
Deni masih berusaha tancap gas, untuk menghindar bentrokan dengan kelompok geng motor anak buah Darman.
Tapi usaha Deni, gagal. Salah satu dari motor itu berhasil menyusul dan menghadang didepan.
Hampir saja Deni menabrak motor itu kalau saja Deni tidak menginjak rem. Suara decit ban yang mendadak berhenti, sangat menyakitkan telinga.
"Bagaimana sekarang Pak?" tanya Deni pada Mark.
"Mari kita hadapi. Siap-siap saja," ucap Mark memberi aba-aba. Mark melihat jumlah lawan mereka sama. Berarti bisa satu lawan satu.
Mark keluar perlahan dari mobil diikuti yang lain. Mereka menghindar bukan karena pengecut, hanya menghindari agak suasana tidak makin panas. Namun, bila memang tidak bisa lagi dihindari, siapa yang takut.
Mark menatap tajam ke lelaki yang menghadang mereka.
"Ada apa ini?" teriak Mark lantang serta berdiri disisi mobil bersiaga.
"Kalian membawa tawanan kami, yang melarikan diri." ucap lelaki itu garang.
"Hah, tawanan? Kalian telah menculik orang, itu sama saja sebuah tindakan kejahatan. Apa hak kalian bertindak begitu?"jawab Markbalik membentak.
"Jangan ikut campur urusan orang jika ingin selamat, ya." ancam lelaki itu dan turun dari motornya.
Bersamaan dengan itu, pengendara motor lain tiba menyusul dan bergerak cepat kearah temannya.
"Justru kalianlah yang mencampuri urusan kami dengan menimbulkan kerusuhan diproyek. Apa kalian juga ingin berakhir seperti bos kalian mendekam dipejara?" sergah Mark memberi ancaman. Tangannya terasa gatal juga ingin menghajar para cecunguk yang tidak tahu diri itu.
"Jangan banyak bacot kau!" lelaki itu segera menyerang Mark. Buru-buru Deni, Dirga, Trisna dan Roy bergerak ke sisi Mark. Berhadapan dengan pengendara lainnya.
Perkelahian tidak terhindarkan lagi. Dua kubu yang bertikai saling berusaha melumpuhkan lawannya.
Ternyata, pihak Mark nampak berada diatas angin, dengan mudah mereka melumpuhkan anak buah Darman yang gayanyanya saja sok jago.
Mark adalah penyandang sabuk hitam masa mudanya. Begitu juga Deni dan Dirga. Mark cs melumpuhkan lawannya dengan mudah. Mereka terkapar ditanah tak berdaya, menghadapi bogem mentah yang dilancarkan Mark dan anak buahnya.
__ADS_1
Ternyata hanya dimulut saja seringai mereka. Meneror warga dengan sikap arogan mereka.
Mark menarik tubuh salah satu anak buah Darman yang terkapar ditanah dengan wajah yang sudah babak belur.
Mark memaksanya berdiri dengan menarik leher kemejanya.
"Aku peringatkan sama kalian, jangan pernah lagi membuat onar terutama menghalangi proyek pembangunan jalan itu, paham!" ancam Mark lalu melepaskan tubuh tak berdaya itu kembali hingga jatuh ke tanah.
Kelima orang tak berdaya itu mengangguk ketakutan. Dengan susah payah mereka menghampiri motor mereka dan segera meninggalkan lokasi.
"Awh!" Mark.mengusap bibirnya yang pecah akibat tendangan musuhnya tadi.
"Bapak baik-baik saja?" ucap Deni, saat melihat wajah Mark ada tanda merah bekas pukulan lawan mereka. Sebenarnya lawan mereka cukup tangguh juga. Hanya saja karena mereka bertarung terlalu emosi, sehingga serangan mereka banyak yang dipatahkan sang lawan yang lebih tenang.
"Tidak apa-apa. Ayo, kita segera pergi. Jangan sampai mereka datang lagi menyusul dengan pasukan mereka." Mark mengajak pergi. Kelimanya masuk mobil kembali dan melanjutkan perjalanan.
Mereka harus segera kembali ke kota untuk menyambut utusan dari pusat dan membicarakan banyak tentang proyek yang bermasalah.
"Wajah papa kenapa?" tanya Laura saat melihat sudut bibir Mark yang memerah.
"Awh, sakit ma," ringis Mark saat jemari istrinya menyentuh bibirnya.
"Mama ambilkan es, buat ngompres ya, Pa?" Mark hanya mengangguk lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang.
Tidak berapa lama Laura kembali ke kamar dengan sebongkah es dan handuk kecil ditangannya untuk mengompres mulut suaminya.
"Papa kenapa sampai wajahnya bisa begini? Mana ada tanda biru lebam lagi, nih." Laura mengusap wajah suaminya.
"Papa tidak apa-apa sayang, cuma luka lecet saja." Mark mengelus perut Laura yang semakin buncit. " mama tidak apa- apa 'kan selama papa tinggal?" Mark mencium perut istrinya dengan lembut.
"Mama sehat kok, Pa." Laura memasuklan bongkahan es ke handuk kecil lalu mengompreskanya kemulut suaminya dengan lembut.
"Syukurlah, Ma, Papa senang mendengarnya." Mark menatap lembut istrinya. "sudah Ma, biar Papa saja yang pegangin." Mark mengambil alih handuk dari tangan istrinya.
__ADS_1
"Pa, kemarin ada petugas polisi datang kemari soal masalah Ratih." Laura memulai percakapan tentang kasus Ratih. Mark yang memejamkan matanya meresapkan rasa dingin es66 dibibirnya, membuka matanya tiba-tiba.
"Apa kata petugas, Ma?" Mark bergerak duduk dan bersandar dikepala ranjang.
"Mama jawab aja seperlunya, Pa. Sebenarnya mau nemui Papa, sehubungan papa gak ada yah, nanya ke mama."
"Maafin papa, ya ma. Seharusnya papa jujur saja waktu itu, sehingga masalah tidak berlarut-larut seperti ini. Tujuan Papa biar saja papa yang mengatasinya, tapi Ratih orangnya nekad dan ambisius. Malah menyalah artikan sikap papa." Mark meraih tangan istrinya. Mencium telapak tangan Laura, dan membawanya ke salam dadanya.
"Sudah, Pa. Mama percaya kok sama, Papa."
"Papa kangen sama mama," Mark meraih tubuh Laura kedalam pelukannya. Rasa rindunya yang bergolak pada kehangatan tubuh istrinya melahirkan hasrat yang mengaliri setiap ujung syarafnya.
Napas Mark menderu saat menc**mi leher jenjang Laura. Laura mendesah karena suaminya selalu mampu membangkitkan hasrat yang sama dalam dirinya.
Keadaan dirinya yang tengah hamil, malah membuat hasrat suaminya suka muncul tiba-tiba. Laura selalu berusaha memenuhi tuntutan suaminya seperti saat ini. Sesuai dengan saran dokter, bersenggama dalam.keadaan hamil, tidak apa-apa selagi fisiknya kuat dan janin sehat. Laura merasa tidak ada masalalh dengan keduanya.
Laura makin mendesah, karena suaminya memperlakukaknya dengan lembut. Melakukan foreplay sebelum melakukan hubungan intim. Sehingga kwalitas hubungan mereka makin kuat.
Mark selalu membuat istrinya nyaman saat mereka berhubungan intim, sehingga Laura bisa rileks dan mengikuti hasrat suaminya.
"Pah, ah ...." ******* panjang Laura mengahiri hasrat mereka . Mark juga merasakan nikmat yang luar biasa dari pelayanan istrinya. Mark, membaringkan dirinya disisi Laura, tersenyum puas lalu mengecup pipi istrinya lembut.
"Makasih, ya ma." bisik Mark sebelum akhirnya tertidur seraya sebelah tangannya masih memeluk Laura.
Laura bangkit dari ranjang, dan pergi kekamar mandi membersihkan dirinya. Selarik senyum puas menggerimit dikedua belah bibirnya saat melihat suaminya terpuaskan, seperti saat ini.
Laura mengusap perutnya disaat sapuan bedak baby terpoles diwajahnya. Polesan liptin juga dia toreh ke bibirnya yang penuh. Lalu kembali membaring dirinya disisi suaminya. Mencoba tidur beberapa saat, sebelum senja turun.
Tapi baru saja tubuhnya rebah, Laura mrndengar suara panggilan di ponsel suaminya. Laura meraih ponsel itu, masudnya hendak melihat siapa yang memanggil. Laura melihat nama mantan istri Mark dilayar ponsel.
...Saat Laura hendak menjawab, panggilan itu mati. Laura menunggu tapi panggilan itu tidak datang lagi....
Laura menjadi heran dan bertanya- tanya dalam hati. Namun akhirnya memutuskan meletakkan kembali ponsel itu keatas nakas. ****
__ADS_1