Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku
Bab 44. Pembalasan Ratih.


__ADS_3

"Halo, selamat siang, ini siapa ya?" Laura menyahut sapaan dari nomor yang tidak dia kenal.


"Ini saya, Bu, Ratih."


"Eh, kamu ada dimana sekarang, Ra? Bisa-bisanya kamu pergi tanpa pamit, Bi Surti sedih sejak kepergian kamu, Ra." Laura mengutarakan kesedihan Bi Surti


atas kepergiannya.


Tiba-tiba Ratih menangis sesegukan, saat diingatkan sola bibinya. Namun, itu hanya akal bulusnya saja, untuk memikat simpati Laura.


"Ra, kamu kenapa nangis."


"Sebenarnya saya pergi dari rumah ibu karena di usir Bapak."


"Apa? Kamu diusir bapak, kok bisa?" beliak Laura kaget antara percaya dan tidak. Tidak mungkin suaminya mengusir Ratih dari rumahnya begitu saja. "Ra, kamu jangan memfitnah suami ibu, ya."


"Ratih gak bohong, Bu, sumpah." Ratih meleletkan lidahnya ke arah ponselnya.

__ADS_1


"Ratih tidak mau menuruti kemauan bapak, makanya Ratih diusir." Ratih tersenyum lebar karena hasutannya mulai mengena.


"Cukup, Ratih. Kamu jangan kurang ajar begini. Memangnya suami ibu ingin apa dari kamu yang masih bau kencur." Laura membentak Ratih karena telah memfitnah suaminya.


"Bapak menginginkan tubuh Ratih, Bu, tentu saja Ratih gak mau tapi bapak marah dan mengusir Ratih."


"Kamu pikir Ibu percaya dengan semua bualan kamu ini, Ra. Suami Ibu tidak serendah yang kamu bilang. Dasar, kamu yang kegatelan dan mau menggoda suami Ibu. Ibu kenal seperti apa suami ibu." Laura mematikan ponselnya. Dadanya turun naik menahan amarah. Apa mungkin suaminya seperti itu. Sedikitpun Laura tidak percaya ucapan Ratih.


Namun, akibat dari ucapan Ratih membuat tekanan darah naik.


"Kalau ibu tidak percaya, terserah." sebuah notif masuk ke ponsel Laura. Ratih tertawa diseberang sana setelah menyerang Laura dengan cerita bohongnya.


Laura juga teringat kecurigaan suaminya kenapa mereka bisa tidur bersamaan malam itu seusai makan malam. Apakah suaminya menyembunyikan sesuatu padanya? Suaminya bilang sempat menyuruh Ratih membuatkan kopi untuknya. Mungkinkah suaminya menggunakan kesempatan itu menggoda Ratih atau sebaliknya.


Laura merasakan kepala sakit memikirkan perkataan Ratih. Laura keluar kamar untuk memanggil ibunya karena kepalanya mendadak sakit. Namun, saat berhasil membuka pintu kamar, Laura merasakan tubuhnya linglung dan pandangannya mengabur.


"Bu Laura!" teriak Bi Surti yang baru muncul dari dapur hendak mengantarkan susu untuk Bu Rianti, terkejut melihat Laura yang ambruk di pintu kamar.

__ADS_1


Bergegas Bi Surti meletakkan susu itu diatas meja. Bu Rianti yang terkejut dengan teriakan bi Rianti spontan menoleh kearah kamar putrinya.


Beliau sangat kaget melihat Laura yang jatuh terduduk di pintu kamar. Dengan langkah tertatih disusulnya bi Surti.


"Ya, Tuhan, apa yang terjadi. Laura kenapa Bi?" Bu Rianti mengguncang tubuh putrinya.


"Tidak tau Bu. Tiba-tiba saja aku melihatnya jatuh." Bi Surti merasa cemas melihat keadaan Laura.


"Bi, hubungi Mark dulu biar puĺang segera.


"Iya bu," Bi Surti menelepon Mark, tapi tidak aktif. "Bu, nomornya tidak aktif." sahut Bi Surti panik.


"Coba ulangi lagi, Laura harus segera ke rumah sakit." Bi Surti kembali menelepon Mark, setelah panggilan yang ke empat baru ada sahutan. Saat itu ternyata Mark sedang ada pertemuan. Ponselnya di silent.


"Halo, Bi, ada apa?"


"Tuan, Bu Laura jatuh pingsan."

__ADS_1


"Apa? Iya, saya segera datang, Bi. Posisi ibu jangan diubah, biar tetap seperti itu, Bi."


"Baik tuan," *****


__ADS_2