
Ratih memungut uang yang dilemparkan Mark dihadapannya. Ratih tidak menyangka kalau Mark akan semarah itu padanya. Dalam bayangannya, Mark akan tergoda karena banyak orang yang bilang tubuhnya seksi.
Dengan menahan rasa malu, Ratih segera berlalu dari ruang kerja majikannya. Sebersit dendam bercokol dihatinya. Ratih bernjanji akan menghancurkan kebahagiaan Mark. Lelaki angkuh itu akan dia taklukkan suatu saat. Akan dia buat bersimpuh dan merayap dikakinya.
Ratih mengemasi pakaiannya ke dalam tas ransel. Barang-barangnya memang tidak seberapa. Andai saja tidak hujan deras diluar sana, Ratih akan pergi malam ini juga.
Sepanjang malam Ratih tidak bisa tertidur. Ratih memilih untuk begadang saja, agar kepergiannya besok tidak diketahui bibinya. Ratih tidak ingin mendengar ragam pertanyaan dari bibinya, bila dia kepergok saat meninggalkan rumah.
Menit ke jam yang berlalu terasa sangat lamban sekali. Akhirnya Ratih terkantuk juga dalam duduknya yang memeluk kedua kakinya. Usapan dinginnya angin malam membuatnya kalah dan bergelud dalam lembaran mimpi.
Ratih memimpikan Mark. Dalam mimpinya melihat Mark berjalan dengan Laura menyusuri pantai. Keduanya tertawa begitu hangat, pancaran kasih dari wajah keduanya begitu jelas terpeta membuat rasa iri dihati Ratih makin menggunung.
Mereka berpapasan tapi keduanya mengabaikan kehadirannya ditempat itu. Bahkan Mark mencumbu istrinya didepan Ratih. Membuat kemarahan Ratih tak terbendung lagi.
Ratih terus mengikuti langkah keduanya, hingga mereka berdiri diatas batu karang. Saat lengah Ratih mendorong Laura hingga terjatuh ke laut. Mark meloncat ke laut untuk menyelamatkan istrinya. Dari atas batu karang Ratih melihat Mark yang berhasil menyelamatkan istrinya dan membawanya ke darat.
Namun sial bagi dirinya, tiba-tiba gulungan ombak besar datang menghantam dirinya membuatnya tenggelam dan dipermainkan ombak.
"Agh ...." Ratih terjaga dari tidurnya. Napasnya tersenggal dan melihat kesekeliling. Ternyata dia masih hidup dan cuma bermimpi.
Ratih melihat bibinya yang masih tertidur pulas disampingnya. Jam yang mengantung didingding kamar sudah berada diangka empat. Sebentar lagi bibinya pasti bangun dan memulai aktivitasnya.
Ini saatnya Ratih harus pergi. Berbekal uang yang diberikan Mark, Ratih akan mencari tempat kost. Ratih baru menyaadari kalau Mark adalalh sosok yang baik, karena uang yang diterimanya cukup banyak lebih dari yang ia dapatkan dari majikannya yang dulu mengusirnya.
Namun, terlambat menyadari semua itu. Dia terlalu dikuasai nafsu dan iri yang tidak pada tempatnya, tapi sesalnya hanya sesaat. Ratih terlanjur menyimpan dendam dihatinya.
Perlahan Ratih menuju pintu, memutar anak kunci, membuka dan menutup kembali pintu itu.
__ADS_1
"Ratih." langkah kaki Ratih terhenti saat mendengar panggilan dari bibinya. Wajahnya menegang dibalik pintu menunggu pintu itu akan terbuka. Selang beberapa detik, tidak ada gerakan dari dalam kamar.
Huf! Ratih mengelus dadanya lega. Pasti bibinya mengigau lagi. Ratih bergegas keluar dari gerbang samping. Hawa dingin menembus hingga ketulangnya begitu dia berhasil keluar dari kamar, bercampur dengan keringat karena ketegangan yang melanda dirinya saat itu.
Jaket yang dia kenakan tidak mampu melindungi tubuhnya dari rasa dingin, hingga giginya mengeluarkan suara gemeletuk
Ratih meloncati tanah yang basah dan kubangan air bekas hujan semalam. Jalanan masih sepi, melompong. Baru satu dua kenderaan yang melintas.
Ratih berpikir keras hendak pergi kemana pagi itu. Dia tidak mungkin pulang kekampungnya. Dia akan menjadi makanan empuk bagi ayah tirinya. Lelaki biadab itulah yang pertama kalinya menjerumuskan hidupnya.
Merenggut kegadisannya, menghancurkan impian dan masa depannya. Ratih menggigit bibir bawahnya, menahan perih sekaligus dingin yang menyergap.
Setitik air mata bergulir dipipi Ratih saat kembali mengingat masa kelam itu. Masa yang membuatnya nekad melarikan diri dari kampung dan menjadi seorang pembantu berkat bantuan temanya Riska.
Ditempat kerjanya itu apa yang dilakukan ayah tirinya terulang lagi. Berdanya dia menyukai lelaki itu. Anak dari majikannya. Ratih terlalu naif karena mengira itu adalah cinta saat lelaki itu menggodanya.
Rasa yang berulang kali ditawarkan Roy, membuatnya lupa diri. Lupa kalau dirinya hanya seorang pembantu. Tidak jarang justru dia yang menuntut Roy. Apa yang telah dilakukan Ayah tirinya dulu telah membentuknya menjadi pribadi yang tidak dia kenal. Ada sisi liar dalam dirinya yang membuatnya seolah ketagihan dan kehausan ***.
"Jalan saja dulu Pak, nanti saya bilang mau kemana." Ratih mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Membuka aplikasi berlambang telepon warna hijau. Mencari dan menekan sebuah nomor.
Panggilannya tidak diangkat, Ratih mengulang lagi hingga panggilan yang ketiga ada sahutan dari seberang.
"Hai, Ratih, tumben pagi-pagi begini manggil aku?" sahut Riska dari seberang.
"Maaf Ris, aku butuh bantuan kamu."
"Soal apa, Ra, kerjaan ya?"
__ADS_1
"Salah satunya iya. Tapi yang lebih mendesak, aku mau numpang dulu ditempat kamu buat sementara, boleh?"
Terdengar helaan napas berat, Riska. Membuat Ratih merasa tidak enak.
"Baiklah Ratih, kamu boleh datang sekarang." Riska akhirnya mengiyakan permintaan Ratih dengan berat hati. Bukannya tidak mau menolong sahabatnya itu tapi dia teringat kelakuan Ratih.
Ratih juga merasakan kalau Riska terpaksa menerimanya tinggal sementara di kontrakannya. Ratih tidak punya siapa-siapa lagi yang dia kenal di kota ini, selain Riska dan bibinya.
Rencananya tinggal hanya sementara menunggu dia dapat pekerjaan.
"Pak, ke Jalan Kenanga ya." Ratih berteriak ke supir becak yang membawanya. Supir becak itu mengganguk, lalu berbelok ke arah kanan sesuai arah yang disebut Ratih.
Lebih kurang dua puluh menit, Ratih sampai di rumah kos Riska. Riska menyambut sahabatnya itu biasa saja.
"Kamu punya masalah apa, pagi-pagi begini meninggalkan rumah majikanmu, Tih?" tanya Riska heran, " bi Surti udah tau kamu pergi atau kamu malah tengah melarikan diri."
Ratih diam saja tidak berani menatap Riska. Tidak mungkin dia cerita yang sejujurnya, bisa-bisa saat itu juga Riska akan mengusirnya.
"Aku tidak betah, Ris, taulah majikanku itu banyak tingkahnya. Sikit-sikit marah, sebal!" Ratih berdusta alasan kepergiannya.
"Padahal 'kan ada Bi Surti harusnya kamu lebih aman disana. Kamu saja mungkin yang gak sabaran buktinya bi Surti betah disana sampai bertahun- tahun." selidik Riska.
Belum juga ada sebulan, Ratih sudah tidak betah bekerja ditempat baru. Padahal Riska merasa tempat kerjanya yang baru itu cukup nyaman karena ada bibi Surti.
Entah apa yang berkecamuk dihati sahabatnya itu. Terkadang Riska seolah tidak mengenali diri Ratih lagi. Perubahan sikap sahabatnya itu sekarang sangat jauh berubah dari yang dulu.
Riska beranjak ke kamar mandi. Dia harus bergegas karena mau pergi bekerja. Dia tidak ingin ambil resiko terjebak dalam kemacetan bila berangkat kesiangan.
__ADS_1
"Ris, kalau kamu tau ada pekerjaan, kasih tau aku, ya."
"Iya," sahut Riska dari kamar mandi asal saja. Entah sudah keberapa kali Riska mencarikan pekerjaan buat Ratih, tapi ujungnya selalu bermasalah. Selain itu Ratih sangat pemilih dan maunya kerjanya ringan tapi gajinya besar. Hadeuh. *****