Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 47. Ratih ditangkap polisi.


__ADS_3

"Kamu masih mencoba berbohong juga, Tih. Bibi sudahmelihat akal busukmu. Kamu pergi dari rumah ini karena kamu mencoba menggoda Tuan Mark, masih mau berkelit juga." Bola mata Ratih membulat kaget mendengar ucapan bibinya.


"Bibi, dengar dulu ucapan Ratih, semua itu fitnah." Ratih masih berusaha berkelit melindungi dirinya.


"Fitnah? Kamu masih berani berbohong, padahal bibi sudah lihat dan dengar perbuatan kamu. Pakaian itu adalah milik Laura, bagaimana kamu bisa memakainya, hah! Bahkan kamu berani memakai peralatan make- up Ibu Laura tanpa izin." sentak Bi Surti sambil menahan rasa malu akibat perbuatan Ratih.


Mark yang terkejut dengan kemunculan Bi Surti masih diam mematung dan bersyukur Bi Surti datang tepat pada waktunya.


"Maafkan saya Bi, tadi saya sedang membersihkan kamar ibu Laura, dan iseng mencoba pakaiannya. Tapi Ratih gak bohong kalau Tuan Mark tadi mencoba.melecehkan aku." Ratih masih bertahan dengan kebohongannya.


"Cukup Ratih! Hentikan mulut kamu yang busuk itu!" sergah Mark yang mulai kehilangan kesabaran atas ulah Ratih. Mark, menekan nomor di ponselnya. Menyuruh seseorang datang kerumahnya segera.


"Ada apa Tuan?" tanya Bi Surti heran karena Mark menelepon seseorang.


"Baik Ratih, kamu telah memainkan batas kesabaranku. Kita buktikan di kantor polisi apakah benar aku hendak melecehkanmu. Aku punya bukti cukup kuat untuk menjebloskan kamu kepenjara karena telah mencelakai istriku," kecam Mark dingin.


Seketika wajah Ratih memucat pias, mendengar ancaman Mark. Bukan sekedar ancaman sepertinya Mark tidak main-main dengan ucapannya.


"Bibi, tolong Ratih, Bi." Ratih bersimpuh di kaki bibinya, tapi Bi Surti mundur beberapa langkah.


"Bibi tidak bisa menolongmu, Ratih. Apa yang kamu lakukan ini sungguh keterlaluan. Bibi tidak mengira kamu sejahat itu, tega mencelakai majikan bibi yang selama ini sudah bibi anggap keluarga bibi sendiri." Bi Surti menatap kecewa pada Ratih. Kalau tidak menyaksikan sendiri perbuatan keponakannya itu, mungkin beliau akan sulit untuk percaya.

__ADS_1


Saat di rumah sakit tadi, Bi Surti menerima telepon dari Riska. Riska menceritakan semua kelakuan Ratih yang suka ganti-ganti majikan karena mau digoda atau menggoda majikannya.


Bi Surti teringat kalau Mark majikannya pulang ke rumah untuk salin pakaian. Bi Surti takut Ratih akan berbuat nekad lalu pamit sama Bu Rianti untuk pulang sebentar ke rumah. Tanpa curiga, Bu Rianti mengijinkan Bi Surti pulang.


Seperti yang sudah Bi Surti duga, beliau melihat Ratih dicengkram majikannya karena emosi melihat kelakuan Ratih, yang lancang.


Tidak menunggu lama terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Ratih panik dan berusaha membujuk bibinya untuk menolongnya.


"Bibi, tolong Ratih bi. Aku tidak mau masuk penjara," isaknya lirih. Hilang sudah kegarangan hatinya untuk menjebak Mark. Berganti penyesalan yang datangnya terlambat.


"Kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu, Ratih. Bibi benar- benar kecewa sama kamu."


Terdengar suara ketukan dan salam di luar pintu. Bi Surti berlari ke pintu membukakan pintu. Dua orang laki-laki berseragam memasuki rumah. Melihat polisi itu, Ratih makin panik.


"Semua bukti ini sudah cukup kuat untuk diajukan kepengadilan. Kami akan melakukan penyelidikan pada kasus ini. Ayo, bu ikut kami ke kantor polisi untuk menyidikan." Kedua polisi membawa keluar Ratih, setelah mengganti lebih dulu pakaiannya.


Mark dan Bi Surti memandang kepergian Ratih, bersama petugas polisi. Percuma Ratih menghiba belas kasihan dari bibinya dan Mark. Keduanya tak bergeming saat mendengar isakan Ratih.


"Tuan, saya meminta maaf atas kelakuan keponakan saya, pada keluarga tuan," ucap Bi Surti penuh sesal sebab beliaulah yang memohon agar Ratih diijinkan bekerja dirumah majikannya.


"Tidak apa-apa, Bi ini bukan kesalahan bibi. Semoga saja Ratih dapat mengambil hikmahnya dari kejadian itu.

__ADS_1


"Tuan, boleh saya tanya satu hal?"


"Soal apa, Bi?"


"Malam itu, apa yang telah diperbuat Ratih, hingga dia kabur meninggalkan rumah?" tanya bi Surti antusias.


"Saya memang mengusirnya malam itu, Bi, karena berusaha menggoda saya. Saya salah karena tidak jujur waktu itu, karena tidak ingin Laura tau soal ini. Saya pikir denga mengusirnya masalah akan berakhir begitu saja. Tetapi dia nekad menelepon Laura dan memfitnah saya." Akhirnya Mark menjelaskan kejadian malam itu.


Bi Surti sangat menyesalkan sikap majikannya yang tidak berterus terang, tapi semua sudah terlajur. Semoga saja Ratih mau berubah dan menyadari kesalahannya.


"Bibi sama sekali tidak menduga kalau dia berubah seperti itu," sesal Bi Surti.


"Sudahlah, Bi, semua ini akan jadi pengalaman berharga bagi kita semua. Saya mau balik lagi ke rumah sakit Bi, tolong kamarnya dirapiin lagi." Mark masuk kekamarnya untuk mandi dan salin pakaian setelah itu baru kembali kerumah sakit.


Sementara itu di rumah sakit, Laura telah sadar dari komanya.Laura heran mendapati dirinya terbaring di kamar rumah sakit.


Laura melihat ibunya yang tengah tertidur di sofa, sementara suami dan anak-anaknya tidak entah kemana.


Laura mencoba mengingat kenapa dia sampai berada di rumah sakit. Samar- samar ingatanya muncul tentang telepon dari Ratih.


Ratih meneleponnya dan menceritakan sebab dia kabur dari rumah. Rasanya tidak mungkin suaminya berbuat sebejad itu.

__ADS_1


Laura manggil ibunya dengan suara lirih. Bu Rianti terjaga dari tidurnya dan terkejut kalau putirnya telah sadar.


"Laura, kamu sudah sadar nak?" *****


__ADS_2