
"Ada apa, Pa?" Laura yang belum tertidur pulas, melihat wajah panik dan cemas suaminya.
"Eh, Mama belum tidur, ya? Tidak ada apa-apa, tadi Trisna telepon memberi laporan." Mark tidak ingin melibatkan istrinya dengan masalah pekerjaan dilapangan.
"Ada masalah ya, Pa, dengan pekerjaan?" selidik Laura curiga. Mark terpaksa mengiyakan.
"Cuma soal pembebasan lahan, Ma. Sepertinya besok Papa harus meninjaunya ke lapangan."
"Oh, begitu ya, Mama tidur lagi ya, Pa." Mark mengangguk dan membetulkan selimut istrinya. Mengganjal tubuh Laura dari depan dan belakang agar posisi istrinya nyaman saat tidur. Mengusap perut Laura dan menyapa calon bayinya.
"Ih, Papa nakal ya, dek?" guman Laura saat Mark menciumi perutnya dengan gemas. Mark tertawa mendengar gumanan istrinya dengan mata terpejam.
Setelah memastikan Laura tertidur, Mark keluar dari kamar menuju ruang kerjanya. Mark membuka laptopnya dan menghubungkannya dengan Trisna tapi tidak tersambung.
__ADS_1
Mark mencoba lewat ponselnya, setelah panggilan yang ketiga baru ada respon dari Trisna.
"Halo, Pak!" terdengar sahutan Trisna di seberang.
"Bagaimana situasi disana Tris, sudah terkendali?" tanya Mark perlahan.
"Polisi sudah datang mengamankan, Pak. Provokatornya sudah ketangkap juga. Ternyata warga dihasut sehingga terjadi kesalah pahaman, Pak." Trisna menceritakan kronologi terjadinya demo warga.
"Syukurlah kalau keadaan sudah kondunsif. Besok saya akan datang meninjau lokasi." Mark mengutarakan rencananya.
"Tapi, saya ingin mengevaluasi situasi disana, Tris. Untuk memberi laporan ke pusat." Mark ngotot dengan rencananya.
"Tapi, Pak, aku takut terjadi sesuatu bila mengetahui keberadaan bapak disini. Soalnya mereka mencari bapak juga ke marin." Trisna menceritakan saat warga meneriakkan nama Mark.
__ADS_1
Mark makin penasaran saja dengan penjelasan Trisna. Tadi menyuruhnya untuk datang meninjau ke lapangan. Sekarang malah melarangnya untuk datang. Apakah ada yang disembunyikan Trisna darinya. Jangan-jangan keadaan disana sedang genting. Tidak ingin melibatkan dirinya karena keadaan istrinya.
"Tris, kamu jujur saja dengan kondisi disana. Biar saya minta bantuan dari pusat." tiba-tiba hubungan terputus. Entah karena jaringan atau sebab lain membuat Mark jadi gelisah. Padahal Trisna belum sepenuhnya mendengar perkataannya.
Mark kembali menghubungi Trisna, tapi tidak berhasil. Juga teman-temannya yang lain untuk mencari tau berita pembangunan jalan itu.
Hingga akhirnya menjelang tengah malam seseorang mengirim pesan ke ponselnya untuk melihat berita di televisi.
Ternyata berita demo pembangunan jalan yang tengah ditangani Mark telah tersiar di televisi. Warga menolak pembangunan jalan dilanjutkan karena pembebasan tanah belum selesai dan pembayaran ganti rugi belum sepenuhnya dibayarkan. Sementara laporan yang diterima Mark, masalah pembebasan tanah sudah selesai.
Lantas siapa yang bermai dibalik semua masalah ini. Apakah Trisna atau dari kantor pusat? Mark benar-benar pusing dan jawaban hanya akan dia peroleh bila terjun langsung ke lapangan. Namun, kenapa Trisna melarangnya, padahal dia sempat menyuruhnya untuk datang kelokasi.
Apakah Trisna saat ini sedang mengalami kesulitan atau tengah terancam? Sepanjang sisa malam, Mark tidak dapat memincingkan matanya, karena pikirannya tidak mau lepas dari kejadian tentang proyek yang tengah dia tangani.
__ADS_1
Mark menghubungi beberapa rekannya yang terlibat dalam proyek pembangunan jalan itu. Dari data yang dia peroleh memang telah terjadi manipulasi perusahaan terhadap warga yang tanahnya tergusur, akibat pembangunan jalan itu.
Masalahnya siapa dalang dibalik semua ini? Mark terus mencari kemungkinan siapa yang terlibat, tapi hingga kepalanya terasa mau pecah, dia belum juga menemukan titik terang.*****