
Mark mendekati Laura, memeluknya dari belakang. Menc**m tengkuk istrinya penuh hasrat.
"Ih, Papa ngapain sih?" Laura mengelinjang geli saat diperlakukan suaminya seperti itu. Mark membisikkan sesuatu ditelinga, Laura.
"Ini masih siang lo, Pa. Ntar lagi anak- anak mau pulang." Laura mencoba mengelak dari serangan suaminya yang makin panas.
"Makanya buruan, Ma. Papa udah lama puasa ini. Papa kangen." gelendot Mark manja. Matanya bersinar redup karena telah dikuasai hasrat yang menuntut.
Laura menatap iba suaminya yang terpaksa puasa beberapa bulan ini. Karena setiap kali suaminya mendekatinya Laura akan mual dan muntah. Sehingga mereka sampai tidur pisah. Saking tak kuatnya Laura mencium aroma suaminya.
Laura sendiri bingung, bisa-bisanya dia begitu pada kehamilannya yang kedua. Sewaktu hamil dan mengandung Bobby nyaris dia tidak punya masalah apa-apa. Beda jauh dengan sekarang ini.
Katanya hal itu karena bawaan janin, seiring waktu akan berubah juga.
Dengan sepenuh hati, Laura menuruti keinginan suaminya atas tuntutan hasratnya. ******* dan lenguhan Laura, membuat Mark makin cepat mengayuh hasratnya untuk segera tiba ditujuan.
Meski hamil, ternyata istrinya masih mampu menyeimbangkan permainan Mark, membuat Mark makin melayang. Hingga mereka tiba dipuncak penyatuan hasrat mereka.
"Makasih ya, Ma." Mark mengecup kening istrinya dan tersenyum puas atas pelayanan Laura. Mark tertidur pulas, disisi Laura. Melihat suaminya telah tidur, perlahan Laura bangkit dari ranjang untuk mandi.
Seusai mandi, Laura mengenakan daster dengan motif bunga-bunga kecil berwarna kuning. Membuat kulit Laura tampak cerah dan wajahnya semakin terlihat manis.
Selesai berdandan, Laura keluar dari kamar. Mendampingi ibunya yang masih asyik menonton.
"Ceritanya seru ya, Bu?" sapa Laura. Wanita tua itu tersenyum melihat kehadiran putrinya yang duduk disebelahnya. "Carry dan Bobby mana, Bu. Apa mereka sudah pulang?" ucap Laura saat melihat jam di angka empat.
"Sudah, mereka lagi di kamar. Tadi mencari kamu, tapi ibu bilang kamu sedang istirahat," ucap Bu Rianti.
"Oh, iyalah, Bu. Ibu mau Laura buatkan susu? Laura lapar nih." Laura menawarkan sama Bu Rianti apa mau dibuatkan susu, karena dia mau buatkan susu untuk dirinya.
"Gak usah, ibu tadi sudah minum susu. Suruh aja bibi yang buatkan, nak."
"Biar Laura bikin sendiri, Bu. Biar banyak gerak." Agak susah juga Laura berdiri, karena perut buncitnya.
__ADS_1
"Oh, ya ibu hampir lupa tadi si bibi, kedatangan tamu. Mau ngasih tau kamu, tapi kamu sedang istirahat."
"Siapa, Bu?"
"Katanya keponakan Bi Surti. Mereka di dibelakang."
"Oh, iya Bu. Nanti bibi pasti ngasih tau." Laura berjalan menuju dapur. Baru juga dia megang gelas, si bibi sudah datang menghampiri.
"Bu Laura mau ngapain, biar bibi saja yang buatkan." Bi Surti meraih gelas dari tangan Laura.
"Gak apa, Bi. Cuma mau buatkan susu aja. Bibi ada tamu ya? Tadi ibu cerita."
"Iya, Bu. Keponakan bibi dari kampung. Namanya Ratih. Dia diberhentikan majikannya dan belum dapat pekerjaan. Jadi Ratih minta tolong buat sementara tinggal disini. Sebelum dia dapat pekerjaan, Bu." Bi Surti menjelaskan soal Ratih keponakannya.
Laura merasa iba, tapi dia tidak berani memutuskan sendiri apakah Ratih boleh tinggal untuk sementara bersama dirumahnya.
"Iya nanti saya tanya bapak dulu, Bi."
"Jangan lupa ya, Bi. Sekalian dengan biskuit yang di kaleng merah itu juga dibawa, ya." Laura meninggalkan dapur, kembali ke ruang tamu. Karena sudah sore, Laura pergi kekamar untuk membangunkan suaminya.
Ketika Laura tiba di kamar, suaminya sudah tidak ada di tempat tidur. Suara gemercik air terdengar dari kamar mandi.
Laura menyiapkan pakaian Mark dan meletakkannya diatas sofa. Kemudian Laura merapikan tempat tidur yang berantakan. Bekas pertempuran mereka tadi.
Mark keluar dari kamar mandi, sambil bersiul- siul. Saat melihat istrinya berada di kamar mandi, siulan Mark terhenti.
"Hem, istri Papa cantik banget." Mark menempelkan wajahnya diperut Laura.
"Duh, Papa, rambutnya masih basah gini. Tuh, liat daster Mama dah ikutan basah." protes Laura. Ditariknya handuk yang membelit pinggang suaminya. Lalu melap tubuh dan rambut suaminya.
Mark duduk di sofa agar Laura leluasa melap sisa-sisa air di kepalanya.
"Tuh, 'kan dah kering. Nih, pakaian Papa. Mama tunggu di ruang keluarga, ya." Mark segera memakai pakaian pilihan istrinya. Celana bermuda warna coklat susu dan T- shirt dengan warna senada, melekat pas di tubuh Mark. Menonjolkan wajah maskulinnya.
__ADS_1
Mark keluar dari kamar, menyusul istrinya ke ruang keluarga. Mark mengernyitkan dahinya saat melihat istrinya duduk berbincang dengan Bi Surti, dan seseorang yang belum dia kenal.
Mark mengambil tempat duduk disisi Laura.
"Ini Ratih, Pa, keponakan Bi Surti dari kampung. Bibi minta izin supaya Ratih tinggal untuk sementara di sini, sebelum dapat pekerjaan." Laura menuturkan perihal Ratih.
"Oh, gak apa-apa, Bi. Boleh kok." Mark mengiyakan.
"Tadi Mama bilang sama Bibi, kalau Ratih mau kerja disini saja bantu Bibi. Biar kerjaan Bibi lebih ringan."
"Ide, yang bagus, Ma. Apa Ratih nya, mau?"
"Iya, Pak, Ratih mau kerja disini. Terima kasih atas kebaikan Bapak dan Ibu," ucap Ratih penuh hormat. Kepalanya tertunduk dalam tidak berani melihat calon majikannya. Hanya sekilas saja dia melihat Mark.
Dalam hatinya Ratih sangat mengagumi ketampanan wajah Mark. Wajah dan postur tubuhnya tampak begitu sempurna. Sangat cocok bersanding dengan Laura. Beruntung sekali Laura memiliki, Mark.
Dibanding Roy, putra majikannya masih kalah jauh dengan Mark. Meski sudah berumur tiga puluhan lebih, masih tampan dan gagah. Benak Ratih terus berbisik mengagumi, Mark, hingga Ratih tidak fokus saat Mark bertanya dimana dia bekerja sebelumnya.
"Ratih, kamu kok malah bengong sih?" Bi Surti menyenggol kaki Ratih karena diam saja dan tidak menjawab pertanyaan, Mark.
"Ada apa, Bi?" ucap Ratih gelagapan.
"Bapak nanya, sebelumnya kamu kerja dimana dan kenapa keluar?" bisik Bi Surti agak kesal. Heran saja karena Ratih mendadak seperti orang linglung.
"Eh, Maaf Pak, Bu , Ratih keluar karena tidak betah. Gaji saya tidak sesuai dengan pekerjaan yang saya lakukan." Ratih berbohong, yang sebenarnya adalah Ratih dipecat karena menggoda anak majikannya.
Kepada Bi Surti, Ratih juga berbohong. Bi Surti percaya saja karena setaunya sewaktu di kampung, Ratih adalah anak yang rajin dan baik. Bi Surti tidak tau setelah bekerja di kota Ratih telah berubah.
Ratih yang dulunya polos kini sudah menjadi perempuan yang suka menggoda.
"Ya, udah kalau Ratih bisa bekerja dengan baik dan rajin, kami akan sesuaikan gaji kamu dengan sepantasnya." Mark, meyakinkan Ratih.
"Makasih, Pak Bu. Ratih bisa diterima kerja disini saja sudah membuat Ratih senang. Ratih janji, akan bekerja dengan baik." Senyum mengembang di bibir Ratih. Seiring hadirnya rencana jahat dibenaknya. *****
__ADS_1