menegang karena ada bayangan lain dicermin, membuat wajahnya mendadak pucat pias.

__ADS_1


Ratih berbalik dan melihat betapa merahnya wajah lelaki yang barusan dia hayalkan. Ratih beku ditempatnya berdiri, saat menyadari apa yang telah dia lakukan di kamar majikannya.


Seharusnya dia ada dirumah sakit, menjaga istrinya. Bagaimana bisa ada disini? Sialnya, dia ada dikamar majikannya, membongkar lemari istrinya dan memakai pakaian istrinya.


"Dasar perempuan murahan!" sekali sentak tubuh Ratih telah terlempar keluar kamar. Ratih merasakan tubuhnya seolah remuk terbentur lantai marmer, " beraninya kamu masuk kekamar ini dan mengobral abrik milik istriku!" seru Mark murka.


Tidak ada hal yang lebih sakit dan memalukan yang pernah dirasakan Ratih, saat tertangkap basah seperti ini, di kamar Mark. Namun dia tetap bersikap angkuh dan tebal muka.


Ratih, benci kenapa Mark menolaknya. Padahal banyak pria yang mendambanya.Kenapa Mark menolalknya mentah-mentah. Ratih benci sama seperti ayah tirinya. Kalau ayah tirinya dia benci karena telah merusak masa depannya, Mark dia benci kenapa begitu melindungi keluarganya.


"Sekarang jelas semuanya, bahwa kamulah orang yang mencelakakan istri saya, kenapa kamu tega lakukan itu? Apa yang telah kamu katakan pada Laura. Ayo, jawab!" Mark memegang kedua bahu Ratih lalu menghentaknya dengan kasar. Tubuh Ratih kembali membentur lantai dan dia merasakan sakit di tulang ekornya.


Ratih menatap tajam kearah Mark, tepat ke manik matanya. Membuat Mark terperangah sekian detik. Entah apa maksud dari tatapannya. Mark tetap bertahan dengan sikap arogannya.


"Sebenarnya apa yang kamu inginkan, hingga kamu tega hendak menghancurkan keluargaku. Kamu tau tidak, perbuatanmu ini akan membawamu ke penjara!" gertak Mark melumpuhkan tatapan Ratih.


"Justru akulah yang akan menyeretmu ke penjara, hai Tuan angkuh! Kamu tidak punya bukti apa- apa, hahaha ...."


"Rumah ini dipasangi cctv, Ratih. Dan vidio ini akan menjadi bukti kuat kalau kamu telah merencanakan sesuatu yang jahat pada keluargaku." Mark menunjukkan vidio itu, membuat Ratih terkejut.


"Sreettt!" tiba-tiba Ratih merobek gaun yang dia pakai. Ratih menjerit minta tolong seolah Mark hendak memperk**anya. Mark kaget luar biasa! Tidak mengira kalau Ratih akan bertindak senekad itu.


"Ratih! Apa yang hendak kamu lakukan!" teriak Bi Surti yang tiba-tiba telah muncul di ruang tamu, "dasar anak kurang ajar! Tidak tahu diri. Teganya kamu berbuat seperti itu!" ucap Bi Surti menampar kedua pipi Ratih.


"Bibi, Tuan Mark hendak melecehkan aku, Bi. Harusnya bibi melindungiku." beliak Ratih, menahan perih di pipinya.


"Kenapa kamu jadi seperti ini Ratih. Kebohongan apa lagi yang hendak kamu lakukan!" teriak Bi Surti geram lalu kembali menampar kedua pipi Ratih. *****


,

__ADS_1


Mark sama terkejutnya dengan Ratih, melihat kehadiran Bi Surti.


__ADS_2