Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab, 37.


__ADS_3

Mark sangat terkejut mendengar ucapan istrinya. Kalau pagi itu saat Arumi mendatanginya ternyata Laura tau dan mengikuti mereka. Bahkan istrinya juga mendengar pembicaraan mereka.


"Maafkan papa, papa tidak bermasuk berbohong. Hanya saja saat itu, Papa berpikir memberi ruang privasi buat, Arumi. Bukan maksud Papa menghianati mama." Mark menatap Laura dalam-dalam.


"Mama tidak berpikir sejauh itu, Pa. Mama cuma kecewa, Papa tidak terbuka soal mbak Arumi." Mark kembali memeluk tubuh istrinya.


"Papa janji tidak lakukan itu lagi." Mark mengusap-usap punggung Laura. Laura mencium aroma suaminya, seketika membuatnya mual dan ingin muntah.


Bergegas Laura berlari kembali ke kamar mandi, tapi dia hanya memuntahkan air ludah.


"Ada apa ini kenapa tidak ada makanan yang aku muntahkan." Laura merasa lemas.


Mark menyusul ke kamar mandi, dan melihat Laura begitu lemas.


"Ma, sebaiknya kita ke dokter saja. Tidak baik menganggap sepele hal begini." Mark makin cemas.


"Menjauh pa, Mama tidak suka aroma tubuh papa." Laura melarang Mark mendekat.


"Hah, ada apa dengan aroma Papa?" Mark mengendus aroma tubuhnya dan tidak menemukan hal yang aneh. Tapi kenapa istrinya bertingkah aneh begini


"Mama! Jangan-jangan Mama hamil?" seru Mark, membuat Laura kaget juga.


Laura menghitung siklus haidnya. Laura tersadar dia sudah telat beberapa minggu.


"Sepertinya iya, Pa. Mama udah telat beberapa minggu." Laura keluar dari kamar mandi berpegangan pada tangan Mark.


"Besok kita periksa ya, Ma. Semoga benar mama hamil." Mark merengkuh bahu Laura. Senyumnya mengembang, bahagia.


"Kita sudah hampir seminggu liburan di sini, Pa. Kita pulang saja besok, gimana?"


"Baiklah, besok saja kita kasih tau anak- anak. Sekarang mama, istirahat dulu. Papa mau memeriksa pekerjaan sebentar, siapa tau ada laporan masuk." Mark meraih laptop diatas meja kecil disisi ranjang.


Meletakkannya diatas pahanya, lalu memeriksa beberapa laporan dari anak buahnya. Namun, laporan yang masuk hanya beberapa saja, cuma laporan rutin jadwal pekerjaan anak buahnya. Selebihnya tidak ada. Mark kembali menutup laptopnya. Mengembalikan keatas meja kecil.


Mark menarik selimutnya hingga batas lehernya. Diliriknya, Laura yang sudah tertidur. Diusapnya lembut kepala Laura dan mengecup keningnya.


Baru juga Mark mau memejamkan matanya, ketika tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah pangilan dari Arumi. Mark ragu, untuk menerimanya. Diliriknya Laura yang sudah terlelap.


Mark keluar dari kamar dan menerima panggilan itu.


"Selamat malam, Mas." sapa Arumi diseberang.

__ADS_1


"Ya, selamat malam. Kalian sudah tiba di bandara?" ucap Mark saat melihat foto yang dikirimkan Arumi.


"Iya, Mas, barusan. Tapi kami batal berangkat malalm ini"


"Delay?"


"Iya, Mas. Carry, sudah tidur?"


"Sudah, dari tadi."


"Laura?"


"Sepertinya sudah, dia kurang enak badan. Tadi muntah terus."


"Masuk angin mungkin. Sudah ke dokter?"


"Besok pagi saja."


"Oh, iyalah Mas. Titip salam buat semuanya. Selamat malam." Arumi memutus panggilan karena katanya mereka mau menuju hotel.


Mark kembali masuk kekamar dan berjingkat naik ketempat tidur.


Hari masih pagi sekali, ketika Laura terjaga, kembali dia muntah-muntah. Akhirnya Mark menelepon petugas hotel, untuk memanggilkan dokter.


Petugas hotel itu memberikan nomor seorang dokter yang sudah menjadi langganan karyawan hotel, dan sudah biasa datang kalau dipanggil.


Dokter muda itu memeriksa keadaan Laura. Menuliskan resep untuk ditebus.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?"


"Selamat ya, pak. Istri bapak hamil. sudah memasuki empat minggu. Jadi tolong lebih hati-hati, ya. Ibu jangan banyak pikiran atau stres, ya." dokter itu segera pamit begitu selesai memeriksa Laura.


"Mama sakit apa, mama jangan sakit." Carry dan Bobby menerobos masuk ke kamar orang tua mereka, begitu dokter keluar dan pergi


"Mama tidak apa-apa sayang, cuma masuk angin dan kelelahan." Laura mengusap kepala Carry dan Bobby yang naik ketempat tidur.


"Oh, itu sebabnya Mama semalam muntah terus ya?" ucap Carry seraya memijat lengan Laura.


"Carry dengar juga ya. Udah, jangan khawatir Mama baik-baik saja. Ayo, sana mandi biar pergi jalan-jalan sama Papa. Soalnya kita mau pulang."


"Hah, kapan Ma?"

__ADS_1


"Tunggu Mama sehat dulu. Rencananya kita mau pulang hari ini." tukas Mark yang membawakan semangkuk sup untuk Laura. "Ayo, anak-anak sarapan dulu, ya. Papa mau suap mama makan dulu." Carry dan Bobby bergegas ke kamar mereka untuk mandi. Tanpa menunggu dua kali perintah Laura.


"Ayo, Ma, Papa suapin ya. Mulai sekarang mama harus jaga kesehatan. Mama gak boleh capek atau mikirin yang gak-gak, biar bayi kita sehat." Mark meraba perut Laura yang masih datar.


Laura mengangguk dan menurut saja saat disuapi.


Dengantelaten, Mark merawat istrinya. Memanjakannya denga penih perhatian. Membuat hati Laura terharu. Dia ingat saat kehamilannya yang pertama, perlakuan mantan suaminya, Andre, sangatbjauh berbeda dengan Mark.


Andre tidak pernah mau tau betapa berat perjuangan Laura, saat trimester pertama kehamilannya. Begitu juga ibu mertuanya, saat dia melahirkan.


Melihat perhatian Mark, dan perlakuannya yang lembut membuat keraguannya tentang cinta suaminya sejak pertemuan dengan Arumi, perlahan terkikis.


Mark juga berusaha menjaga perasaan istrinya yang sensitif sejak kehamilannya.


Setelah kepulangan mereka dari liburan, pengawasan Mark pada istrinya makin ketat. Berkali-kali Laura protes, karena suaminya mendadak jadi posesif.


"Mama, ngapain di dapur? Aduh, hati- hati, Ma." Mark bergegas mengambil sapu dari tangan Laura.


"Nanti Mama kecapean, gimana. Kan udah ada bibi yang ngurus dapur, Mama gak usah turut campur.


"Aduh, Pa. Mama bisa- bisa stres kalau apa- apa mama gak boleh pegang. Mama udah terbiasa bekerja. Itu baik loh untuk janin daripada diam mulu, ngemil, nonton, duh pusing Pah!" protes Laura.


"Semua demi kebaikan, Mama toh. Mama fokus aja sama calon dede. Kasihan kalau dia nanti lelah juga, kalau Mama banyak kegiatan." Mark mengelus-elus perut Laura yang makin buncit. Menempelkan wajahnya lalu mencium perut Laura.


Laura hanya bisa diam, kadang dia merasa lucu dan tertawa melihat ulah suaminya.


Tidak jarang Carry dan Bobby mengejek papa mereka saking memanjakan Laura.


"Sudah Pa, malu tuh ada ibu," bisik Laura karena ibunya tengah menonton tidak jauh dari tempat mereka duduk.


"Nenek lagi asyik nonton, iya kan dede," ucap Mark. Sambil memijiti kaki Laura yang membengkak.


"Kaki Mama, bengkak begini, ya?"


"Ya, iyalah, abis Papa terlalu manjain Mama, sih. Apa-apa gak boleh pegang. Semua makanan dijejalkan, apa gak membengkak badan Mama."


"Buat kesehatan Mama dan si dede juga, toh."


"Pa, Mama mau ke kamar, ngantuk." Laura mau merasakan pinggangnya sakit, dan ingin tiduran di kamar.


Laura merasa gerah, mengganti dasternya yang sudah pengap oleh keringat. Saat Mark melihat tubuh istrinya salin pakaian, tiba-tiba hasratnya bergelora. Sudah beberapa bulan ini dia tidak pernah menyentuh, istrinya. *****

__ADS_1


__ADS_2