
Pagi ini tim penyidik dari pusat mengadakan pertemuan dengan Mark juga Trisna, disebuah hotel. Membicarakan masalah proyek yang pelaksanaannya untuk sementara diberhentikan karena insiden kerusuhan antara warga dan pekerja proyek.
"Kami mendapat laporan, kalau Bapak Mark belum membayarkan sejumlah uang ganti rugi kepada warga yang tanahnya digusur," ucap Pak Tio, seraya menyerahkan berkas laporan yang diterima pak Tio. Pak Tio, menatap lekat Mark yang wajahnya mendadak menyiratkan rasa bingung.
"Maksud Bapak apa?" Mark memandang heran kepada utusan dari pusat yang sengaja datang unttuk menangani masalah proyek. " ini fitnah Pak, saya punya bukti kalau saya telah memberikan uang ganti rugi kepada warga." Mark menyerahkan berkas bukti pembayaran sejumlah uang kepada warga komplit dengan kwitansi pembayaran juga foto saat penyerahan uang. Bagaimana mungkin ada laporan kalau dia melakukan penyelewengan.
Mark menatap Trisna keduanya sama- sama terkejut dengan ucapan Pak Tio.
"Bagus, kalau Bapak punya bukti. Kami akan selidiki masalah ini sampai tuntas, siapapun yang terlibat dengan kasus ini akan kami ungkap. Untuk itu kami butuh salinan berkas ini." Pak Tio dengan tegas menyatakan sikapnya. Dia akan menindak siapa saja yang telah bermain dalam kasus itu.
Mark tidak habis pikir siapa kira-kira yang mencoba merusak reputasinya dengan mengirimkan laporan palsu itu. Sampai perwakilan dari pusat turun tangan langsung untuk menangani masalah proyek.
"Saya memberikan kesempatan kepada bapak untuk membuktikan kalau bapak tidak bersalah. Maaf, pertemuan kita cukup sampai disini karena masih ada beberapa hal yang hendak kami urus." Pak Tio dan rekannya segera berlalu, meninggalkan Mark dan Trisna.
"Jadi masalah ini semakin rumit saja. Aku akan meninjau proyek secara langsung dan mendatangi warga apakah mereka diancam seseorang, sehingga mereka mau menandatangani laporan palsu itu." Mark mendengkus geram.
"Baiklah Pak, saya akan mendampingi Bapak." Trisna mengajukan dirinya mendampingi Mark.
"Baik, tolong siapkan perlengkapan yang kita butuhkan disana, dan jangan kasih tau siapapun kalau kita mau ke barak." Mark meminta agar Trisna menjaga rencana rahasia mereka itu.
Saat Trisna menyusun berkas yang yang berserak di meja, selembar foto melayang jatuh dari lembaran kertas itu. Mark memungut foto itu.
"Foto siapa ini, Tris?" Mark memandang aneh ke arah Trisna.
"Foto apa, Pak?" Trisna yang tidak menyadari kalau ada foto yang jatuh dari berkas yang dia susun merasa terkejut melihat apa ditangan, Mark.
"Ini?" Mark mengangsurkan foto itu ketangan Trisna. Itu adalah foto yang sama yang ada dalam laporan yang diserahkan Trisna padanya.
"Oh, itu adalah foto para pekerja proyek Pak. Kemarin 'kan juga sudah ada aku sertakan dalam laporan yang Bapak minta." Trisna mengernyit heran.
"Hem, jadi siapa yang merekrut orang ini, jadi pekerja?" selidik Mark. Menunjuk salah satu dari orang yang ada dalam foto. Wajahnya memang cukup samar karena berdiri dibagian belakang, tapi tesktur tubuh dan wajahnya cukup untuk dikenali, Mark.
"Pak Umar, atas rekomendasi dari saya, Pak. Kenapa, Pak?" delik Trisna heran melihat reaksi Mark atasannya.
__ADS_1
"Jadi kamu yang merekomendasikan dia. Kamu kenal dia dimana?" tatap Mark nanar.
"Dia mengajukan lamaran kerja, Pak, sama seperti yang lain. Memang ada yang aneh, Pak?" selidik Trisna makin heran.
"Sekarang saya sudah paham. Ini pasti ulahnya yang ingin balas dendam pada saya. Licik sekali!" geram Mark.
"Maksud Bapak, apa?" Trisna makin heran saja.
"Aku kenal orang ini, aku yakin dialah yang telah mengacaukan proyek yang aku tangani." Mark mengatupkan rahangnya.
"Maksud Bapak, Pak Rehan dalang dari semua kekacauan ini?" Trisna menatap bingung.
"Rehan? Namanya Andre bukan Rehan. Jadi dia ganti nama ya, agar lolos dari pantauanku. Kurang ajar!" maki Mark makin geram. Tanpa sadar dia menggebrak meja.
"Jadi, Pak Andre dan Rehan itu orang yang sama ya, Pak? Soalnya aku sempat dengar nama itulah yang memberi perintah supaya para pekerja membalas tindakan warga, hingga terjadi bentrok."
"Bisa jadi dia orang yang sama, bahkan mungkin bersekongkol dengan anak buah Darman."
Mark merasa kecolongan karena tidak mengira Andre akan bertindak sejauh itu padanya. Padahal dia begitu hati- hati dalam melakukan pekerjaannya selama ini.
"Beberapa hari sebelum insiden itu, Rehan mengambil cuti Pak. Ada urusan keluarga katanya."
"Hem, alibinya sangat kuat. TapI aku tetap yakin Andre atau Rehan ada dibalik kejadian itu. Bersiaplah, besok pagi kita meninjau proyek."
"Baik Pak, apakah Dirga dan Roy juga ikut."
"Iya, kita berangkat sama-sama. Aku dan Deni, kita jumpa di tempat biasa." Perintah Mark. Untuk menjaga keamanan dirinya, lebih baik dia bersama anak buah kepecayaannya.
*****
"Berapa lama Papa disana?" ucap Laura sambil memasukkan beberapa pakaian Mark ke dalam koper.
"Mungkin cuma dua hari, Ma. Mama tidak apa-apa 'kan ditinggal?" usap Mark ke punggung istrinya.
__ADS_1
Mark memang tidak tega mau meninggalkan Laura, karena istrinya tengah hamil tua. Namun, karena pekerjaannya tengah dalam masalah mau tidak mau, harus meninggalkan keluarganya.
Mark tidak menceritakan masalah yang tengah dia hadapi. Takut berpengaruh pada kemahamilan istrinya.
"Mama baik-baik saja, 'kan?"
"Mama baik-baik saja, Pa. Kenapa Papa ngomong seperti itu?"
"Ah, tidak apa-apa kok, Ma. Papa hanya ingin memastikan kalau mama baik- baik saja sebelum papa ke luar kota." Mark mengelus dan menciumi perut istrinya yang dari hari kehari makin buncit.
Tidak sabar rasanya menanti kelahiran janin diperut istrinya. Itulah sebabnya dia ingin selalu ada didekat Laura, siap siaga.
Namun, karena masalah proyek, membuatnya lebih sering meninggalkan istrinya. Memang sih ada ibu mertua dan bibi, tapi tidak membuat hatinya tenang saat harus meninggalkan keluarganya.
Apalagi kali ini entah untuk berapa hari. Targetnya memang dua hari, karena tidak ingin istrinya cemas saat ditinggalkan.
"Eh, Papa kok malah melamun? Ada apa sih, Pa, apa ada masalah dengan proyek?" Laura mengelus kening suaminya, merapikan rambutnya yang mulai gondrong.
Sejak dia hamil, suaminya tidak mau memotong rambutnya. Katanya nanti setelah dia lahiran baru motong rambut.
"Cuma masalah kecil, Ma. Papa pasti bisa membereskan masalah itu." senyum Mark merekah dan mencuri cium bi**r istrinya. Laura menepuk lembut bahu suaminya atas perlakuannya itu. Terkekeh dan merasa lucu.
Mark malah makin menggoda istrinya dengan berusaha berbuat lebih.
"Ih, Papa makin nakal saja dari hari ke hari," protes Laura pura-pura.
"Abis, Mama selalu bikin Papa gemes setiap harinya," kekeh Mark melepaskan pelukannya. Napas istrinya terengah karena ulahnya.
"Modus, emang Papa makin nakal." Laura memencet hidung mancung suaminya, membuat Mark tersenggal karena pasokan oksigen berkurang masuk. Laura ketawa lepas melihat suaminya yang kewalahan bernapas setelah melepaskan hidung suaminya.
"Ih, Mama nanti Papa kehabisan napas, gimana." Kembali Mark memeluk istrinya, entah kenapa dia ingin bersikap manja pada istrinya. Bercanda dan malas beranjak dari sisi istrinya. Ingin dimanja istrinya, sampai makan malam pun di suapin di kamar. Untunglah Laura tidak menolak, dan meladeni suaminya yang mendadak seperti anak kecil saja.
Sampai Carry dan Bobby menggoda, papa mereka. Mark hanya tertawa dan ikutan menjahili anak-anaknya. *****
__ADS_1
"